Konsep Awal Modal Sosial: Intangble Capital To Social Capital

  1. German Historical School (GHS) of economics

Dalam sejarah aliran ilmu ekonomi, German Historical School (GHS) of economics kurang mendapat perhatian karena aliran ini dianggap berbeda dari aliran klasik Anglo Saxon seperti David Ricardo dan John Stuart Mill. GHS menolak validitas universal teorema ekonomik (New World Encyclopedia, 2012).

Namun demikian, dalam konteks keindonesiaan dan Pendidikan untuk membangun bangsa Indonesia, GHS sangat relevan untuk diangkat kembali karena GHS menjelaskan hal yang fundamental terkait cara memandang kapital yang berbeda dari aliran klasik Anglo Saxon.

Ahli sejarah ekonomi Jerman Wilhelm Roscher (1817–1894), Bruno Hildebrand (1812–1878) dan Karl Knies (1821–1898) adalah older school GHS yang menghubungkan fenomena sosial kepada konsep kapital dan merupakan kritik terhadap posisi manusia dalam ekonomi dengan isu immaterial dan material atau tangible and intangible. Kritik para ahli sejarah ekonomi Jerman pada abad XIX ini sangat fundamental bukan hanya dalam menjelaskan mengenai konsep social capital seratus tahun sebelum Lyda Judson Hanifan 1916, (Hanifan, 1916), berbicara mengenai hal yang sama, namun juga membuka pemikiran mengenai keterkaitan pendidikan dan pembangunan social capital.

  1. Wilhelm Roscher (1817–1894)

Menurut Roscher, kepercayaan, reputasi, hubungan sosial, bisnis, dan pemerintah adalah intangble capital yang mempengaruhi ekonomi sehingga harus diperhitungkan. Intangible capital itu hakiki sifatnya dalam pembangunan sebuah bangsa dan transformasi itu melalui pendidikan dan hanya melalui pendidikan. William Roscher menekankan bahwa sifat dari kapital sangat tergantung pada sudut pandang. Sebagai contoh Roscher menulis: “The capital of the poor is the love of the faithful”.

Selanjutnya Roscher melihat bahwa milik pribadi non material itu seperti kapasitas inetektual, emosional, dan sosial yang dikembangkan selama proses pendidikan. Kapasitas non material ini selanjutnya mirip dengan pandangan modern mengenai social and human capital. Menurut Roscher, negara adalah barang ekonomi terpenting dan sekaligus bentuk kapital tak berwujud yang terpenting pula karena mereka menciptakan situasi dan kondisi ekonomi yang menguntungkan dan berkelanjutan.

Konsep Roscher mengenai kapital tak berwujud ini dan sebagian besar gagasannya sekarang ini dideskripsikan sebagai human and social capital. Secara deskriptif, Roscher memberi contoh bagaimana biaya pendidikan bisa dikompensasi dengan gaji atau upah di masa yang akan datang, juga pengetahuan khusus dapat menaikkan pendapatan di industri(Turunen, 2008 ).

  1. Bruno Hildebrand (1812–1878)

Bruno Hildebrand memandang moral publik setara dengan kecerdasan yang manaikkan kekuatan dan kemampuan masayarakat. Hildebrand menguraikan kekuatan moral tersebut sebagai mental capital masyarakat yang tidak mudah diciptakan. Tidak lembaga ekonomi dan tidak pula lembaga administratif dapat melakukan karena kekuatan moral tersebut merupakan buah sejarah jangka panjang yang diwarnai dengan pengalaman dan budaya nasional secara intensif. Kekuatan moral memungkinkan individu keluar dari dunia egoistik ke sudut pandang yang lebih tinggi mengenai kesejahteraan umum (Turunen, 2009).

