Critical Educational Research & Evaluation Research

  1. Critical Educational Research & Evaluation Research

Freire membedakan manusia dari binatang melalui kemampuan manusia untuk berintegrasi dengan lingkunganya, sedang Frederick Herbart melalui kemampuan analitik dan sintetik manusia. Maka, dalam proses berintegrasi dengan lingkungannya manusia akan selalu menemukan Problematik, yaitu kesenjangan antara fakta empirik dengan harapan dan idealisasi. Bila seorang ilmuwan atau peneliti tidak menemukan kesenjangan antara fakta empirik dengan harapan atau idealisasinya maka tidak ada problematik dalam bidang keilmuwannya dan itu berarti ilmu pengetahuan di bidang itu tidak akan berkembang (Noeng Muhajdir, 2011).

Istilah critical theory berhulu ke Frankfurt School. Dinamakan critical theory karena pemikrian kritis yang melaihat problematik semua hubungan sosial, secara khusus terhadap praktek kekuasaan dari sudut pandang rasionalisme. Penelitian kritis sosial di bidang Pendidikan dipicu oleh prinsip-prinsip keadilan sosial, baik itu dari sisi bidang pekerjaan, pendapatan, maupun orientasi masyarakat. Penelitian kritis sosial di bidang Pendidikan tidak sesederhana menentang praktek sistem yang sudah ada, namun menyibak untuk memahami sistem bekerja seperti itu sementara yang lainnya sadar bahwa rasa keadilan dan kesetaraan mereka dipertanyakan. Bagaimanapun juga, problematisasi kesadaran adalah pusat metoda dari prinsip-prinsop metodologi penelitian kritis sosial (Tripp, 1992).

Problematik itu dilihat dengan menggunakan logika untuk melihat kesesuaian antara fakta empirik dengan rasio, dimana fakta empirik adalah tuntutan pertama keilmuan dan rasionalitas adalah tuntutan kedua keilmuan dimana paradigma keilmuan paling elementer adalah pengakuan terhadap empiri indriawi, empiri rasional, dan empiri etika (Noeng Muhajdir, 2011) guna melihat kebenaran (Noeng Muhadjir, 2006).

Strategi inti dalam penelitian Pendidikan adalah untuk mendefinisikan tujuan pendidikan sebagai sebuah strategi manajemen seperti perubahan anak agar seperti yang didambakan atau digegayuh. Teori Pendidikan adalah aparatus teknik yang membimbing bagaimana menggulowenthah anak. Teknik eksperimental di-implementasikan sebagai alat instruksi. modifikasi perilaku dipikirkan sebagai strategi mengajar (Popkewitz, 1984). Sedang, Evaluasi berakar di pemikiran-pemikiran sosial dan politik abad sembilan belas. Solusi terhadap masalah-masalah kelaparan, kemiskinan, Pendidikan dapat dilihat dari perspektif yang sama, yaitu penggunaan scientific methods (Popkewitz, 1984).

Isu dalam terminologi Critical Educational Research dan Evaluation Research sangat luas dan mencakup lintas ilmu dan lintas pendekatan. Tilaar mengunakan istilah Kritikal Pedagogik untuk Critical Educational Research yang berhulu ke Teori Kritik Sosial dan lahir di Frankfurt. Perubahan politik dan sosial di Jerman menjadi pemicu bagi kelahiran lembaga ini (Tilaar dan Paat, 2011). Di samping itu, Pendidikan memang hadir untuk memperbaiki keadaan, maka, Critical Educational Research tentu saja tidak lepas dari masalah sosial, ekonomi, dan politik seperti sejarah Pendidikan di berbagai belahan bumi sejak sebelum masehi yaitu Pendidikan di Greece-Athens dan Greese-Sparta. Di Indonesia, usaha Dr Wahidin untuk pendidikan bagi pribumi 1900, kehadiran Taman Siswa 1922, dan kehadiran SMANusantara 1990 juga mempunyai alasan yang sama. Sebagai tambahan, aktifis-aktifis Pendidikan dan juga para pemikir Pendidikan berlatar belakang aktifis politik yang paling sedikit memiliki ideologi yang hendak diperjuangkan, seperti Dr Wahidin Soediro Hoesodo, Dr Soetomo, Ki Hadjar Dewantara, Camello Toress, Gramsci, Almann. Alberto Torres, dll. Bahkan ketika partai-partai dan pergerakan di Indonesia dilarang oleh Belanda maka pada tahun 1930 para aktifis tersebut seperti Muhammad Hatta dll, mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia. Oleh karena itu, Critical Educational Research memang memang di disain untuk realitas sosial yang kompleks (Cohen, Manion & Morrison, 2011), (Tripp, 1922).

