Pendidikan Untuk Membangun Bangsa

I LATAR BELAKANG

Kompas 20 Juni 2011, menjadi head line adalah “Kerusakan Moral”. Dalam Kompashead line tersebut dipaparkan indikator masalah moral yang bisa digunakan untuk menyimpulkan terkikisnya moral bangsa yaitu1 :

  1. Kasus korupsi dan pejabat bermasalah admnistratif di Birokrasi dan Lembaga-Lembaga Tinggi Negara tidak terkecuali Mahkamah Agung, Kejaksan Agung DPR, dan Esekutif. Berarti seluruh Trias Politika tidak terkecuali tergerus masalah moral. Bagaimana mungkin Trias Politika yang menjadi pilar negara dan sekaligus panutan bangsa justru menjadi benalu bagi negara dan banganya dan sekaliugus menjadi panutan dan pendidik yang tidak baik.

  2. Penegak Hukum telah melahirkan mafia hukum, mafia pengadilan, mafia perkara, dan berbagai mafia lain yang saling menyandera.

  3. Kekerasan dan Plagiat.

  4. Permisif terhadap koruptor

Disamping indikator-indikator yang disampaikan Kompas tersebut juga ada indikator-indikator lain yang bisa dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu :

  1. INTERNAL

  1. Radikalisme, Terorisme, dan Sparatisme2

  2. Moral Kejujuran di bidang Pendidikan3

  3. Bencana Alam (Ring of Fire)4

  4. Pangangguran5

  5. Kemiskinan6

  6. Prostitusi7

  7. Korupsi8

  8. Drugs9

  9. APBN10

  10. TKI/TKW11

  1. EXTERNAL

  1. Global Corruption Index12

  2. Faild State Country13

  3. Human Development Index14

  4. New State World Atlas15

  5. Global Hunger Index16

  6. Global Competition Index17

  7. Global Peace Index18

  8. World’s Happiest Country19

Indikator Internal menunjukkan kecenderungan meningkat artinya tidak menguntungkan bagi sebuah pembangunan bangsa karena enerji bangsa akan tersisa bukan untuk membangun tetapi untuk menangani masalah.

Sedang indikator External cenderung rendah artinya bangsa ini memiliki indikator tidak menguntungkan atau kompetitif di tingkat global. Dengan kata lain, sebenarnya gambaran bangsa Indonesia secara global dalam posisi dibawah atau tidak semestinya, melihat potensi yang ada.

Yang terakhir, dari sisi eksternal Indonesia dihadapkan pada ancaman global:

  1. The New World Order – The Bilderberg20

  2. Geo Politic21

  • Oil trade and smuggling route

  • US control line

  • Chinese diaspora, strong Chinese influence

  1. Lack of world resources22

  2. Regional and International conflicts23

Dihadapkan pada tekanan internal dan eksternal tersebut serta ancaman global, bangsa ini membutuhkan generasi yang tangguh, unik, dan patriotik , yaitu mencintai bangsa, negara, dan tanah airnya serta siap membela negara agar bisa menangkal tekanan dari internal dan sekaligus menghadapi tekanan dari eksternal sesuai dengan amanat konstitusi.

Oleh karena itu dibutuhkan strategi untuk membangun bangsa dalam jangka panjang, tidak mungkin kedua jenis tekanan serta ancaman global tersebut ditangkal dan dihadapi dalam jangka pendek dan secara parsial, namun dalam jangka panjang secara komprehensif dalam sebuah perencanaan strategis.

Pembangunan generasi yang tangguh, seperti dalam Sepuluh Pedoman Guru 1946 untuk mendidik Siswa Sejati, harus dilakukan. Artinya, pembangunan siswa sejati yang merupakan generasi tangguh itu hanya mungkin dilakukan melalui satu-satunya cara dan hanya satu-satunya cara yaitu Pendidikan dan itu dalam konteks human development of the nation. Menurut Leonora Cohen et.al24

In idealism, the aim of education is to discover and develop each individual’s abilities and full moral excellence in order to better serve society. The curricular emphasis is subject matter of mind: literature, history, philosophy, and religion. Teaching methods focus on handling ideas through lecture, discussion, and Socratic dialogue (a method of teaching that uses questioning to help students discover and clarify knowledge). Introspection, intuition, insight, and whole-part logic are used to bring to consciousness the forms or concepts which are latent in the mind. Character is developed through imitating examples and heroes.

