Pendidikan adalah Human Development

Human Development, Human Investment, Human Capital, Social Capital Human Development, Human Investment, Human Capital, Social Capital

Human Development –> Human Investment –> Human Capital –> Social Capital

What is the purpose of Human Development ?

Social Capital from which point of view ?

Sebenarnya bermula dari hal yang sederhana disini:

Maltus membuat prediksi dan ternyata prediksinya salah. Mengapa ?
Ternyata Maltus telah melupakan satu hal, yaitu bahwa manusia bisa berkembang, being developed. Maltus melupakan variabel Education and Learning yang membuat manusia itu berkembang! Learning bisa diakses dengan bebas dari alam dan lingkungan. Berbeda dengan Education yang selalu by design. Education selalu memiliki standard dan norma. Karena variabel tersebut maka prediksi Maltus meleset. Ini menjelaskan arti penting Learning and Education dalam Human Development.

Sejak jaman Homo Sapiens hingga Cro Magnon, binatang cacad yaitu manusia itu bisa melanjutkan kehidupannya karena belajar dari pengalamannya. Binatang, dengan apa yang ada padanya bisa hidup dan melanjutkan kehidupannya yang tak terbayangkan oleh manusia. Manusia, sebaliknya, membutuhkan alat atau teknologi untuk bisa hidup dan melanjutkan kehidupannya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu Pangan, Sandang, Papan. Bahkan, manusia mencontoh kehidupan dan perilaku binatang untuk menciptakan teknologinya. Radar, Pesawat, dll., dan fenomena terakhir adalah sirip pesawat komersial yang ujungnya melengkung ke atas juga ditiru dari perilaku elang ketika terbang di ketinggian.

Maltus-careless

Dalam grafik ini tampak bagaimana pertama prediksi Maltus salah, dan ke dua enomana kesalahan Maltus menjelaskan potensi manusia untuk berkembang dan memecahkan masalah yang dihadapinya, Learning and Education adalah kata kunci Human Development. Melalui Learning and Education manusia berkembang untuk membangun peradaban baru yang lebih baik

Kebanyakan kritik ke kesalahan Maltus adalah pada pengabaian Maltus terhadap perkembangan teknologi. padahal. yang secara substansial, yang terjadi adalah loop siklus manusia dalam kehidupannya untuk memecahkan masalahnya, dan itu dilakukan melalui proses learning and education yaitu:

Kebutuhan

Diawali oleh kehidupan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan alam dan sosialnya. Interaksi dinamis ini kemudian akan memunculkan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipuaskan. Manusia lalu mencari alat pemuas kebutuhan. Bila alat pemuas kebutuhan sudah tersedia atau ditemukan maka loop kehidupan dilanjutkan, namun bila belum ditemukan maka dicari alat pemuas kebutuhan itu dicari melalui melalui pengalaman dan imu pengetahuan. Demikian siklus itu selalu berulang sehingga peradaban manusia berkembang.

Human Development, sebuah terminologi yang menjelaskan bahwa manusia di suatu waktu berbeda dari waktu sebelumnya. Terminologi ini tenggelam dalam hiruk pikuk dan kegaduhan mengenai Human Capital. Padahal. esensi dari Human Capital adalah Human Development dan Human Development membutuhkan Human Investment.

Rumus1Rumus2

 

 Manusia pada t1 berbeda dari sebelumnya t0 karena ada Learning and Education process. Uri Brofnenbrenner dengan Ecological Theory of Human Development menjelaskan ini. Menurut Ki Hadjar, proses itu ada di tiga pusat pendidikan yaitu Keluarga, sekolah, dan Masyarakat. Education selalu mempunyai Norm dan Standard, sedang Learning bersifat bebas akses.

Human Capital pertama kali dikemukakan oleh Theodore William Schultz yang kemudian juga mengemukakan proposalnya mengenai Educational Capital sebagai pemikiran lanjutan yang kemudian memunculkan pemikiran mengenai Academic Capital. Pierre Bordieu mengkritisi pemikiran itu dengan memunculkan Cultural Capital, dan Symbolic Capital yang dia maksudkan sebagai alat untuk mereproduksi ketidakadilan yang seharusnya diselesaikan oleh Human Development. Pestalozzi sudah sangat jelas memberi gambaran mengenai tujuan pendidikan ini dengan memperhatikan mereka yang miskin dan terpinggirkan. Kerja Dr Wahidin Soediro Hoesodo yang keliling ke karesidenan di jawa untuk meminta bantuan bagi anak-anak pribumi miskin juga telah memberi inspirasi bagi dr Soetomo untuk mendirikan Boedi Oetomo. Mangun Wijaya bisa menjadi salah satu icon hal itu di Indonesia dengan proyek kali Code-nya dan Sekolah Mangunan.

