Pendidikan Berbasis Kebudayaan ?

 

  1. PERAN PENDIDIKAN DALAM KONSTITUSI UUD 1945

Judul dari makalah ini berupa pertanyaan yaitu “Pendidikan Berbasis Kebudayaan?”, artinya ini mengajak kita berpikir, benarkah ? Paling sedikit, tulisan ini akan mencoba untuk menjernihkan pemaknaan Budaya dan Pendidikan.

Proklamasi NKRI atau Negara Kesatuan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 adalah sebuah tong­gak sejarah baru secara politis dan sekaligus awal kehidupan baru bagi perjuangan dan pembu­dayaan perdaban bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan Nusantara selama ribuan tahun se­belumnya. Sebuah perjalanan panjang bansga-bangaa di Nusdantara yang telah telah melahirkan ikrar untuk menjadi sebuah bangsa pada tahun 1928 sebelum negara dari bangsa itu ada.

Sebagai tonggak awal kehidupan berbangsa dan bernegara, harapan digantungkan dan impian dilambungkan mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara di masa yang akan datang. Harapan dan impian tersebut dituangkan ke dalam Pembukaan Konstitusi UUD 1945 yang kemu­dian dijabarkan menjadi batang tubuhnya. Ada tiga bidang utama yang menjadi bagian integral dari pembanguan bangsa, yaitu Pendidikan, Kesejahteraan, dan Pertahanan dan Keamanan. Seperti di­tayangkan pada Peraga 1, bangsa ini melalaui BPUPKI telah menentapkan UUD 1945, yang terdiri dari Pembukaan dan Batang Tubuh, menjadi konstitusi negara. Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat memuat tujuan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Konstitusi

Peraga 1: Konstitusi NKRI

TRILOGI PEMBANGUNAN BANGSA

Alinea ke-empat UUD 1945 adalah :

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat denganberdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatam yang dipimpin oleh hikmatkebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pembukaan UUD 1945 ini akan ada selama negara yang bernama Indonesia yang diproklamasikan p[ada 17 Agustus 1945 ada dan tidak mungkin diubah atau diganti karena menyangkut eksistensi dan tujuan mengapa negara dan bangsa Indonesia ada.

  1. TUJUAN PENDIDIKAN

Dari ketiga tujuan yang ada di Pembukaan UUD 1945, Pendidikan menjadi cara dan sekaligus tujuan bagi dua bidang kegiatan yang lain ketika manusia dengan jasmani dan ro­haninya adalah pelaku dan sekaligus penentu dalam dinamika kegiatan pembangunan bangsa [Drijarkara 2005]. Ki Hadjar dengan sangat jelas telah menguraikan mengenai tujuan pendidikan yang sesuai dengan konstitusi, yaitu berdasar kebangsaan , kebudayaan, dan kemasyarakatan bangsa Indonesia menuju ke arah kebahagiaan hidup batin serta keselamatan hidup lahir [Dewantara I^a]. Daoed Joesoef menyebutnya sebagai Tri Revolusioner yaitu Bangsa-Pancasila-Negara Bangsa yang telah dilupakan dalam UU No 20 Th 2003 [Daoed Jusuf]. Juga. menurut filsafat Idealisme [Cohen^a], tujuan pendidikan adalah untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan individual serta mengisi moral kesempur­naan untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Dengan kata lain, manusia adalah kunci perkembangan kebudayaan dan peradaban di alam semesta ini, dan melalui pendidikan, kebudayaan dan peradaban tersebut berkembang.

Selanjutnya, dari Serat Wedhatama Pupuh I Pangkur 1-5 [Wedhatama, Mangkunegara IV], memberi “piwulang” mengenai arti pendidikan untuk melahirkan manusia berbudi pekerti luhur dan berilmu penge­tahuan agar berguna dalam hidup bermasyarakat dan menjadi panutan yang baik. Dalam hal ini Pestaloozi [Pestalozzi^a], melihat bahwa pendiddikan adalah cara untuk mengeliminasi Sensual Nature dengan meninggikan Higher Nature guna meningkatkan masyarakat dari tingkat Nature State menuju Social State dan yang terakhir menuju Moral State. Pendidikan adalah proses untuk memanusiakan manusia agar manusia menghargai harkat dan martabat kemanusi­aan dimana Pancasila sebagai arah pendidikan sehingga manusia se­makin manusiawi [Sastrapratedja 2001], Menurut Guru Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, Tujuan pendidikan adalah Tri Rahayu , yaitu Hamemayu Hayuning Sarira, Hamemayu Hayuning Bongso, dan Hamemayu Hayuning Bawono. Sangat jelas menurut Ki Hadjar bahwa Pendidikan berguna bagi siswa, keluarga, bangsa dan dunia. Lebih lanjut, Pen­didikan mempunyai arti strategis untuk menentukan arah pembangunan bangsa dalam meng­hadirkan generasi bangsa yang sesuai dengan kondisi dan karakter bangsa [Drijarakara 2006]. Contoh empirik adalah di Korea Selatan dan Jepang yang menempatkan pendidikan karakter dan moral sejak dari first grade hingga 12 grade dan menjadi perhatian para pendidik disana meskipun hal itu tidak mudah bagi pendidikan di kedua negara tersebut maupun di Amerika karena pendidikan “nilai” [Brameld 1966] adalah masalah pendidikan yang paling diabaikan dimana guru-guru di Korea Selatan dan Jepang juga mempunyai masalah dalam memahami nilai tersebut [Brameld 1965^a].