Dengan demikian, menurut Idealism, tujuan pendidikan adalah untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan individual serta mengisinya dengan moral kesempurnaan untuk membangun masyarakat yang lebih baik.

Sedang menurut Pestaloozi25, Moral State adalah ultima goal pendidikan melalui proses eliminasi Sensual Nature dan meninggikan Higher Nature sehingga masyarakat akan bergerak dari fasa Natural State menuju ke Social State dan akhirnya ke Moral State. Lebih lanjut Ki Hadjar Dewantara pemandangan yang mirip dimana tujuan pendidikan itu adalah Tri Rahayu yang dimulai dari Hamemayu Hayuning Sarira, kemudian Hamemayu Hayuning Bangsa, dan akhirnya Hamemayu Hayuning Bawana.

Jadi, pendidikan memang memiliki relasi langsung atas apa yang terjadi di masyarajkat. Dengan kata lain, apa yang terjadi di masyarakat mencerminkan pendidikan di masyarakat tersebut.

II BAHASAN TEORITIK

Sejak jaman Homo Sapiens hingga Cro Magnon, binatang cacad26 yaitu manusia bisa melanjutkan kehidupannya karena belajar dari pengalamannya. Binatang, dengan apa yang ada padanya bisa hidup dan melanjutkan kehidupannya yang tak terbayangkan oleh manusia. Manusia, sebaliknya, membutuhkan alat atau teknologi untuk bisa hidup dan melanjutkan kehidupannya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu Pangan, Sandang, Papan. Bahkan, manusia mencontoh kehidupan dan perilaku binatang untuk menciptakan teknologinya. Radar, Pesawat, dll., dan  fenomena terakhir adalah sirip pesawat komersial yang ujungnya melengkung ke atas juga ditiru dari perilaku elang ketika terbang di ketinggian.

Pada awalnya manusia berinteraksi dengan lingkungan dalam sebuah sistem kehidupan yang masih sangat sederhana. Manusia kemudian berusaha untuk mempertahankan kehidupan dan memperbaiki kualitas kehidupannya dengan cara memenuhi kebutuhannya. Mulai dari kebutuhan yang paling mendasar seperti pangan, sandang, dan papan, hingga kebutuhan-kebutuhan yang bersifat komplementer. Karena manusia adalah mahluk hidup yang paling kompleks dimuka bumi ini maka timbul berbagai macam kebutuhan manusia yang sangat dinamis. Perubahan ruiang dan waktu memunculkan pula perubahan berbagai macam kebutuhan manusia sesuai dengan perkembangan peradabannya. Dari tingkatan yang paling sederhana hingga ke tingkatan yang paling tinggi. Ini merupakan siklus berkesenimbungan peradaban umat manusia untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik.

Human Development27, sebuah terminologi yang menjelaskan bahwa manusia di suatu waktu berbeda dari waktu sebelumnya. Terminologi ini tenggelam dalam hiruk pikuk dan kegaduhan mengenai Human Capital28. Padahal. esensi dari Human Capital adalah Human Development dan Human Development membutuhkan Human Investment29.

Rumus1Rumus2

I : Individual

f : Factors influence Individual Development

i : Number of influencer, I = 1, 2, ………. , n            

t : time , t = 1,2 , ………. , m

Pada setiap fi ada enerji, waktu, usaha yang dikeluarkan. Dalam artian ekonomi fi adalah investasi. Membeli buku, sekolah, belajar, kursus, bermain, dsb., adalah contoh yang dipandang sebagai sebuah investasi untuk pendidikan atau human investment yang mempunyai harapan kembalian atau returndi masa depan.

Piaget

Bagi Ki Hadjar Dewantara, return on investment in education itu adalah Tri Rahayu yaitu :

  • Hamemayu Hayuning Sarira

  • Hamemayu Hayuning Bangsa

  • Hamemayu Hayuning Bawana

yang tidak lain adalah output pendidikan dan merupakan : .

