KHD

REVOLUSI PENDIDIKAN KI HADJAR : TUJUAN, PAEDAGOGI, DAN ISI

Yang dimaksud dalam kosa kata REVOLUSI disini adalah perubahan cara berpikir yang disertai dengan tindakan. Ki Hadjar Dewantara (1922) menemukan bahwa cara untuk melawan kolonialisme adalah dengan cara yang digunakan oleh kolonialisme, yaitu Pendidikan. Maka, revolusi Pendidikan Ki Hadjar yang bernuansa politik anti kolonialisme diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu :

  1. Tujuan Pendidikan
  2. Pedagogi
  3. Isi

 

 

TUJUAN PENDIDIKAN

Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka1Pendidikan kolonialisme Belanda yang mengutamakan Intelektualistis, Materialistis, dan Individualistis, telah menjauhkan anak dari masyarakatnya dan dari alamnya. Oleh karena itu, paradigma itu dilawan oleh Ki Hadjar dengan paradigma yang memperhatikan Kodrat Alam dan Jaman anak. Pendidikan tidak boleh menjauhkan anak dari alamnya dan keluarganya. Maka,

  1. Pendidikan berbeda dari Pengajaran. Dalam hal ini, Ki Hadjar membedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin. .

  1. Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat.

  2. Pendidikan itu bersifat hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memer-dekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

  3. Pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

  4. Pendidikan adalah tempat  dimana benih-benih kebudayaan yang hidup  dalam masyarakat kebangsaaan dan kebudayaan disemai agar  unsur-unsur peradaban dan kebudayaan tersebut dapat tumbuh sebaik-baiknya dan dapat diteruskan kepada generasi  ke generasi.

  5. Pendidikan Budi Pekerti atau Karakter, yaitu bulatnya jiwa manusia, bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan yang akan menumbuhkan enerji jiwa manusia sebagai makhluk individu dan sosial dan dapat memerintah atau menguasai dirinya sendiri, mulai dari gagasan, pikiran, atau angan-angan hingga menjadi tindakan atau sebagai manusia yang beradab dan itulah tujuan Pendidikan Indonesia secara garis besar

  6. Pendidikan karakter untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa harus dimulai sedini mungkin bagi seluruh anak bangsa. Pemikiran Ki Hadjar yang menarik bagi Pendidikan untuk membangun bangsa Indonesia adalah Wirama yaitu sifat tertib serta hidupnya laku yang indah sehingga dapat memberi rasa senang dan bahagia.

  7. Pendidikan memiliki kekuatan untuk melakukan perubah-an guna membangun bangsa secara sistematis dan sistemik ke arah yang lebih baik dengan cara melihat ke keadaan yang tidak dikehendaki saat ini dan kemudian menentukan tujuan serta langkah yang dibutuhkan untuk mewujudkan masyarakat yang dikehendaki di masa yang akan datang sebagai koreksi terhadap kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu dan harapan digantungkan agar kehidupan yang akan datang lebih menye­nangkanlebih demokratislebih merakyat, dan lebih manusiawi dibanding yang ada sekarang.

  8. Pendidikan menyangkut usaha untuk memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Kemerdekaan itu bersifat tiga macam yaitu: [1] berdiri sendiri, [2] tidak tergantung kepada orang lain, [3] dan dapat mengatur dirinya sendiri. Dengan demikian, kemerdekaan itu berarti manusia sebagai mahkluk individu dan sekaligus sosial dapat mengatur ketertiban hidupnya dalam berhubungan dengan kemerdekaan orang lain

Sembilan butir makna Pendidikan menurut Ki Hadjar di atas kemudian terangkum dalam Tri Rahayu.

 

TRI RAHAYU

  1. Hamemayu Hayuning Sariro, yang berarti pendidikan berguna bagi yang bersangkutan, keluarganya, sesamanya, dan lingkungannya. Disini sangat jelas apa arti manusia sebagai makhluk individu dan sosial.

  2. Hamemayu Hayuning Bongso, yang berarti pendidikan berguna bagi bangsa , negara, dan tanah airnya. Butir ini juga ditekankan di panca darma Ki Hadjar dan 10 Pedoman Guru.

  3. Hamemayu Hayuning Bawono, yang berarti pendidikan berguna bagi masyarakat yang lebih luas lagi yaitu dunia atau masyarakat global.

Oleh karena itu,  Ki Hadjar Dewantara, sesuai dengan filosofi pendidikan yang dibangun, mendefinisikan Pendidikan Nasional, sbb.:

Pendidikan Nasional adalah Pendidikan yang berdasarkan garis hidup bangsanya (kultural-nasional) dan ditujukan untuk keperluan peri kehidupan maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negeri dan rakyatnya sehingga bersamaan kedudukan dan pantas bekerja sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia diseluruh dunia.