Bruno Hildebrand melihat bahwa, kepercayaan, kejujuran, kesadaran, rasa saling percaya, dan moralitas masyarakat adalah fondasi bangunan yang akan menjadi perekat sosial dan cara ampuh untuk menghilangkan monopoli para kapitalis dan jurang kelas di masyarakat. Hildebrand percaya bahwa “The moral worth of man gains the power of capital”. Selanjutnya, Hildebrand menyebut res incoporales, yang dalam hukum romawi berarti tidak dapat disentuh namun dapat dirasakan, sebagai mental capital yang dapat digunakan untuk merevitalisasi keterikatan sosial dan dapat didefinisikan sebagai disposisi mental dan sikap yang mendukung perilaku ko-operatif dalam masyarakat. Juga Hildebrand menyebutnya sebagai “ein geistiges Capital der Völker.” atau Modal intelektual bangsa. Dengan kata lain, mental capital memfasilitasi kerja-sama (Turunen, 2008).

  1. Karl Knies (1821–1898)

Meskipun Karl Knies kelihatan agak berbeda dengan Roscher dan Hildebrand dalam memandang capital dengan cara menempatkan seseorang dan bagian tubuhnya, kecerdasan, keahlian, pengetahuan, dan kemampuan seseorang diluar kapital dan dinamakan personal capitals or ‘Quasikapitalien’, namun hal itu sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang dimaksud dengan human capital(Turunen, 2009 ).

  1. Human Capital Theory

  1. Theodore William Schultz (1902-1998)

    Schultz melakukan penelitian untuk mengetahui mengapa setelah perang dunia II, Jerman dan Jepang secara ajaib mampu melakukan recovery process dengan cepat dari keadaan hancur berantakan akibat perang dan hal ini berkebalikan dengan Inggris. Kesimpulan yang dia peroleh adalah bahwa kecepatan recovery ajaib itu disebabkan oleh Kesehatan dan Pendidikan. Pendidikan membuat orang menjadi produktif dan pelayanan kesehatan yang baik menjaga inventasi pendidikan tetap bermanfaat.

Dalam hal ini, Schultz sebagai ekonom mengkritik pendapat para ahli ekonomi klasik yang memandang pengetahuan dan keahlian sama dengan non human capital seperti land and labour (Schultz, 1961). Selanjutnya, Schultz memberi contoh mengenai Pendidikan, Kesehatan termasuk untuk membayar sekolah atau pelatihan untuk menambah peluang guna mendapat pekerjaan adalah contoh jelas mengenai Human Investment. Juga, dua tema yang membuat Schultz menerima Nobel di Economics terkait dengan human investment yaitu (Janssen, 2010):

  • Agricultural modernization is a major contributor to economic growth,

  • Investing in people (human capital) is the main source of economic growth in a modern economy.

Pendapat Schultz kemudian diperkuat oleh Tallman and Wang yang semakin mempertegas peran Pendidikan in term of quality of education sejak primary hingga higher education dalam Human Capital untuk menunjang Economic Growth dengan formulasi HCINV = G(RTBH) dimana HCINV: The rate investment in human capital, G: Human Capital Function, R: Input other resources, T: Input of time toward education, B: Physical and mental power of the individual, H: Input of human capital (Tallman and Wang, 1992).

Dari HCINV tersebut jelas hanya satu variabel non human yang mempengaruhi, sedang tiga variabel human sangat dominan. Lebih lanjut, Sweetland mengupas berbagai pendapat untuk membahas Human Capital Theory (Sweetland, 1996) sejak Adam Smith Wealth of Nation 1796, dimana dia mencatat bahwa Adam Smith menyatakan dua hal terkait Human Capital Theory (Sweetland, 1996) yaitu [1] Labour input tidak selalu kuantitatif, dan [2] kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan, belajar, atau magang dan pelatihan selalu berupa pengeluaran riil dan selalu merupakan leverage decision antara Revenue and Cost dalam sepuluh prinsip ekonomi Mankiw (Mankiw, 2009). Selanjutnya, Sweetland melihat bahwa semua bahasan secara kolektif telah memverifikasi Human Capital Theory sebagai sebuah human investment yang manfaatnya didapat oleh individu atau masyarakat dimana Sweetland mengutip deklarasi Marshall 1890 tentang keyakinan konsepsi pluralis: “conception oh human capital “we may devine personal wealth so as to include all energies, faculties, and habits directly contribute to make people industrially efficient” (Sweetland 1996).

From Intangible Capital to Social Capital

Leave a Reply