Rumus2I : Individual

f : Factors influence Individual Development

i : Number of influencer, I = 1, 2, ………. , n

t : time , t = 1,2 , ………. , m

Sehingga, berdasar formulasi tersebut dan chronosystem, selama proses kehidupan masih berjalan maka human development itu akan berproses selama hayat dikandung badan.

Hakekat manusia

Dalam diri manusia ada tensi dan kontradiksi. Sifat ini memiliki dua sisi yaitu Higher Nature yang membedakan manusia dari binatang dan Petaloozi sering juga menyebut sebagai inner nature, spiritual nature, moral nature, atau divine nature. Sisi yang lain adalah Sensual Nature dan Pestaloozi sering menyebutnya sebagai Animal Nature dan merupakan insting dasar yang dimiliki baik oleh manusia maupun binatang.

Dua sisi sifat manusia ini yaitu Higher Nature dan Animal Nature saling berhubungan ibarat buah dan bibit. Higher Nature ada untuk mengendalikan sifat kebinatangan manusia yang ada pada Animal Nature. Pestaloozi menandaskan peran pendidikan untuk meninggikan Higher Nature dan mengelimnasi secara alami Animal Nature agar Hgiher Nature menjadi permanen dan tidak mudah dirusak.

Hakekat Kehidupan Sosial

Proses pendidikan untuk mengeliminasi Animal Nature agar Higher Nature permanen mendominasi, menurut Pestaloozi, akan meluruskan proses perkembangan tiga tahap perkembangan sosial yaitu dari Natural State menuju ke Social State dan dari Social State menuju ke Moral State.

Di Natural State sifat kebinatangan mendominasi dan Higher Nature tidak aktif. Masuk dan menjadi bagian dari Social State of being tidak bisa dihindarkan oleh human beings. Ketika berinteraksi secara sosial manusia harus siap menerima ketidaknyamanan yang akan dirasakan, seperti tidak bisa melampiaskan egoismenya, karena kondisi dimana sifat kebinatangan tidak mendominasi.

Di Social State, tatanan sosial masyarakat lingkungan membatasi individu untuk melampiaskan egoismenya karena individu harus menyesuaikan diri dengan tatanan sosial dan adat istiadat masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini negara, yang dibentuk oleh masyarakat yang menyerahkan sebagian haknya untuk diatur, berperan untuk mengatur kehidupan agar hak dan kewajiban individu dan masyarakat menjadi jelas,

Di Moral State, keterkaitan antara Natural State dan Social State ketika animal nature mendominasi adalah kondisi yang sangat diperlukan untuk kelahiran moralitas individu.. Kondisi sosial dalam diri mereka tidak stabil karena mereka tergantung di satu sisi kepada seberapa banyak orang mementingkan dirinya sendiri, dan di sisi yang lain kepada seberapa banyak orang memahami prinsip-prinsip sesungguhnya dari kehirupan sosial. Pemahamahan ini hanya dapat datang dari moralisasi individual. Kasus Prita, perlawanan terhadap korupsi, keoikmpok air mata guru adalah contoh-contoh bagaimana moralitas individu lahir.

Menurut Pestaloozi, Natural State, Social State, dan Moral state tersebut harus dipahami sebagai tiga macam eksitensi manusia yang berbeda dimana setiap capaian manusia dapat dianalisis sebagai bagian dari ketiganya. Maka, Pestaloozi memberi empat alternatif dimana masyarakat bisa eksis. yaitu:

  • Sebuah eksistensi yang murni alami dimana lembaga-lembaga sosial yang bebas dan sayangnnya hanya bisa dibayangkan.

  • Sebuah eksistensi dimana orang mengikuti keinginan mementingkan diri mereka dan menunjukkan tidak ada pertimbangan untuk bermasyarakat

  • Masyarakat dengan keinginan untuk mementingkan diri sendiri secara terbatas dan mengakui bentuk sosial untuk melihat perhatian terhadap individu secara sah.

