merah putih

RETRET BESAR PENDIDIKAN INDONESIA

        Chronosystem


Problematik Pendidikan dan eksistensi NKRI Problematik


Gaduh Politik dan Degradasi Pendidikan Indonesia  Symptoms













NKRI 1945-2004         . 




Si Vis Pacem Para Bellum   Educational Strategy and Policy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

My Theoretical Frame Work Education

Pertama, The Virtues of Education sebagai dasar acuan untuk memahami makna dan peran Pendidikan bagi manusia dan peradaban bangsa. Ada tiga filsuf Yunani yang perlu diperhatikan yaitu Socrates, Plato, Aristoeles. Kemudian, Pestalozzi, filsuf yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anak miskin dan membongkar model pengajaran untuk anak-anak pada 1700 an yang merupakan ciri pendidikan Eropa pada saat itu. Yang terakhir Ki Hadjar Dewantara adalah filsuf pendidikan Indonesia yang menekankan bahwa Pendidikan itu untuk membangun bangsa yang penuh keragaman. Lihat pula : [1] Para Pemikir Kebajikan Pendidikan , [2] Antropologi Tentang Manusia Menurut Pestalozzi , [3] MUTIARA KI HADJAR , [4] PESTALOZZI

Kedua, filosofi Pendidikan yang digunakan yaitu Social Reconstructionism. Bermula George Count yang mengkritisi pendidikan di Amerika dengan values yang dianut, termasuk mengkritisi aliran Progressism. Selanjutnya, Theodore Brameld. Yang terakhir, Paulo Freire yang memposisikan manusia sebagai subyek di alam semesta dan menempatkan anak sebagai subyek pendidikan dan bukan obyek pendidikan. Namun, Antonio Gramsci yang pada awal 1900 dimana bagi Gramsci, pendidikan menciptakan jaringan hubungan pedagogical untuk membangun sebuah hegemoni denga golongan menengah pekerja untuk melakukan perubahan dimasukkan dalam kelompok Social Reconstruction. Lihat pula : [1] Social Reconstructionism Dalam Pendidikan , [2] Social Reconstructionism, Tantangan Untuk Dunia Pendidikan Indonesia Saat Ini

Ke tiga, isu globalisme terkait dengan gelombang inovasi teknologi tahap ke-empat yang mengubah seluruh sistem kehidupan manusia. Ada dua orang yang telah mendahului jamannya dan layak serta pantas untuk menjadi acuan yaitu Marshal Mc Luhan dengan The Global Village dan Alvin Toffler dengan The Third Wave.  Lihat pula : [1] Pandangan Kritis Terhadap Globalisme

Ke empat, Neo classic contra, Herbert Simon dengan bounded rationality dan externality dan John F Nash Cooperation better than Competititon. Terkenal dengan Nash Equilibrium yang menjadi dasar teori dalam film Beatiful Mind.

Ke Lima, Neoliberalism Contra. Kritik multidimensi terhadap global neoliberalism yang mempengharuhi peradaban ke arah yang bertentangan dengan nilai-nilai universal kemanusiaan dan keadilan. John Rawls dengan Theory of People, Paul Krugman dengan Economic Geography, Joseph Stiglitz dengan Global Equilibrium vs Imperfect Market, dan Amartya Sen dengan The Idea of Justice. Lihat pula : [1] Global Neoliberalism Contra , [2] Pengaruh Empat lapis Scenario Globalisasi terhadap Pendidikan Indonesia

Ke Enam, critical education vs global neoliberalisme yang menghancurkan dasar dan hakekat pendidikan. Pertama Peter McLaren dengan Predatory Culture, Paula Almann dengan Revolutionary Social Transformation: Democratic Hopes, Political Possibilities and Critical Education, dan Carlos Alberto Tores dengan Education and Neoliberal Globalization. Lihat pula [1] Critical Education Vs Global Neoliberalism , [2] Realita Plutokrasi Global di Indonesia

Ke Tujuh, Pendidikan adalah intangible investment untuk membangun social capital bangsa. Pada awalnya adalah Wilhelm Roscher (1812-1878) dan Bruno Hilderbrand (1812-1878) yang berbicara mengenai Intangible Capital. Kemudian, Karl Knees (1821-1898) berbicara mengenai Capital Detrimental for Economics. Selanjutnya, Lyda Judson Hanifan berbicara mengenai Social Capital (1916) yang kemudian bercabang menjadi tiga yaitu Bourdieu 1986, Colleman 1988, dan Putnam 1993. Masing-masing cabang tersebut kemudian memiliki sub dan sub-sub cabang sendiri. Social capital adalah modal bangsa yang digerakkan oleh kesamaan semangat, pandangan, harapan, dan cita-cita. Maka, pendidikan sebagai sebuah investasi tak berwujud berperan sejak anak masih kecil untuk menanamkan berbagai kesamaan tersebut agar menjadi sebuah kekuatan untuk membangun bangsa dan negara seperti telah digariskan dalam konstitusi untuk membuat 237 juta penduduk Indonesia itu menjadi modal, bukan beban bangsa. Lihat pula [1] Konsep Awal Modal Sosial: Intangble Capital To Social Capital

Leave a Reply