Pengaruh Empat lapis Scenario Globalisasi terhadap Pendidikan Indonesia

  1. Carlos Alberto Torres (Torres, 2009)

Torres berpendapat bahwa berbagai proses globalisasi berinteraksi secara simultan dan saling bertali-temali yang kemudian disebut sebagai Multiple Globalizations dan mempengaruhi kehidupan manusia dan masyarakat, termasuk pendidikan, yaitu:

Lapis pertama, globalisasi dari atas dimana ideologi neoliberalisme digunakan untuk membuka batas, menciptakan berbagai pasar regional, arus pertukaran ekonomi dan keuangan yang lebih cepat, dan bahkan kehadiran bentuk negara selain negara-bangsa, pelayanan negara berkurang di masyarakat sipil, dan deregulasi selektif adalah moto dari proses globalisasi.

Lapis ke dua, globalisasi dari bawah dimana individu-individu, institusi-institusi, gerakan-gerakan sosial menjawab secara aktif apa yang mereka rasakan sebagai globalisasi neoliberal. Layer ini merupakan anti tesa dari layer pertama dengan moto tanpa globalisasi.

Lapis ke tiga, globalisasi tidak banyak berhubungan dengan pasar tetapi ke hak-hak, yaitu globalisasi hak azasi manusia yang menganut sistem internasional dan hukum internasional. Akibatnya, sejumlah tradisi kehidupan masyarakat dan keagamaan yang telah melekat pada struktur masyarakat tertentu atau budaya tertentu sekarang menjadi dipertanyakan, ditantang, atau bahkan dilarang. Kemajuan demokrasi kosmopolitan dan kewarganegaraan plural adalah motto dari proses globalisasi.

Lapis ke empat, globalisasi yang melampui pasar dan dalam hal tertentu melawan hak azasi manusia, yaitu globalisasi internasional melawan terorisme. Globalisasi baru dalam skala penuh muncul setelah 9/11 yang diinterpretasi sebagai globalisasi ancaman teroris dan memunculkan reaksi dari United States dalam bentuk aksi militer dengan dua koalisi untuk melawan rezim Muslim di Afganistan dan Irak. Dalam perkembangannya, bukan hanya tindakan militer tetapi juga mengutamakan tindakan keamanan dan pengawasan di perbatasan, manusia, modal, dan komoditi, dan ini berarti bertentangan dengan pasar bebas dan pertukaran komoditi secara cepat.

Oleh karena itu, globalisasi berlapis fenomena yang saling bertentangan dan berakar pada penyebab sejarah yang sulit dikembalikan atau dihadapi kembali untuk dibetulkan maka bagaimana sebenarnya empat lapisan kemungkinan implikasi globalisasi tersebut terhadap Pendidikan?

Dampak empat lapis globalisasi di pendidikan

Agensi Pendidikan multilateral dan bilateral globalisasi neoliberal seperti World Bank, International Monetary Fund, UNESCO telah mempromosikan model globalisasi neoliberal. Beberapa kajian ilmiah telah membuktikan bahwa globalisasi Pendidikan di Eropa memiliki intensitas rendah.

Agenda global terstruktur tersebut berpusat pada saraf proyek statistik internasional yang hebat, secara khusus proyek CERI atau Center for Educational Research Innovation dari OECD. Agenda tersebut meliputi dorongan untuk menuju privatisasi dan desentralisasi Pendidikan Negeri, gerakan menuju standard-standard Pendidikan, dan pengujian pencapaian akademik untuk menentukan kualitas Pendidikan pada tingkat siswa, sekolah-sekolah, dan guru-guru. Sedang akuntabilitas adalah bentuk lain dari model tersebut. Telah terjadi gelombang reformasi Pendidikan yang dipengaruhi oleh globalisasi dibawah inspirasi neoliberal. Ada tiga dampak globalisasi pada strategi reformasi pendidikan (Carnoy, 1999), yaitu:

  1. Competitiveness-driven reforms

  1. Decentralization

  2. Standards

  3. Improved management of educational resources

  4. Improved teacher recruitment and training

  1. Finance-driven reforms

    1. Shifting public funding from higher to lower levels of education

    2. The privatization of secondary and higher education

    3. The reduction of cost per student at all schooling levels

  1. Equity-driven reforms

    Carnoy telah mengklasifikasi equity-driven reforms sebagai equity oriented reforms :

    1. Compettiton based reforms yang ditandai empat strategi konvensional yang meliputi:

      1. Dorongan menuju desentralisasi pemerintahan, pendidikan, dan administrasi sekolah.

      2. Standard dan norma Pendidikan yang baru dan biasanya diukur melalui bentuk ujian yang ekstensif.

      3. Memperkenalkan metoda pengajaran dan pembelajaran yang baru dan mengarah ke harapan kinerja yang lebih baik dengan biaya rendah

      4. Perbaikan seleksi dan pelatihan guru-guru.

    2. Financial imperatives based reforms yang dianjurkan oleh IMF dan Bank Dunia sebagai syarat prakondisi untuk pinjaman pendidikan kepada negara. Reformasi ini juga termasuk serangkaian strategi-strategi. Di antaranya adalah :

      1. Pemindahan pembiayaan dari tingkat pendidikan yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah dengan premis bahwa subsidi ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi adalah subsidi untuk yang kaya ketika hampir seluruh siswa di tingkat yang lebih tinggi adalah kelas menengah. Dalam hal ini, Torres secara empirik telah menunjukkan fakta di Thailand, Agentina, coloured Californian, bahwa investasi lebih menguntungkan di primary dan secondary school dibandingkan dengan investasi di pendidikan yang lebih tinggi. Maka, Pendidikan Tinggi bukan untuk mereka yang tidak mampu, atas dasar hitungan investasi tersebut. Juga, Strategy Education for All adalah premis gagal Education for All Initiative Thailand 1990 yang disponsori oleh UNESCO, UNDP, UNICEF, dan World Bank (Torres, 2009).

      2. Privatisasi elementary dan secondary school dengan gagasan bahwa peningkatan biaya pengguna dan kontribusi keluarga terhadap pendidikan anak-anak mereka berkurang, pada gilirannya, tekanan fiskal pada finansial terikat sektor publik.

      3. Cost reduction strategy yang menaikkan jumlah siswa per guru sebagai cara untuk menanggulangi defisit keuangan atau pertambahan jumlah siswa atau keduanya.

Lebih lanjut menurut Torres, reformasi tipe ketiga yaitu equity-based reforms yang terlihat sebagai tabir asap dan tambahan untuk Competitiveness-driven reforms dan Finance-driven reforms .  

Leave a Reply