  • Eksistensi moral dimana manusia mengangkat dirinya diatas egoisme dan menuju kesempurnaan diri serta membuat orang lain bahagia.

Diantara ke-emat alternatif terserbut, alternatif terakhir kelihatan sangat ideal, kalau tidak dikatakan utopis. Oleh karena itu, alternatif “masyarakat dengan keinginan untuk mementingkan diri sendiri secara terbatas dan mengakui bentuk sosial untuk melihat perhatian terhadap individu secara sah” adalah sebuah bentuk yang cukup wajar.

Jadi, bila moralitas individu tidak lahir dari interaksi antara Natural State dan Social State maka Moral State juga tidak akan dicapai.

Korupsi berjamaah di lembaga-lembaga Trias Politika seperti Badan Anggaran DPR, Kementrian dengan proyek-proyek pemerintah termasuk departemen agama yang paling parah korupsinya, badan-badan peradilan seperti hakim, Jaksa, Pengacara, dan badan legislasi seperti DPR menjelaskan bagaimana di social state ada masalah untuk tumbuhnya moralitas individu.

Peran Pendidikan

Pendidikan memegang peran sangat menentukan dalam meninggikan Higher Nature dan mengeliminasi Animal Nature. Melalui proses pendidikan pesan moral disampaikan dan dihidupkan dalam kehidupan sosial di sekolah dan lingkungannya. Menurut Pestaloozi penggarapoan itu terhadap tiga H yaitu Head, Hand, dan Heart. Artinya, penggarapan itu dilakukan dengan cara melakukan. Kalau menurut Ki Hadjar melalui Olah Rasa, Olah Hati, Olah Pikir, dan Olah Jasmani. Maka, demikian besar arti kehadiran pendidik dalam proses-proses tersebut.

Bila moral menjadi outcome pendidikan dan outcome itu menjadi input Social State maka jalan menuju Moral State semakin terbentang lebar. Itulah peran pendidikan yang diharapkan oleh Pestaloozi.

Kosa kata Pendidikan sering diterjemahkan dengan Paedagogi30 atau Pedagogy dalam bahasa Inggris dan diucap ˈpɛdəɡɒdʒi31 . Atau, paidagōgeōπαιδαγωγέω32 dalam bahasa Yunani, dimana παῖς (país, genitive παιδός, paidos)33 berarti anak, dan άγω (ágō)34 berarti membimbing. Jadi, secara literal berarti membimbing anak. Di Yunani kuno, seorang pembantu rumah tangga menjalankan fungsi mengantar, menjemput, mengasuh, mendampingi, putra majikan ke sekolah, serta membawakan alat musik. Anak Yunani harus bisa memainkan alat musik Lyra maka harus membawa Lyra ke sekolah35.

Menurut Muhadjir36 Pendidikan memliki lima unsur dasar, yaitu:

  1. Pendidik

  2. Pembelajar

  3. Tujuan baik dari Pendidik ke Pembelajar

      • Instrumental values, idalam subyek

      • Perkembangan dan pertumbuhan subyek

      • Practical values, diluar subyek

  4. Cara yang baik

  5. Konteks yang positif

  6. Dengan demikian sangat jelas bahwa Pendidikan memiliki peran luhur dalam mengantar pembelajar menjadi bermoral dan cerdas karena kelima unsur tersebut dimana tujuan baik dilakuakn dengan cara yang baik dan dalam konteks positif . Dalam konteks pembangunan bangsa Indonesia, Pendidikan menjadi sangat krusial dan menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari pembangunan bangsa dari proposisi manapun, baik sisi politik, ekonomi, budaya, keamanan.

    II ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    PESTALOOZI DAN SISTEM NILAI BANGSA INDONESIA

    Political Philosophy NKRI dan juga sekaligus Way of Life atau Values of The Nation menyiratkan bahwa manusia adalah makhluik individu dan sekaligus makhluk sosial. Kepentingan bangsa dan negara didahulukan dari kepentingan sempit individu, golongan atau kelompok, dikenal dengan paham integralistik Soepomo.