Secara empirik, pendidikan Yunani Athena dan Yunani Sparta telah menjelaskan bagaimana disain pendidikan itu membentuk ke dua bangsa itu secara berbeda. Oleh karena itu, pemikiran Ki Hadjar yang telah mandahului bangsanya itu adalah Paradigma Pendidikan Indonesia.

Disamping itu, sangat jelas tergambar bahwa Ki Hadjar melihat Pendidikan sebagai TUJUAN, STRATEGI, dan TAKTIK untuk meninggikan KEADABAN MANUSIA. Kemerdekaan manusia itu hakiki sifatnya, kontekstual pada saat itu secara pisik kolonialisme terjadi, namun, kolonialisme tidak secara pisik juga terjadi, yaitu penjajahan pikiran dan pribadi. Maka, kemerdekaan yang dimaksud oleh Ki Hadjar bukan hanya kemerdekaan secara pisik namun juga pikiran dan batin manusia. Oleh karena itu, Pengajaran dan Pendidikan Nasional harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar semangat cinta bangsa dan tanah air terpelihara.

Secara empirik pula, jejak-jejak pemikiran Ki Hadjar terhadap Pendidikan Indonesia bisa dilihat di BPUPKI, 10 Pedoman Guru (1946), Definisi Pendidikan di UU pertama Pendidikan NKRI No 4 Th 1950 Jogja, penataan sistem pendidikan Indonesia pasca kolonialisme, dan UUD 1945. Maka, bisa dipahami bila tiga menteri Pendidikan NKRI di awal proklamasi berasal dari Tamansiswa, yaitu Ki Hadjar Dewantara, Ki Mangunsarkara, dan Ki Sarino. Bahkan Rektor UGM Prof Dr M Sardjito menegaskan2:

“dalam lapangan pengajaran diciptakan olehnya sistem paedagogik dan metodik baru. Sistem Pendidikan nasional Indonesia dipertimbangkan olehnya dalam teori dan praktek, didasarkan atas kodrat dan alam Indonesia. Sistem itu sekarang masih dapat dipakai. Masyrakat mengetahui hal ini. Tinggal terserah kepada ahli-ahli daripada generasi sekarang dan yang akan datang, untuk melanjutkan sistem itu sesuai dengan bentuk masyarakat yang akan datang”.  

Selanjutnya,  Prof Dr. M. Sardjito3 juga menegaskan bahwa:

sistem penddikan Ki Hadjar Dewantara itu dikehendaki merupakan alat untuk mencapai tujuan yang besar, yaitu kebudayaan nasional.

PAEDAGOGI

Pendidikan adalah proses, maka agar tujuan Pendidikan seperti yang dimaksud oleh  Ki Hadjar terwujud, di lapangan pendidikan sekolah diciptakan sistem, pedagogik dan metoda baru.

1. PAMONG

Pemikiran Ki Hadjar mengenai guru, bukan hanya sebagai seorang pendidik dan pengajar namun juga sebagai values system transformer yang merupakan bagian dari proses kaderisasi kepemimpinan perjuangan bangsa. Menurut Ki Hadjar, pendidikan harus sesuai dengan kodrat keadaan anak, yaitu :

  1. Masa kanak-kanak 1-7 tahun
  2. Masa pertumbuhan Jiwa dan Pikiran 7-14 tahun
  3. Masa terbentuknya Budi Pekerti atau Kesadaran Sosial, 14-21 tahun

Maka ketiga pembagian masa pendidikan tersebut juga menuntut perlakuan yang berbeda dari pendidik dan diterapkan di Taman Siswa sesuai dengan tahapannya.

Tiga Mong (“o”) dalam Mong bahasa Jawa dibaca seperti bunyi “o‘ dalam bahasa Indonesia dorong, kosong, tong, yang terdiri dari Momong, Among, dan Ngemong (“e”) dalam bahasa Jawa dibaca seperti “e” dalam bahasa Indonesia pada kata senang, menang, tenang . Tiga Mong diterapkan dalam proses pendidikan dan pengajaran seiring dengan perjalanan proses pendidikan siswa dari mulai tahap paling awal hingga sudah dewasa dan siap masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Momong dalam bahasa Jawa berarti merawat dengan tulus dan penuh kasih sayang serta mentransformasi kebiasaan-kebiasaan atau membiasakan hal-hal yang baik disertai dengan doa dan harapan agar kelak buah rawatan dan kasih sayangnya menjadi anak yang baik dan selalu dijalan kebenaran dan keutamaan.

Among dalam bahasa Jawa berarti memberi contoh tentang baik buruk tanpa harus mengambil hak anak agar anak bisa tumbuh dan berkembang dalam suasana batin yang merdeka sesuai dengan dasarnya, erat kaitannya dengan azas ke tujuh dari Tujuh Azas Taman Siswa yaitu :

Azas pengabdian dan kesucian hati, dengan tidak terikat lahir atau batin, serta dengan suci hati, berniatlah kita berdekatan dengan sang anak. kita tidak me minta suatu hak, akan tetapi menyerahkan diri akan berhamba kepada sang anak”

Dalam proses wulang wuruk, atau pengajaran tentang nilai kebaikan dan keburukan yang disertai dengan contoh perilaku, di tahap ini, pengenalan hukuman sesuai bagi pelanggaran terhadap norma dan disiplin dilakukan sesuai dengan kodratnya.

