PENDIDIKAN

 Pendidikan, dari kata dasar didik,  mempunyai makna positif dan berkonotasi positif, serta terdiri dari Pendidik dan peserta didik. Jadi, sejak awal manusia yang digambarkan sebagai Adam dan Hawa serta memiliki keturunan maka setua itu usia Pendidikan.

Pada awalnya adalah The Supreme Being dan The Universe, lalu hadirlah manusia awal yang mulai belajar dari alam dan berintegrasi dengan alam. Transformasi informasi berkat berintegrasi dengan alam, berbeda dengan binatang yang beradaptasi [Freire], manusia terus berkembang.

Being

Perkembangan itu membuahkan berbagai fenomena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan eksploitasi terhadap alam sebagai buah berintegbrasi itu dan berlanjut untuk  menghasilkan berbagai lembaga ekonomi dimana homo homini lopus semakin eksis sebagai predatory culture [McLaren].  Indonesia saat ini setelah kemerdekaan 69 tahun mengalami tantangan yang amat berat terhadap predatory culture tersebut. BJ Habibie menyebut fenomena yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia itu sebagai VOC Jilid II.

VOC Jilid II

 

PERLAWANAN KI HADJAR

Ki Hadjar membedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin (Dewantara I, 2004).

PENDIDIKAN INDONESIA MENURUT KI HADJAR

Pengajaran yang tidak berdasarkan semangat kebudayaan dan hanya mengutamakan intelektualisme dan individualisme yang memisahkan satu orang dengan orang lain hanya akan menghilangkan rasa keluarga dalam masyarakat di Seluruh Indonesia yang sesungguhnya dan menjadi pertalian suci dan kuat serta menjadi dasar yang kokoh untuk mengadakan hidup tertib dan damai (Dewantara I , 2004).