SARI PATI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

4Upaya untuk memahami ajaran Ki Hadjar Dewantara sebagai Perintis  Kemerdekaan, Perintis Pendidikan, dan Perintis Kebudayaan Indonesia1, atau sebagai Bapak Politik Nasionalisme Indonesia2 dan sebagai pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922 berarti harus merentang perjalanan hidup Ki Hadjar Dewantara sejak 1900 sebagai penanda peralihan perjuangan pisik ke perjuangan politik untuk melawan penjajahan Belanda hingga ke Kongress Majelis Luhur Taman Siswa 1956, tiga tahun sebelum beliau wafat. Dengan rentang waktu yang panjang tersebut pergoalakan jiwa Ki Hadjar akan terlihat dalam benang merah pemikiran beliau sehingga bisa diambil sari patinya.

 

Timeline KHD1

 

Menurut Ki Hadjar, Pendidikan Nasional adalah Pendidikan yang berdasarkan garis hidup bangsanya (kultural-nasional) dan ditujukan untuk keperluan peri kehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negeri dan rakyatnya sehingga bersamaan kedudukan dan pantas bekerja sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia diseluruh dunia3

Definisi Pendidikan Nasional ini diucapkan oleh beliau pada saat penganugerahan gelar Dr HC UGM pada tahun 1956, tiga tahun sebelum beliau wafat. Artinya, itu merupakan testamen beliau setelah secara praktik dan teori  bukan hanya dalam dunia pendidikan namun juga sebagai aktifis pergerakan  dan patriot bangsa. Maka, itu tentu merupakan kontemplasi luar biasa dari tiga peran tersebut. Tentu menarik untuk menyibak pemikiran Ki Hadjar sampai pada kesimpulan tersebut.

I.  Indische Party

Dari awal 1900 di STOVIA hingga Indische Party 1912, pemikiran Ki Hadjar didominasi oleh perlawanan terhadap kolonialisme. Perlawanan Ki Hadjar berbentuk tulisan-tulisan yang sangat provokatif dan mencerminkan pergolakan jiwa beliau,  dan itu  membuat Ki Hadjar  dibuang  ke Bangka yang kemudian diasingkan ke Belanda bersama Nyi Hadjar.

II. Pencerahan di Belanda

Di Belanda, Ki Hadjar belajar ilmu pendidikan dan memperoleh akte pendidikan. Pada saat itu sedang berkembang Contemporary Alternative Education Movements di Eropa dan India dan Ki Hadjar mempelajari “Pedagogical Method Advocating  Freedom and Spontaneity” Maria Montessori, Sistem Pestalozzi, sistem Dalton, Humanitarian School SystemGrundvig’s People’s University System, Rudolf Steiner’s Anthroposophical Education, dan Rabindranatah Tagore’s  Vishva Bharati School di Shantiniketan. Bahkan Nyi Hadjar mengajar Kinder Garten di Frobel School yaitu sekolah anak-anak dengan sistem Frobel.han Pada tahap ini Ki Hadjar memperoleh pencerahan berupa model pendidikan yang kelak akan mewarnai model Pendidikan Taman Siswa.

III. Momentum

Tahun 1920 timbul cita-cita baru yang menghendaki perubahan radikal dalam lapangan pendidikan dan pengajaran yang merupakan gabungan kesadaran kultural dan kebangkitan politik yang merupakan idam-idaman kemerdekaan Nusa dan Bangsa sebagai jaminan kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan lndonesia4. Fasa ini ditandai oleh  Kumpulan SAKA yang diprakarsai oleh Ki Soetatmo Soerjokoesoemo, kependekan dari Selasa Kliwonan, yaitu tempat bertemunya para dan perintis kemerdekaan pada hari Senin malam dan menurut pasaran Jawa Kliwon pada Hari Selasa. Bagi orang Jawa, malam Selasa Kliwon dianggap sebagai malam yang baik untuk tirakat atau tidak tidur untuk membahas hal-hal yang baik bagi masa depan. Disamping Soekarno yang sering ahdir di pertemuan, juga putra HB VII Ki Ageng Suryo Mataram yang sangat patriotik hingga menanggalkan atribut pangeran yang memperoleh gaji dari Belanda karena semangat anti kolonilaisme beliau. Salah satu tantangan Ki Ageng Suryo Mataram  yang terkenal adalah “Kita jumlahnya lebih banyak mengapa tidak bisa mengusir mereka ?”  Capstone dari pertemuan SAKA adalah berdirinya Nationaal Onderwijjs Instituutdan SAKA kemudian bubarkarena tujuan telah tercapai.