Belajar dari Greece-Athens, tujuan pendidikan adalah Character Building [Drijarkara 2005] dan untuk menghadirkan orang yang bijaksana dan bermartabat. Bukan hanyagood sol­dier seperti bangsa Sparta [Lahanas]. Mungkin karena mereka anti perang dan kekerasan, atau juga mungkin mereka sudah bosan dan jenuh dengan peperangan dan kekerasan dan ingin mengubah masa depan bangsanya melalui pendidikan. Anak-anak putri Greece-Athens tidak pergi ke sekolah, mereka melakukan pekerjaan rumah membantu ibu mereka yang mengajari mereka sesuai dengan kebutuhan mereka saat nanti memerankan perannya di keluarga. Menurut Plato [Greece Index], pendidikan jiwa, raga, estetika akan membuat siswa laki-laki akan se­makin belajar lebih perwira, lebih perasa dan peka terhadap situasi, lebih berharmoni, dan lebih menyatunya kata dan tindakan. Dalam kehidupan laki-laki, setiap bagian membutuhkan har­moni dan keteraturan. Karakter bukan buku pelajaran tetapi objek utama pendidikan bangsa Greece-Athens.

Maka, bukan hanya Pendidikan menjadi fondasi bagi tujuan yang lain, terutama bagi bangsa Indonesia sesuai dengan konstitusinya, namun juga Pendidikan adalah bagian integral dari pembanguan bangsa karena gegayuhan generasi yang akan datang itu digantungkan di Pendidikan. Tidak ada proses yang strategis dan vital dari sebuah pembangunan bangsa kecuali Pendidikan karena manusia adalah cara dan sekaligus tujuan untuk memperbaiki kondisi sosial [Tilaar 2012]. Maka, para pejuang pergerakan Indonesia seperti Dr Wahidin Soediro Hoesodo sejak 1900 telah berpikir bagaimana memajukan pendidikan bangsa pribumi agar mampu mem­bebaskan bangsanya. Juga perbandingan pendidikan antara Yunani Atena dengan Yunani Sparta bisa menjadi contoh bagaimana arti vital dan strategis pendidikan bagi pembangunan sebuah bangsa. Oleh karena itu, Pendidikan harus ditanggunggugat atas berbagai fenomena kemorosatan kehidupan berbangsa.

  1. PENDIDIKAN ADALAH PEMBUDAYAAN

    Pada awalnya, The Supreme Being dan The Universe. Kemudian hadir manusia untuk belajar dari alam dan mengolah alam. Manusia belajar dari alam dengan cara mengolah dan bersahabat dengan alam yang kemudian memberi manusia hasil olahan tersebut. Proses ini berkesinambungan dan dinamis sifatnya karena hubungan manusia dengan alam itu memberi manusia pengetahuan untuk mengembangkan peradabannya dan bersifat akumulatif ekskalatif.

Being

Sifat manusia tidak sama, ada tensi dan kontradiksi didalamnya. Sifat ini memiliki dua sisi yaitu Sensual Nature dan Higher Nature [Pestalozzi^b]. Sensual Nature terdiri dari insting dasar yang secara umum dimiliki manusia dan hewan. Pestalozzi sering menyebut sensual nature sebagai Animal Nature. Insting ini muncul karena stimuli kebutuhan­kebutuhan tubuh untuk melangsungkan kehidupan individu dan ras manusia. Animal Nature ini juga akan membuiat manusia melakukan sesutau yang akan membuatnya bahagia. Higher Nature adalah yang membuat manusia berada diatas binatang. Higher Nature terdiri dari kemampuan untuk merasakan kebenaran, menunjukkan cinta, peraya Tuhan, mendengarkan kata hati, berbuat adil, merasakan keindahan, kreatif, melihat dan meralisasikan nilai yang lebih baik, bertanggung jawab, melawan egoisme, membangun kehidupan sosial, bertindak wajar, mewujudkan kesempurnaan diri. Pancaran iman dapat dilihat dalam higher nature dan ini menyebabkan manusia menjadi citra Tuhan. Untuk alasan ini, Pestalozzi sering menamakan higher nature ini sebagai inner nature, spiritual nature, moral nature, atau divine nature.

Menurut Ki Hadjar [Dewantara I^b], Kebudayaan adalah buah dari keadaban atau keluhuran budi manusia dan bersifat dinamis. Dengan menggunakan metafora bibit dan buah, seperti Pestalozzi, Pendidikan ibarat Petani yang merawat tanamannya dengan cara menyiangi , memberi pupuk, memberi air agar bibit tersebut berbuah banyak.