    Moral State yang hendak dikehendaki oleh bangsa ini sangat jelas dalam Political Philosophy tsb. Unsur Patriot, Perwira, Ksatria, dan Pejuang menjadi ciri. Korupsi, ketidakjujuran, kemunafikan, lembek, berlawanan dengan empat ciri tersebut Maka, Pendidikan, sebagai hanya satu-satunya cara untuk menuju Moral State tersebut melalui Natural State dan Social State, mengemban peran yang sangat strategis bagi pembentukan wajah bangsa dan masa depan negeri ini.

    Melalui pendidikan, mulai dari tingkat Mricrosystem, Mesosystem, Exosystem, hingga Macrosystem, Higher Nature ditinggikan hingga menjadi permanen dengan mengeliminasi Animal Nature. Pendidikan membantu masyarakat berangkat dari fasa Natrural state menuju ke Social State kemudian ke Moral State.

    Oleh karena itu, mengacu kepada Ecological System Urie Bronfenbrenner atau Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar maka Guru, Kurikulum, dan kebijakan publik di Social State37 menjadi key succes factors untuk menuju moral state yang di-impikan.

    SISTEM KONSTITUSI BANGSA INDONESIA

    Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah UUD 1945 yang terdiri dari Pembukaan dan Batang Tubuh. Batang Tubuh UUD 1945 adalah penjabaran Pembukaan UUD 1945.

    Di dalam Pembukaan UUD 1945 memuat :

    1. Pernyataan Kemerdekaan

    2. Tujuan Negara yang diproklamasikan

    3. Dasar Negara yang digunakan.

    Artinya, selama NKRI ini ada maka Pembukaan itu melekat secara hakiki. Demikian pula dengan tujuan proklamasi kemerdekaan NKRI, yaitu :

    1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

    2. Memajukan kesejahteraan umum

    3. Mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Jadi, konstitusi NKRI mewajibkan pemerintah hasil pemilu sebagai manifestasi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan ketiga tujuan tersebut secara bertahap. Ketika tujuan pendidikan adalah membangun bangsa, dan menurut Pestaloozi adalah untuk membangun Moral state, dan menurut Ki Hdjar Dewantara adalah Tri Rahayu, maka pendidikan mengemban misi mulia yaitu mendidik warga sejati38. yaitu warga yang sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk warga negara dan masyarakat39. Pengertian “warga yang sejati” itu kemudian dijabarkan sifat-sifatnya dalam pedoman bagi guru-guru yang dikeluarkan oleh Kementerian PP dan K pada tahun 194640, yaitu:

    1. Berbakti kepada Tuhan YME

    2. Cinta kepada alam

    3. Cinta kepada negara

    4. Cinta dan hormat kepada ibu-bapak

    5. Cinta kepada bangsa dan kebudayaan

    6. Keterpanggilan untuk memajukan negara sesuai kemampuannya

    7. Memiliki kesadaran sebagai bagian integral dari keluarga dan masyarakat

    8. Patuh pada peraturan dan ketertiban

    9. Mengembangkan kepercayaan diridan sikap saling menghormati atas dasar keadilan

    10. Rajin bekerja, kompeten dan jujur baik dalam pikiran maupun tindakan

    Sepuluh butir pedoman ini menjadi acuan Guru dalam mendidik putra-putri bangsa pada sat itu. Tampak sekali dalam sepuluh butir pedoman tersebut, tramsformasi nilai menjadi dominan. Guru bukan hanya mengajar tetapi juga mentransformasi nilai-nilai kehidupan. Sangat jelas bahwa para pemikir bangsa pada saat itu memiliki gegayuhan tentang anak bangsanya di masa yang akan datang dan itu dibentuk melalui pendidikan.

    Gegayuhan itu jelas menjabarkan konstitusi NKRI yang ada di pembuykaan UUD 1945 seperti dapat dilihat di Gambar 1. Amanat konstitusi melalui gambar tersebut sangat jelas bahwa Pendidikan, secara teoritikal maupun konstitusional adalah untuk membangun bangsa Indonesia secara bertahap dan berkesinambungan.