IV. Nationaal Onderwijjs Instituut atau Perguruan Nasional Taman Siswa

Prinsip dasar yang membingkai sistem pendidikan Taman Siswa adalah KEKELUARGAAN. Prinsip ini yang kemudian menghilangkan seluruh atribut manusia sehingga muncul rasa SAMA RASA dan sebutan Ki, Nyi, dan Ni di Taman Siswa. Ini sekaligus pengejawantahan olah rasa dan olah batin yang terus dikembangkan dalam proses pendidikan di Taman Siswa yang terdiri dari :

  1. Taman Indriya
  2. Taman Muda
  3. Taman Madya
  4. Taman Dewasa
  5. Taman Guru

Olah Rasa dan Olah Batin adalah ciri khas Pendidikan Taman Siswa  yang akan membuat siswa berkembang seutuhnya melalui seni dan tari sesuai dengan tahapan perkembangan sensori siswa.  Olah Rasa dan olah batin ini pula bekal bagi pengembangan kebebasan substantif yang sangat penting, yaitu kapabilitas elementer, untuk meninggikan human capability  [Amartya Sen, Development as a freedom, 1998]. Dalam konteks demokrasi terpimpin Ki Hadjar (Democracy dan Leidershap], peningakatan human capablity  ini sangat penting agar manusia memiliki semakin banyak alternatif pilihan karena demokrasi dipimpin oleh kebijaksanaan.

Dalam konteks demokrasi, Ki Hadjar mengutip Serat Gendhing Sultan Agung yang intinya berpesan bahwa sembayang akan batal bila tidak dilandasi oleh kesucian hati terhadap dhat Allah yang maha suci. Disamping itu Ki Hadjar juga mengutip  Ki Sutatmo Suryokoesoemo, yaitu Demokrasi zonder wijsheld is een ramp voor ons Volk! atau Demokrasi tanpa kebijaksanaan adalah bencana bagi orang-orang kami  [Soetatmo Surjokusumo, Volksraad].  Selanjutnya, Ki Hadjar menyebut kearifan yang melandasi pernyataan Soetatmo Sjokoesoemo di Volksraad itu, yaitu :

  • Keindahan membatasi kekuasaan
  • Kekuasaan memuja cinta kasih
  • Kebijaksanaan melihat Kebenaran dan Keadilan

Berulang kali Ki Hadjar menekankan masalah demokrasi ini, bahkan hingga di Kongres II Majelis Luhur Taman Siswa 1956, dan menyebut  demokrasi yang dipimpin oleh Kebijaksanaan lebih beradab dari demokrasi yang hanya berdasar jumlah kertas suara.

Dengan demikian, Olah Rasa dan Olah Batin, disamping Oleh Pikir dan olah Jasmani adalah pemikiran Ki Hadjar  yang sesuai dengan tujuan Pendidikan Hamemayu Hayuning Manungso yang diurai dalam tiga fasa yaitu :

  1. Hamemayu Hayuning Sariro
  2. Hamemayu Hayuning Bongso
  3. Hamemayu Hayuning Bawono

Disamping itu, Ki Hadjar juga menekankan agar dalam Pendidikan memperhatikan Panca Dharma, yaitu :

  1. Kodrat Alam
  2. Kemerdekaan
  3. Kemanusiaan
  4. Kebudayaan
  5. kebangsaan

Butir #1 hingga #3 itu sifatnya universal seperti halnya Contemporary Alternative Education Movements di Eropa dan India, namun butir #4 dan 5 adalah unik Ki Hadjar sesuai dengan kodrat alam dan jaman bangsa Indonesia. 

Oleh karena itu, kemerdekaan menjadi isu kritis dalam Pendidikan Ki Hadjar karena menyangkut usaha untuk memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Namun, disisi yang lain, kemerdekaan itu bersifat tiga macam yaitu: [1] berdiri sendiri, [2] tidak tergantung kepada orang lain, [3] dan dapat mengatur dirinya sendiri. Dengan demikian, kemerdekaan itu berarti manusia sebagai mahkluk individu dan sekaligus sosial dapat mengatur ketertiban hidupnya dalam berhubungan dengan kemerdekaan orang lain. Atau, manusia Indonesia adalah Makhluk individu sekaligus sosial. Ini sejalan dengan Pestalozzi mengenai konradiksi dalam diri manusia.

Semangat kemandirian ini, dalam Hamemayu Hayuning Sariro, bukan hanya  membuat seseorang berdaulat secara pribadi namun juga berkepribadian. inilah dasar dari Trisakti yang diucapkan oleh Soekarno 1963. Dengan demikian, sesuai dengan definisi pendidikan nasional beliau, pendidkan adalah sarana  untuk membangun jiwa bangsa dan keprbadian bangsa sebagai modal sosial bangsa.

Kata Nation atau Bangsa dan Social Capital sebagai dasar gagasan sebuah Bangsa, pertama kali dibahas oleh Prof Ernest Renan, orang Perancis, di Sorbon tahun 1882*.

An heroic past, great men and true glory are the social capital on which the idea of a nation is based.”