Dalam hal ini, baik Plato maupun Ki Hadjar berpendapat bahwa Jiwa manusia sudah ada sebelum kelahiran dan pendidikan adalah untuk memerdekakan manusia untuk menuju kesempurnaan dirinya. Sejak lahir, orang tua mendidik anaknya dan itu tidak lepas dari lingkungan alam dan budayanya. Ini sifatnya alami, regeneratif, dan dinamis. Maka, dibedakan antara Nature and Nurture. Pendidikan tidak akan mengubah Nature. Petani tidak mungkin mengubah bibit mangga kelak berbuah anggur.

Artinya, dalam Pendidikan itu terjadi transformasi budaya antar generasi secara berkesinambungan hingga akhir jaman. Namun, karena dalam diri manusia ada sifat egoisme yang muncul dari Sensual Nature maka sifat destruktif manusia terhadap alam dan lingkungannya perlu dikendalikan. Disinilah peran Pendidikan agar perkembangan peradaban manusia tidak menuju kepada penghancuran dirinya. Alira Postmo mengatakan bahwa modernitas yang mengkritisi tradisionalitas harus dikritisi agar manusia tetap manusia yang semakin manusiawi.

  1. KESIMPULAN

    Pendidikan adalah budi daya manusia untuk memerdekakan manusia agar menuju kesempurnaan dirinya. Bahasa adalah faktor penting dalam pembudayaan itu. Maka, baik Vygotsky maupun Ki Hadjar sangat menekankan penggunaan bahasa Ibu dalam pendidikan awal, paling tidak hingga taman kanak-kanak. Setelah itu, ketika mulai masuk ke pendidikan dasar mulai diperkenalkan bahasa Indoensia sebagai bahasa komunikasi antara etnis bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak menggantikan bahasa daerah atau lokal. Justru bahasa daerah atau lokal itu yang harus dijaga dan dilestarikan karena itu akan menjadi pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lihat pula :  [1]  KEBANGSAAN, [2]  Pendidikan adalah Human Development 

Bibliografi

Drijarkara 2005: Drijarkara N. SJ, Filsafat Manusia, Kanisius , 2005, ISBN 979-413-460-0, hal 10-78, Cetakan ke 22 ,

Dewantara I^a: Ki Hadjar Dewantara, Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian pertama : Pendidikan, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa , 1961, ISBN, hal 165-175, Kata Pengantar Dalam “Dunia Pendidikan ” 1945 , Perguruan Taman Siswa

Daoed Jusuf: Editor: St Sularto , GURU-GURU KELUHURAN, Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Jaman, Penerbit Buku Kompas , 2010, ISBN 978-979-709-512-3, hal 61-71, Aku Tetap Bermimpi ,

Cohen^a: Cohen M. Leonora, , Section III – Philosophical Perspectives in Education, 1999, Online 25 September, 2011 , http://oregonstate.edu/instruct/ed416/PP2.html, , Oregon State University – School of Education

Wedhatama, Mangkunegara IV: Mangkunegara IV, , Wedhatama, , Online 31 Desember 2011, http://wayangprabu.com/2010/10/15/serat-wedhatama/, ,

Pestalozzi^a: Johann Heinrich Pestaloozi, Editor: Arthur and Kuhlemann Gerhard, The Ideal Of a Farmer and The Farmer of Pestalozzi, Neuhofyears 1769-1798, Pestalozzi in Internet 2010 , Online 24 April, 2011, http://heinrich-pestalozzi.info, 2010 ,

Sastrapratedja 2001: Sastrapratedja M. SJ, Pendidikan Sebagai Humanisasi, Penerbitan Universitas Sanata Dharma , 2001, ISBN 979-8927-49-4, hal 3-27, ,

Drijarakara 2006: Drijarkara N.SJ, Karya Lengkap Driajarkara, PT Gramedia Pusataka Utama , 2006, ISBN 979-22-2239-0, , ,

Brameld 1966: Theodore Brameld, Philosophies of Education in Cultural Perspective, Holt Rinehart and Winston , 1955, 21063-0115, pp 227-234, ,

Brameld 1965^a: Theodore Brameld, Education as Power, Caddo Gap Press , 1965, ISBN 1-880192-34-9, pp 119-148, Re-Issue 2000 of the original 1965 book , Forwarded by Robert J. Nash, The Society for Educational Reconstruction

Lahanas: Michael Lahanas, , Education in Ancient Greece, , on line 01/08/12, http://www.mlahanas.de/Greeks/EducationAncientGreece.htm, ,

Greece Index: , , Education In Ancient Greece, , Online 01/23/11, http://www.greeceindex.com/greece-education/greek_education_ancient_greece.html, ,

Tilaar 2012: H.A.R. Tilaar, Arah Politik Pendidikan Nasional, Januari 23, 2012, Lembaga Komunitas Air Mata Guru , , Seminar Nasional,

*Dewandik DIY, Disampaikan dalam Seminar Kebudayaan Daerah yang diselenggarakan oleh Disdikpora DIY 4 April 2012