    Pembangunan itu dilimpahkan kepada setiap pemerintah hasil pemilu yang akan membuat kebijakan publik untuk untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pembangunan pendidikan, untuk memajukan kesejahteraan umum melalui pembangunan kesejahteraan, dan pertahanan keamanan melalui pendidikan untuk membangun karakter bangsa serta melalui TNI untuk melindungi segenap warga dan tumpah darah Indonesia.

    Oleh karena itu, road map jangka panjang untuk membangun tiga bidang utama yang menjadi tujuan NKRI merdeka sesuai dengan konstitusi mutlak diperlukan karena menyangkut masa depan bangsa dan tidak hanya terikat pada perencanaan pembangunan jangka pendek sesuai dengan fiskal pemilu. Cacad sebuah pemerintahan akan berakibat fatal bagi estafet pembangunan bangsa

    Konstitusi

    _________________

    Gambar 1: Tujuan Kemerdekaan NKRI

    Pada Gambar 2 , secara kronologis tampak bagaimana perubahan kebijakan publik yang bersifat politis dan tidak bertumpu kepada konstitusi menghasilkan generasi yang semakin jauh dari harapan konstitusi, seperti dalam daftar berikut :

     

    Degradation on

    Negative trend on global indicators

    Nationality : BNPT, 24 out of 33 Provinces are potential for radicalism and terrorism

    Failed State Country Index

    Morality – Corruption

    Global Hunger Index

    Humanity – Violence

    Global Competition Index

    Natural resources – Quality

    Human Development Index

    Happiness Country index

    Corruption Perception Index

     

    Educational strategy_________________

    Gambar 2: Tujuan Kemerdekaan NKRI dan realita dalam chronosystem

    Oleh karena itu, diperlukan sebuah terobosan strategi yang mampu mempersiapkan generasi yang akan menghadapi tahun 2030 dimana global resouces semakin langka, terutama oil, regional konflik karena politik dan perdagangan semakin meningkat dan pada saat yang situasi dalam negeri juga tidak menguntungkan. Kerangka berpikir ditayangkan pada Gambar 3 dan 4.

    Educational strategy 2

    _________________

    Gambar 3: Strategical Thinking Framework I

    Educational strategy 3

    _________________

    Gambar 4: Strategical Thinking Framework II

    _________________________

    1Kompas cetak, Kerusakan Moral Mencemaskan, Selasa 27 September 2011, on line 09/27/11 , http://cetak.kompas.com/read/2011/06/20/05044686/kerusakan.moral.mencemaskan

    2Arahmah.com, BNPT klaim separuh provinsi di Indonesia adalah kantong penyebaran “ideologi terorisme”, http://arrahmah.com/read/2011/07/26/14276-bnpt-klaim-separuh-provinsi-di-indonesia-adalah-kantong-penyebaran-ideologi-terorisme.html , on line 09/27/11 ; Kompas.com, BNPT: Indonesia “Surga” Teroris, http://nasional.kompas.com/read/2011/04/04/11213344/BNPT.Indonesia.Surga.Teroris. ; Kompas.com, Negeri Yang Dibajak Radikalisme, on line 09/27/11, http://nasional.kompas.com/read/2011/05/04/08133869/Negeri.yang.Dibajak.Radikalisme ; Antaranews.com, Radikalisme Sekarang Lebih Terbuka Dibandingkan Jaman Orba, on line 09/27/11, http://www.antaranews.com/berita/1306168200/radikalisme-sekarang-lebih-terbuka-dibandingkan-zaman-orba