Di sisi yang lain, Evaluation Research terdiri dari dua kata yang saling tumpang tindih makna. Kesulitan untuk memisahkan evaluation dan research bukan hanya karena keduanya berbagi beberapa karakteristik metodologi yang sama, namun juga salah satu cabang penelitian dinamakan evaluative reasearch (Cohen, Manion & Morrison, 2011). Maka, evaluation bisa dipandang sebagai sebagai perluasan dari research, karena berbagai metodologi dan metoda. Baik evaluation maupun research mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dan hipotesa-hipotesa, memilih sampel, mengukur variabel-variabel, menganalisis data, dan membuat kesimpulan (Noeng Muhadjir, 2013). Di samping itu, Evaluation adalah bagian dari proses management control, yaitu proses untuk menggambarkan, memperoleh dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif-alternatif keputusan sosial (Popkewitz, 1984). Dengan kata lain, fokus dari evaluation research adalah pada evaluasi terhadap kejadian dan membuat penilaian terhadap kegunaannya. Di samping itu, perbedaan antara evaluation research dengan research yang lain terletak pada orientasi pada research dan bukan pada metode yang digunakan. Jenis penelitian mungkin tidak benar-benar kuantitatif, mengingat elemen-lemen yang dinilai, sehingga baik metoda kuantitatif maupun kualitatif memainkan peranan penting dalam program evaluasi (Powel, 2006).

Sekolah adalah bagian esensial untuk melakukan intervensi sosial guna memperbaiki keadaan. Perluasan kesempatan Pendidikan kepada kaum miskin dan minortitas adalah contoh agar mereka bisa mengakses ke kalangan menengah dan bekerja di kalangan profesi. Pengalaman di Amerika tahun 1950 dan 1960 adalah fakta empirik bagaimana interfensi sosial itu dilakukan oleh pemerintah federal Amerika (Popkewitz, 1984).

Memurut Garvey, dari perspektif Experential Education ada tiga peran research and evaluation (Garvey, 2006), yaitu :

  1. Research and evaluation develop of the mind

    Membiasakan untuk evaluasi dan penelitian akan mengembangkan sembilan kecerdasan manusia menurut Gardner. Maka, itu akan membantu untuk mengembangan ajar dalam proses Pendidikan, yang tentu saja berguna bukan hanya bagi peneliti tetapi juga bagi komunitas peneliti dan masyarakat.

  2. Research and evaluation are political

    Tanpa kelompok peneliti Pendidikan yang memadai akan sulit kiranya untuk mempertahankan pendapat terhadap berbagai ukuran yang dikehendaki.

  3. Research links us with community scholar

    Afiliasi dengan berbagai cendikiawan akan memperbaiki kualitas penelitian karena general academic mileu yang dipresentasikan oleh sebagian besar college dan university serta budaya kecendekiawanan semua dihubungkan.

Bidang Pendidikan itu sangat luas dan selalu terkait bukan hanya dengan lingkungan mikro pendidikan namun juga lingkungan makro pendidikan yang berhubungan dengan masalah ekonomi dan politik makro negara. Di samping itu, kategori evaluation sangat luas dan mencakup pula berbagai variasi metoda termasuk macroevaluation, microevaluation, subjective evaluation, objective evaluation, formative evaluation, dan summative evaluation (Powel, 2006). Maka evaluation research adalah bagian dari educational research.

Leave a Reply