Ngemong dalam bahasa Jawa berarti proses untuk mengamati, merawat, dan menjaga agar anak mampu mengembangkan dirinya, bertanggungjawab dan disiplin berdasar nilai-nilai yang telah diperolehnya sesuai dengan kodratnya.

Dalam sikap yang Momong, Among, dan Ngemong terkandung nilai yang sangat mendasar yaitu pendidik tidak memaksa namun demikian tidak berarti membiarkan anak berkembang bebas tanpa arah. Kata Pamong berarti Guru berperan dalam tiga Mong sesuai dengan fasa pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dengan demikian, Sistem Pamong berarti sistem dimana tiga Mong diterapkan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak dan Guru memerankan diri untuk Ngemong, Among, atau Momong.

2. SISWA SEBAGAI PUSAT PEMBELAJARAN

Model ini sangat revolusioner di tahun 1922, apalagi di Indonesia dibawah pemerintahan Hindia Belanda yang penuh nuansa penjajahan. Dalam metode ini, pusat kegiatan beralih dari guru ke siswa dimana siswa belajar secara aktif dan bekerjasama dengan teman-temannya untuk menyelesaikan masalah serta menemukan ilmu pengetahuan. Co-education diberlakukan dimana siswa yang memiliki kelebihan membantu temannya. Guru sebagai Pamong beralih fungsi sebagai pendamping belajar dan fasilitator.

3. WIRAMA

Pendidikan karakter untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa itu harus dimulai sedini mungkin bagi seluruh anak bangsa. Pemikiran Ki Hadjar yang menarik bagi Pendidikan untuk membangun bangsa Indonesia adalah Wirama yaitu sifat tertib serta hidupnya laku yang indah sehingga dapat memberi rasa senang dan bahagia.

Wirama itu tidak lepas dari kodrat alam seperti keteraturan alam, keindahan alam, sifat alami alam yang ritmik. Di samping itu, dengan mengutip seorang ahli psikologi dan ilmu pendidikan Dr Rudolf Steiner, Ki Hadjar mengungkap bahwa Wirama : [1] mempermudah pekerjaan, [2] mendukung gerak pikiran, [3] mencerdaskan budi pekerti, dan [4] menghidupkan kekuatan dalam jiwa manusia. Inilah syaraf paling penting untuk pendidikan karakter bangsa untuk membangun peradaban bangsa dan membedakannya dari peradaban equity dan equality dalam paham liberalisme yang mengkultuskan individu dan materialisme.

Wirama akan membiasakan manusia menghargai harmomi dalam keragaman, hal yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman bawaan. Dengan harmoni maka manusia akan selalu menyelaraskan hidupnya dengan lingkungannya serta menjaga kemerdekaannya dengan menghargai kemerdekaan orang lain. Wirama itu ada dalam adat-istiadat, tata-krama, kebiasaan setiap etnis suku bangsa.  

ISI

Hakekat Pendidikan dan Pengajaran

Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. 

Di samping itu, Pengajaran yang tidak berdasarkan semangat kebudayaan dan hanya mengutamakan intelektualisme dan individualisme yang memisahkan satu orang dengan orang lain hanya akan menghilangkan rasa keluarga dalam masyarakat di Seluruh Indonesia yang sesungguhnya dan menjadi pertalian suci dan kuat serta menjadi dasar yang kokoh untuk mengadakan hidup tertib dan damai. Tiga butir penting Pengajaran Rakyat menurut Ki Hadjar:

  • Pengajaran rakyat harus bersemangat keluhuran budi manusia, oleh karena itu harus mementingkan segala nilai kebatinan dan menghidupkan semangat idealisme.

  • Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kecerdasan budi pekerti , jaitu masaknya jiwa seutuhnya atau character building.

  • Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kekeluargaan , yaitu merasa bersama-sama hidup, bersama-sama susah dan senang, bersama-sama tangung jawab mulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Jangan sampai di sistem sekolah umum sekolah menjauhkan anak dari alam keluarganya dan alam rakyatnya.

Maka, Ki Hadjar menekankan agar dalam pendidikan memperhatikan :

  1. Kodrat Alam
  2. Kemerdekaan
  3. Kemanusiaan
  4. Kebudayaan
  5. Kebangsaan

 

________________

1  Ki Hadjar Dewantara, Buku I

2 Prof. dr. M Sardjito, Penganugerahan Dr HC Ki Hadjar Dewantara, UGM, Sri Manganti, 1956

3  Ibid