    3Tabrani Yunis, Menuju Demoralisasi, Center For Cumunity Development and Education, on line 09/27/11, http://www.ccde.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=466:menuju-demoralisasi&catid=7:potret-utama&Itemid=8 ; Sumut Pos, Bukti Kecurangan UN Direkam Video Amatir, on line 09/27/11, http://www.hariansumutpos.com/2011/04/5683/bukti-kecurangan-un-direkam-video-amatir.htm ; Komunitas Air Mata guru Info, Laporan Lengkap Kecurangan UN 2007 , on line 09/27/11, http://airmataguru.blogspot.com/2007/08/laporan-lengkap-kecurangan-un-2007.html ; Kompas.com, Ada Gladi Resik Contek Masal di Gadel 2, on line 09/27/11, http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/05/20032985/Ada.Gladi.Resik.Nyontek.Massal.di.UN.SD ; Kompas.com, Kronologi ”Nyontek Masal” di SD Pasanggrahan, on line 09/27/11, http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/15/09254293/Kronologi.Nyontek.Massal.di.SD.Pesanggrahan ; Antaranews.com, UN Lebih Jujur Dibandingkan Era Lalu, on line 09/27/11, http://www.antaranews.com/berita/1272466212/un-lebih-jujur-dibandingkan-era-lalu

    4Setiap tahun terjadi bencana alam seperti Tsunami, Gunung Meletus, Banjir, tanah Lognsor – Wikipedia, Bencana Alam di Indonesia, on line 09/27/11, http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam_di_Indonesia ; dan di tahun 2008 ada 359 bencana alam di Indonesia – Antaranews.com, Walhi: 359 Bencana Alam di Indonesia, on line 09/27/11, http://www.antaranews.com/view/?i=1244199032

    5Statistisches Bundesamt Deutschland, Country Profile Indonesia 2009 , on line 09/29/11, http://www.destatis.de/jetspeed/portal/cms/Sites/destatis/Internet/DE/Navigation/Statistiken/Internationales/Internationales.psml ;Tempo Interaktif, Tiap Tahun, Angka Pengangguran Indonesia Naik, Rabu, 05 Mei 2004 | 18:23 WIB, on line 09/27/11, http://www.tempo.co.id/hg/ekbis/2004/05/05/brk,20040505-19,id.html ; Kompas.com, Angka Pengangguran Akademik Lebih Dari Dua Juta, on line 09/28/11, http://edukasi.kompas.com/read/2010/02/18/16344910/Angka.Pengangguran.Akademik.Lebih.dari.Dua.Juta.

    6Antaranews, Memprihatinkan Angka Kemiskinan di Indonesia 33 Juta KK, on line 09/27/11, http://www.antaranews.com/view/?i=1186971337&c=EKB&s ; Muhamadiyah, Kurangnya Akses Ekonomi, Sebabkan Angka Kemiskinan di Indonesia Tinggi, Rabu, 18-05-2011, on line 09/27/11, http://www.muhammadiyah.or.id/news-191-detail-kurangnya-akses-ekonomi-sebabkan-angka-kemiskinan-di-indonesia-tinggi.html

    7Wikipedia, Prostitusi Indonesia, online 09/28/11, http://id.wikipedia.org/wiki/Prostitusi_di_Indonesia#cite_note-4

    8ICW, Membongkar Mafia Anggaran DPR, on line 09/28/11, http://antikorupsi.org/antikorupsi/?q=content%2F20729%2Fmembongkar-mafia-anggaran-dpr ; Transparency International, Corruption Perception index 2010, resuilt, on line 09/26/11 http://www.transparency.org/policy_research/surveys_indices/cpi/2010/results

    9Badan narkotika Nasional, Kasus Narkoba di Indonesia Naik Tajam, on line 09/28/11, http://www.bnn.go.id/portal/index.php/konten/detail/deputi-pemberantasan/data-kasus-narkoba/4409/kasus-narkoba-di-indonesia-naik-tajam ; Kompas.com, BNN: 5 Juta Pengguna Narkoba di Indonesia, on line 09/28/11,

    10Berdikari online, APBN 2012: Rakyat Dipaksa Membayar Krisis, on line 09/27/11, http://internasional.kompas.com/read/2011/06/26/11242461/BNN.5.Juta.Pengguna.Narkoba.di.Indonesia http://berdikarionline.com/editorial/20110820/apbn-2012-rakyat-dipaksa-membayar-krisis.html