Namun, pemikiran Schultz dan Bordieu ini itu tidak serta merta berdiri sendiri karena jauh sebelumnya ada rangkaian pemikiran lain tiga orang ekonom Jerman yaitu Karl Kenies, Eugen von Böhm-Baverk, Wilhelm Roscher, Bruno Hildebrand yang mengkritisi konsep capital. Dalam hal ini Roscher dan Hildebrand memasukkan intangible objects, yang mirip dengan konsep Scultz sedang Kenies menggunakan konsep capital detrimental for economics.

Selanjutnya, Lyda Judson Hanifan diakui sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep social capital dalam bukunya 1916. Robert Petnam kemudian mengembangkan konsep Hanifan dengan parameter Bonding dan Bridging [2000]. Namun, European Comission Issues kemudian menambahkan Linking. Konsep tersebut kemudian digunakan oleh badan-bada dunia seperti OECD, UNDP, WB, EWF untuk menala kemajuan human development suatu negara. Namun diakui oleh masing-masing bahwa pengukuran social capital, apalagi comparative, bukan hal yang mudah seperti dilakukan oleh Nelly Stromquiz. Beberapa penelitian memang tekah mengarah ke kohesitas dan network yang basisnya adalah kepercayaaan seperti penelian Ari Suta.

Jadi, isu Human Development memang merupakan isu sentral dan strategis ketika human adalah pelaku dan sekaligus tujuan pembangunan. Di semua jenis capital itu, baik Natural, Social, Cultural , Educational, Academic, Corporate, State, manusia menjadi means and ends. Artinya, bisa menjadi iblis untuk membuat peradaban menjadi rusak namun sekaligus bisa menjadi malaikat untuk membuat peradaban menjadi baik. manusia adalah aktor tunggal di alam semesta ini. Pemikiran Pestalozzi mengenai Sensual Nature dan Higher Nature serta peran pendidikan untuk meninggikan Higher Nature dan mengeliminasi Sensual Nature sangat relevan disni.

Bila ukuran kemajuan ditala oleh Human Development dengan GDP atau Gross Domestic Product, maka OECD telah membuat model. Namun, model itu secara komparatif seperti penelitian yang dilakukan oleh Nelly Stromquist terhadap 10 butir fenomena terhadap puluhan journal dan penelitian, penalaan dengan tolok ukur yang sama tidak bisa dilakukan karena equality dan equity itu tetap saja terjadi. Bahkan Nelly secara sinis mengutip bukunya Mirdal, American Dilemma. Ada Developed Countries dan Developing Countries. Keduanya kemudian bercabang ke Urban dan Rural Communities serta Gender. Maka, perlu kembali melihat sebenarnya bagaimana proses terbentuknya berbagai capital tersebut dalam konteks keberadaan manusia di alam semesta yang membentuk keunikan bangsanya.

Key input human and economic

Pada awalnya adalah The Supreme Being dan kemudian The Universe. Lalu, ada manusia dan kemudian manusia mulai berinteraksi dengan alam dan lingkungannya. Pada tahap ini sebenarnya transformasi peradaban antar generasi dimulai dan Learning and Education berproses. Manusia sebagai lebih unggul dari makhluk hidup yang lain memiliki kapasitas untuk belajar lebih baik. Proses ini berlangsung terus dan menandai perkembangan tingkat peradaban dunia yang disebabkan oleh human development.

 Being

Bagi Indonesia, sesuai dengan konstitusi, proses pembangunan bangsa itu harus mampu menyeimbangkan ultimate goal antara economic well being dan social well being. Tidak seperti paham liberalisme ataupun sosialisme. Maka, pendidikan di Indonesia harus mendisain pendidikan sejak dini untuk menuju tujuan tersebut. Dan, itulah disain Paradigma Pendidikan Indonesia.

Dalam tataran peradaban selanjutnya yang lebih maju dimana ilmu pengetahuan juga lebih maju, enerji, waktu, dan uang yang dikeluarkan oleh manusia disebut sebagai investment atau investasi sehingga muncul istilah Human Investment. Dulunya, manusia dipandang setara dengan faktor, produksi yang lain seperti Tanah, Modal, Mesin. Karena investasi dalam bentuk Waktu, Eenerji, Uang, yang telah dikeluarkan itu kemudian melekat dalam diri manusia dan kemudian disebut sebagai Human Capital.

Masalahnya, apakah Human Capital itu akan menjadi Social Capital ? Inilah pertanyaan yang harus dijawab ketika takaran kebutuhan Social Capital bagi masing-masing bangsa berdasar hereditasnya ternyata berbeda. Disamping itu di Akutansi masih terjadi inkonsistensi terhadap prinsipnya, Human Investment dalam Human Development itu belum diakui sebagai investasi dan masih diperlakukan sebagai biaya yang habis dikeluarkan pada periode HD, padahal manfaat HD itu dinikmati dalam jangka panjang layaknya sebuah program investasi.

Lihat pula :  Konsep Awal Modal Sosial