Jadi, Pendidikan yang didisain oleh Ki Hadjar untuk melawan kolonialisme itu akhirnya bermuara pada pembentukan modal sosial bangsa yang sangat diperlukan sebagai suh bagi keragaman bawaan bangsa. Menurut Prof Dr. M Sardjito pada sidang penganugerahan Dr HC Ki Hadjar, sistem penddikan oleh Ki Hadjar Dewantara itu dikehendaki merupakan alat untuk mencapai tujuan yang besar, yaitu kebudayaan nasional.

Kepribadian Bangsa

Kosa kata Budaya dalam terminologi yang digunakan oleh Ki Hadjar tidak lain adalah budaya bangsa, kepribadian bangsa yang membangun jiwa bangsa dan itu tidak lain adalah Pancasila. Maka, Ki Hadjar berkata bahwa  Pancasila adalah Jiwa Bijaksana [Democracy and Leiderschap, hal 19]. Hal itu dipertegas oleh Ki Hadjar dalam Kongres II Taman Siswa 1956, bahwa demokrasi yang dipimpin oleh kebijaksanaan lebih beradab dari demokrasi diatas kertas suara. 

Peran Guru

Ki Hadjar menekankan peran Guru sebagai pendidik dan bukan hanya pengajar. Kalau para ahli cognitive theory membagi learning and education process seperti gambar ini :

Piaget

maka Ki Hadjar membagi fasa belajar siswa menjadi tiga fasa yaitu  0 –   7   tahun, 7 – 14   tahun, 14 – 21 tahun.

Pemikiran Ki Hadjar mengenai guru, bukan hanya sebagai seorang pendidik dan
pengajar namun juga sebagai values system transformer yang merupakan bagian dari proses kaderisasi kepemimpinan perjuangan bangsa. Menurut Ki Hadjar, pendidikan harus sesuai dengan kodrat anak, yaitu :

  1. Masa kanak-kanak 1-7 tahun
  2. Masa pertumbuhan Jiwa dan Pikiran 7-14 tahun
  3. Masa terbentuknya Budi Pekerti atau Kesadaran Sosial, 14-21 tahun

Dalam hal ini, Pendidikan dan Pengajaran Ki Hadjar tidak bisa disepadankan dengan Education and Learning dalam literatur barat. Kosa kata Pendidikan ditekankan oleh Ki Hadjar untuk menandai proses penggarapan jiwa dan suasana kebatinan anak, untuk membebaskan dan memerdekakan jiwa anak agar mampu mencipta, berkarya, dan berkarsa sebagai perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang hanya menekakan Intelektualistis, Materialistis, dan Individualistis. Maka Ki Hadjar mengaskan agar pendidikan budi pekerti diutamakan.

Tiga butir penting Pendidikan yang harus diperhatikan menurut Ki Hadjar:

  • Semangat keluhuran budi manusia, oleh karena itu harus mementingkan segala nilai kebatinan dan menghidupkan semangat idealisme.

  • Kecerdasan budi pekerti , jaitu masaknya jiwa seutuhnya atau character building.

  • Kekeluargaan , yaitu merasa bersama-sama hidup, bersama-sama susah dan senang, bersama-sama tangung jawab mulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Jangan sampai di sistem sekolah umum sekolah menjauhkan anak dari alam keluarganya dan alam rakyatnya.   

Yang dimaksud dengan Budi Pekerti oleh Ki Hadjar muncul dalam  pesan moral seperti dalam 10 Pedoman Guru (1946), yaitu :

  1. Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Cinta kepada alam.
  3. Cinta kepada negara.
  4. Cinta dan hormat kepada ibu-bapak.
  5. Cinta kepada bangsa dan kebudayaan.
  6. Keterpanggilan untuk memajukan negara sesuai kemampuannya.
  7. Memiliki kesadaran sebagai bagian integral dari keluarga dan masyarakat.
  8. Patuh pada peraturan dan ketertiban.
  9. Mengembangkan kepercayaan diri dan sikap saling hormati atas dasar keadilan.
  10. Rajin bekerja, kompeten dan jujur baik dalam pikiran maupun tindakan.

 

KESIMPULAN

Pendidikan adalah tujuan dan sekaliugus cara untuk membangun bangsa. Ki Hadjar telah meletakan dasar mengenai Pendidikan Nasional yang sesuai dengan garis hidup bangsanya untuk membangun pribadi bangsa dan jiwa bangsa yang satu pembangun modal sosial bangsa.

 

 

_____________________

1Prof Dr Sardjito, Sambutan Pada Pengukuhan Dr HC Ki Hadjar Dewantara di  1908. di Srimanganti, 1956

2Presiden Soekarno, Sambutan Pada Pengukuhan Dr HC Ki Hadjar Dewantara di Srimanganti, 1956

3Ki Hadjar Dewantara, Pengukuhan Dr HC UGM di Srimanganti,1956

Leave a Reply