Ing – Ing – Tut

Ing Ngarso Sung Tulodo
Ing Madya Mangun Karso
Tut Wuri Handayani

Pergulatan batin dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara memang tidak lepas dari semangat perjuangan dan cinta negeri yang mengejawantah dalam pemikiran beliau dalam pembebasan bangsanya dari kebodohan, kemiskinan, penjajahan baik lahir maupun batin, dan sekaligus kaderisasi kepemimpinan patriot pejuang bangsa.

Perpaduan pemikiran-pemikiran tersebut memunculkan model 2IS KHD yang dikenal sebagai Ing, Ing, Sung dan merupakan kependekan dari tiga kalimat Jawa yaitu :

  •  Ing Ngarso Sung Tulodho.
  •  Ing Madya Mangun Karso
  •  Tut Wuri Handayani

Values System Transformer
Tanpa disadari, sebenarnya demikian besar peran kepemimpinan seorang Guru bagi peserta didiknya, Orang Tua bagi anak-anaknya, dan Pemimpin Organisasi bagi anggota organisasi. Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan orang lain ke arah tertentu. Dalam proses kepemimpinan transformasi niiai melekat.

Menurut Ki Hadjar, Guru di kelas, Orang Tua di keluarga, atau Pemimpin di organisasi baik formal maupun non formal perlu memahami perannya bukan hanya sebagai the agent of change namun juga sebagai values system transformer berdasar tahapan masa kebutuhan. Pendidikan formal bukan hanya menggarap sisi Intelectual Capacity, tetapi juga Emotional Capacity dan Social Capacity dalam rangka Capacity Building. Jadi, pendidikan budi pekerti mestinya melekat dalam proses dan bukan berdiri sendiri sebagai sebuah mata pelajaran. Juga, soft skill mestinya bagian dari disain proses dan disain lingkungan, bukan sebuah program khusus yang beridiri sendiri yang dimaksud untuk melengkapi. Gadjah Mada, Soekarno, Ki Hadjar, Dr Wahidin, HB IX, Habibi, dan para pemimpin bangsa yang lain ketika berproses juga tidak melalui disain khusus yang sifatnya bertujuan untuk membuat beliau-beliau menjadi hebat seperti tertoreh pada jejak-jejak perjalanan kehidupannya.

Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing (Ing seperti dalam bunyi “ing” di bening, baling, tuding) Ngarso (“a” dan “o“seperti dalam bunyi Darto, Harto, Karno) Sung (“u” dalam Sung seperti dalam bunyi Cakung, gantung, bingung) Tulodho ( “u” dalam “Tu“lodo seperti dalam bunyi rugi, Subak, Dugem; “o” dalam Tu”lo“dho seperti dalam bunyi Darto, Harto, Karno; “dho” dalam Tulo”dho” seperti dalam bunyi todong, condong, yang artinya dalam bahasa Jawa adalah ketika berada di depan memberi contoh. Seorang Guru, Orang Tua, demikian pula seorang pemimpin, wajib memberi contoh ketika siswa, anak, atau lingkungan sedang dalam proses belajar atau membutuhkan contoh untuk belajar. Dalam tiga tahap pengembangan siswa, di tahap pertama, yaitu dalam tahap pembiasaan bukan melalui pemaksaan. Peran Ing Ngarso Sung Tulodho ini sangat dituntut dan akan semakin berkurang sesuai dengan tahap perkembangan ke dua dan ke tiga. Fasa ini merupakan fasa pembentukan siswa, anak, atau lingkungan yang sangat penting. Ki Hadjar dengan Taman Siswa-nya hadir pertama kali dalam fasa ini, satunya kata dan perbuatan – Ing Ngarso Sung Tulodho. Disini juga terkandung pesan agar Guru, Orang Tua, dan Pemimpin tidak hanya memberi perintah atau hanya bisa berbicara tanpa bisa atau pernah memberi contoh.

Ing Madya Mangun Karso, Ing seperti sebelumnya, Madya (“Ma” seperti dalam bunyi “Ma“kan, “Ma“ta, “Ma”sa; “dya” seperti dalam bunyi Ma”dya” dimana “a” dibaca seperti bunyi “o” dalam Darto; Mangun, (“Ma“seperti dalam bunyi “Ma“kan; Ma”ngun” seperti dalam bungyi Ba”ngun“‘) Karso, (“Kar” seperti dalam “kar“ma, “kar”tika; “so” seperti dalam bunyi “so“sok). Dalam bahasa Jawa Ing Madya Mangun Karso berarti ditengah membangun niat atau membangkitkan motivasi. Guru dikelas, sesuai dengan tahap perkembangan usia, juga dituntut untuk menjadi motivator agar potensi siswa teraktualisasikan; Orang Tua dirumah juga harus menjadi motivator bagi anak-anaknya dikala dibutuhkan; Para pemimpin rganisasi/masyarakat, ketika masyarakat atau anggota organisasi sudah bergerak kearah yang diharapkan maka pemimpin ajur-ajer bersama masyarakat atau anak buahnya untuk memberi semangat.

Tut Wuri Handayani, Tut (“tut” dibaca seperti dalam bunyi pa”tut“, bun”tut“) Wuri ( “wu” dibaca seperti dalam bunyi la”wu“, “wu“ni) Handayani (“han” dibaca seperti dalam bunyi ba”han“, da”han“; “da” dibaca seperti dalam bunyi ten”da“, ban”da“; “ya” dibaca sepertidalam bunyi sa”ya“, ga”ya“; “ni” dibaca seperti dalam bunyi ra”ni“, “ni”lam). Tut Wuri Handayani, dalam bahas Jawa berarti dari belakang mengikuti dan mengamati serta memberi dorongan yang menguatkan dan diterapkan pada fasa perkembangan dimana siswa, atau anak, atau masyarakat/anggota organisasi sudah bisa berjalan sendiri untuk berkembang. Kata Tut Wuri mengindikasikan tindakan aktif yaitu mengikuti untuk memastikan bahwa perkembangan kearah yang benar. Dalam proses manajemen, itu merupakan tahap control dan untuk memastikan bahwa anggota organisasi telah bergerak sesuai dengan rencana.

2IT KHD melekat dalam diri Values System Transformer, menyatu dalam dirinya sehingga dalam setiap tahapnya akan selalu muncul dalam bentuk perilaku yang selalu tertransformasi ke sekelilingnya sesuai dengan kebutuhan. Artinya luwes meyesuaikan keadaan. Bila dikaitkan dengan peran Guru Ngemong, Among, Momong sesuai tahap perkembangan usia siswa maka tampak jelas bagaimana fasa perkembangan itu menghendaki pendekatan berbeda. Jadi, 2IT KHD adalah sebuah sistem nilai yang akan terlestarikan oleh para pendidik, orang tua, dan para pemimpin sebagai values system transformers .