Warga Sejati, Sebuah Gegayuhan atau Foresight

  1. Warga Sejati, Sebuah Gegayuhan

Sebelum UU Pendidikan NKRI yang pertama keluar, rumusan tujuan pendidikan menurut Panitia Penyelidik Pengajaran di bawah pimpinan Ki Hajar Dewantara dengan penulis Soegarda Poerbakawatja adalah*:

Mendidik warga negara yang sejati, sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk warga negara dan masyarakat.”

Pengertian “warga yang sejati” itu kemudian dijabarkan sifat-sifatnya dalam pedoman bagi guru-guru yang dikeluarkan oleh Kementerian PP dan K pada tahun 1946, yaitu:

  1. Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  2. Cinta kepada alam.

  3. Cinta kepada negara.

  4. Cinta dan hormat kepada ibu-bapak.

  5. Cinta kepada bangsa dan kebudayaan.

  6. Keterpanggilan untuk memajukan negara sesuai kemampuannya.

  7. Memiliki kesadaran sebagai bagian integral dari keluarga dan masyarakat.

  8. Patuh pada peraturan dan ketertiban.

  9. Mengembangkan kepercayaan diri dan sikap saling hormati atas dasar keadilan.

  10. Rajin bekerja, kompeten dan jujur baik dalam pikiran maupun tindakan.

Sepuluh Pedoman Guru tersebut kemudian menjadi Visi para Guru Indonesia untuk mendidik Warga Sejati. Maka, pemerintah pada saat itu sudah menyadari betapa strategis peran Guru dalam mendidik anak bangsa. Guru menjadi salah satu penentu masa depan bangsa, sebuah peran yang sangat strategis dalam Pendidikan untuk membangun bangsa.

Dalam hal ini, Ki Hadjar membedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin. Disamping itu, Pengajaran yang tidak berdasarkan semangat kebudayaan dan hanya mengutamakan intelektualisme dan individualisme yang memisahkan satu orang dengan orang lain hanya akan menghilangkan rasa keluarga dalam masyarakat di Seluruh Indonesia yang sesungguhnya dan menjadi pertalian suci dan kuat serta menjadi dasar yang kokoh untuk mengadakan hidup tertib dan damai. Tiga butir penting Pengajaran Rakyat menurut Ki Hadjar:

  • Pengajaran rakyat harus bersemangat keluhuran budi manusia, oleh karena itu harus mementingkan segala nilai kebatinan dan menghidupkan semangat idealisme.

  •  Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kecerdasan budi pekerti , jaitu masaknya jiwa seutuhnya atau character building.

  • Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kekeluargaan, yaitu merasa bersama-sama hidup, bersama-sama susah dan senang, bersama-sama tangung jawab mulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Jangan sampai di sistem sekolah umum sekolah menjauhkan anak dari alam keluarganya dan alam rakyatnya.

Warga Sejati
Gambar 39: Warga Sejati

Oleh karena itu, istilah pendidikan karakter itu sebenarnya hanya satu makna yaitu nation and character building, dan tidak ada makna lain selain mendidik Warga Sejati, Gambar 36. Tidak ada makna yang lain atau pemikiran yang lain dari para founding fathers selain dari pada itu. Pendidikan yang dipikirkan oleh para founding fathers pada saat itu sudah sampai pada pemikiran mengenai bagaimana harus :

  • Mempersatukan bangsa yang beragam melalui Pendidikan dengan menjadi satu jiwa perekat bangsa.

  • Membangun firewall untuk membendung berbagai anasir anti NKRI.

  • Menyemai serum anti NKRI kepada anak dan generasi muda.

yang satu jiwa, satu bangsa sesuai dengan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 dengan dasar negara Pancasila dan haluan negara Bhinneka Tunggal Ika serta semangat gotong royong untuk membangun bangsa. Atau dengan kata lain, para founding fathers telah menjabarkan Visi bangsa yang sesuai dengan konstitusi kedalam visi Pendidikan untuk membangun bangsa.

Bila digambarkan kedalam sebuah rumah, Gambar 36, Warga Sejati adalah fondasi yang kokoh bagi pembangunan bangsa dan itu dihasilkan dalam proses pendidikan dimana Guru bukan hanya memegang pernan vital dalam proses pendidikan, juga mempunyai pedoman bagaimana mendidik Warga Sejati sesuai dengan tiga butir pengajaran rakyat yang memperhatikan [1] Semangat idealisme, [2] Kecerdasan Budi Pekerti, dan [3] Alam Keluaraga dan Alam Rakyat. Jadi, Warga Sejati bukan hanya sasaran minimum yang diperlukan, namun juga sasaran optimal sesuai dengan gegayuhan Pendidikan untuk membangun bangsa Indonesia.

10 pedoman guru_b1

Gambar 40: Gegayuhan Pendidikan bangsa Indonesia

Pilar-pilar rumah itu adalah Panca Darma Ki Hadjar yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan. Lima pilar itu adalah pilar-pilar yang kokoh untuk menyangga atap bangunan dimana Keahlian dalam Math, Sciene, Arts, and Reading adalah blandar sebagai titik tumpu atap adalah gegayuhan Pendidikan Bangsa Indonesia, yaitu warga yang cedas dan patriotik yang “tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda” dan siap menghadapi perubahan namun tidak akan pernah goyah oleh perubahan itu.

*PPPRI, 1946

Leave a Reply