    11Post Kota, 3.265 Warga Indramayu Jadi TKW/TKI, on line 09/28/11, http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/06/21/3-265-warga-indramayu-jadi-tkwtki ; Hizbut Tahrir Indoensia, Nasib TKW yang Pilu: Potret Kegagalan Negara Mengurus Rakyat, on line 09/28/11, http://hizbut-tahrir.or.id/2010/11/27/nasib-babu-yang-pilu-potret-kegagalan-negara-mengurus-rakyat/ ; Wikipedia, Tenaga Kerja Indonesia, on line 09/28/11, http://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_Kerja_Indonesia

    12Transparency International, Corruption Perception index 2010, resuilt, on line 09/26/11 http://www.transparency.org/policy_research/surveys_indices/cpi/2010/results

    14UNDP, Human Development Reports, on line 09/27/11, http://hdr.undp.org/en/statistics/

    15Micahel kidron and Ronald Segal, New State of The World Atlas, Simon & Schuster , 1991

    16International Food Policy Institute, 2010 Global Hunger Index, on line 09/27/11, http://www.ifpri.org/publication/2010-global-hunger-index

    17World Economic Forum, The Global Competitiveness Report 2011-2012: Country Profile Highlights , on line 09/27/11, http://www.weforum.org/

    18Global Peace index, Peace Indicator Related Indicators 2011, on line 09/27/11, http://www.visionofhumanity.org/gpi-data/#/2011/scor

    19Forbes.com, Table: The World’s happiest Countries. On line 09/27/11 , http://www.forbes.com/2010/07/14/world-happiest-countries-lifestyle-realestate-gallup-table.html

    20The Analyst, The New World Order is no longer a conspiracy theory, on line 09/28/11, http://www.theanalysis.net/ ; The Insider, The Masonic Conspiracy, 09/28/11, http://www.theinsider.org/ ; Illuminati Conspiracy Archive, Bilderberg Meeting Attendees: St. Moritz, Switzerland 9-12 June 2011, on line 09/28/11, http://www.conspiracyarchive.com/NWO/Bilderberg-Participants-2011.htm

    21Rahakundini C.B, China-Indonesia-Asean Cooperation; Challenges on Regional Maritime Security and Strategy, University of Indonesia–IODAS-Indonesia Maritim Institue, July 6th 2011.

    22Ibid.; Rahakundini C.B,, Globalisasi Dari Aspek Pertahanan, 2008

    23Ibid.; Rahakundini C.B., Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal, Yayasan Obor Indonesia, 2007.

    24LeoNora M. Cohen, Philosophical Perspective on Education, Oregon State University – School of Education, © 1999 , on line 10/10/11

    25Brühlmeier Arthur and Kuhlemann Gerhard, The ideal of a farmer and the farmer of Pestalozzi, Neuhofyears 1769-1798, from http://heinrich-pestalozzi.info

    26Kroes, P.A. & Meijers, A.W.M. (eds.) (2000), The empirical turn in the philosophy of technology. JAI / Elsevier Science, New York.

    27Salkind J. Neil, An Introduction to Theories of Human Development, Sage Publications 2004, pp 15-55

    28Schultz W. Theodore, Investment in Human Capital , The American Economic Review, Vol. 51, No. 1. (Mar., 1961), pp. 1-17.

    29Weath erly A. Leslie, Human Capital – The Elusive Asset, SHRM Research, 2003

    30Muhadjir Noeng, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial, Rake Sarasin, 2003, hal 30.

    31Wikipedia, Pedagogy, on line http://en.wikipedia.org/wiki/Pedagogy, 06/15/11

    32Ibid.

    33Ibid.

    34Ibid.

    35Oracle Think Quest, Elementary School in Ancient Time, http://library.thinkquest.org/J002606/AncientTimes.html on

    line Nov 07, 2010

    36Muhadjir Noeng, log.cit., hal 1-8

    37Pestaloozi, Antrhopology-about Humans, Foundamental ideas, Anthropology, on line 10/08/11 http://www.heinrich-pestalozzi.de/en/documentation/fundamental_ideas/anthropology/index.htm

    38Poersponegoro Marwati Joened dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia : Jaman jepang dan Jaman Republik Indonesia, PT Balai Pustaka 1992, hal 283

    39Tujuan pendidikan menurut UU No 4, Tahun 1950

    40Poersponegoro, op.cit., hal 285