Social Reconstructionism, Tantangan Untuk Dunia Pendidikan Indonesia Saat Ini

 

  1. Apakah Social Reconstrustionsm ?

Social Reconstructionism adalah satu dari empat teori pendidikan1 dan berhulu ke filosofi Pragmatism yang mulai berkembang sejak 1870 di USA dan dimulai oleh pemikiran-pemikiran Charles Sanders Peirce (1839–1914), William James (1842–1910), John Dewey (1859-1952), George Herbert Mead (1863 – 1931), dan Chaunchey Wirght (1830 – 1875). Istilah Pragmatism pertama kali dijumpai tahun 18982 Pragmatism, mengkritik Idealism dan Realism, dan percaya bahwa realitas itu selalu berubah sehingga Social Reconstruionism melihat bahwa sekolah sebagai lembaga sosial adalah tempat untuk mengembangkan daya kritis siswa untuk melihat masalah-maslah sosial disekitarnya.


Pragmatism philosophy3.

Metaphysics : realitas adalah interaksi antara individu dengan lingkungannya atau pengalamannya sehingga selalu membuatnya berubah.

Epistemology : Mengetahuii adalah hasil dari pengalaman yang menggunakan pendekatan ilmiah

Axiology : Sistem nilai bersifat situasional dan relatif

Selanjutnya, mengenai Pragmatism dan Pendidikan, menurut Kneller4,,

  • Anak adalah natural learner, karena secara natural dia akan selalu ingin tahu.

  • Perubahahn adalah esensi realitas

  • Tujuan dan cara pendidikan harus luwes dan terbuka untuk revisi karea perubahan lingkungan

  • Tujuan da cara pendidikan harus dicapai dengan cara rasional dan ilmiah

  • Pendidikan adalah cara dan sekaligus tujuan

  • Sifat dasar manusia itu mudah berubah dan lentur

  • Anak adalah organisme aktif yang terus menerus sibuk untuk merekonstruksi dan meninterpretasi pengalamannya

  • Pikiran akan selalau aktif dan melakukan eksplorasi

  • Pengetahuan dihasilkan oleh “transaksi” antara manusia dengan lingkungannya

  • Kebenaran adalah properti dari pengetahuan

  • Peran Guru adalah mengkonstruksi situasi-stuasi pembelajaran disekitar masalah.

Yang terakhir, mengenai kredo Dewey5 salah satu tokoh Pragmatism tentang Pengetahuan dan Pendidikan,

  • Pendidikan dijalankan oleh partisipasi individu dalam kesadaran sosialnya.

  • Pendidikan yang benar hanya mungkin berjalan karena keinginan anak untuk mengartikulasi lingkungan sosialnya dimana dia menemukan dirinya.

  • Pendidikan mempunyai dua sisi yaitu sisi psikologis dan sisi sosial.

  • Pengetahuan mengenai kondisi-kondisi sosial dan peradabanya diperlukan agar secara tepat bisa menerjemahkan potensi anak.

  • Sisi pesikologis dan sosial selalau berhubungan namun tidak boleh dalam pendidkan salah satu mendominasim yang lain. Keduanya harus berjalan seiring.

Sedang mengenai Sekolah , keyakinan Dewey6 adalah,

  • Sekolah terutama adalah institusi sosial

  • Pendidikan adalah proses berkehidupan dan bukan persiapan untuk menyiapkan khidupan yang akan datang

  • Sekolah harus mencerminkan kehidupan saat ini yaitu kehidupan nyata yang akan dijumpai di keluarga, lingkungan, dan permainannya.

  • Pendidikan yang tidak terjadi melalui bentuk-bentuk kehidupan , bentuk-bentuk kehidupan yang berharga dalam kehidupannya, adalah pendidka yang akan membawa kehancuran masyarakat.

  • Sekolah sebagai sebuah institusi sosial hendaknya menyederhanakan atau memodel kehidupan sosial yang ada sehingga bisa menjadi bentuk-bentuk yang bisa disemai.

  • Sebagai penyerdahaan kehidupan di sekolah sekolah, maka sekolah harusm menjadi kepanjangan kehidupan di rumah.

  • Banyak edukasi saat ini gagal karena mengabaikan perinsip-prinsop fundamental sekolah sebagai bentuk kehidupan masyarakat’

  • Psikologi adalah penting karena menyangkur perkembangan anak

  • Sosial penting karena rumah adalah bentuk khidupan sosial

  • Pusat pendidikan moral adalah model kehidupan sosial sebagai konsepsi sekolah terbaik.

  • Stimilasi dan pengendalian anak dilakukan dalam kehidupan sosial masyarakat

Filosofi Pragmatism dan berbagai pendapat filosofi tersebut operasional di pendidikan dan sekolah telah menjadi benang merah bagi teori Pendidikan Social Reconstructionism.

Tokoh-tokoh Social Reconstructionism adalah:

  • Theodore Brameld (1904-1987)

      • Human annihilation through technology

      • Human compassion

  • George Counts (1889-1974)

      • Education as a means to preparing Critical Theorists

      • System must be change to overcome oppression and to improve human conditions

    • Paulo Freire (1921-1977)

        • Champion education and literacy as the vehicle of social change

      • Antonio Gramsci
          • Notebook from the prison
        • Diantara ke-empat tokoh Social Reconcstructionist tersebut, Theodore Brameld dengan “Human annihilation through technology” perlu dikritisi karena bertentangan dengan hakekat Pragamatism dimana perubahan adalah realita. Teknologi adalah realita yang selalu berubah seiring dengan perkembangan umat manusia7. Dua yang lain sejalan dengan filosofi yang menjadi hulunya.

          1. Tujuan Social Reconstrustionsm ?

          Seperti halnya filosofi yang menjadi hulunya, Social Reconstructionists melihat bahwa perkembangan peradaban dalam dimensi waktu Chronosytem Urie Brefenenbrofner8 mempengaruhi lingkungan perkembangan anak secara ekologis sejak Microsystem hingga Macrosystem. Oleh karena itu Social Reconstructionists percaya bahwa:

          • Pendidikan didisain untuk membangkitkan kesadaran siswa mengenai masalah-masalah sosial dilingkungannya dan terlibat secara aktif untuk ikut mencari jalan keluarnya.

          • Pendidikan didisain untuk membangkitkan kesadaran siswa agar siswa menjadi kritis dan bertanya mengenai status quo dan untuk menginvestigasi isu-isu kontroversial di bidang agama, politk, ekonomi, pendidikan.

          • Sekolah sebagai agen sosial adlah lembaga dimana saran-saran baru untuk mengubah masyarakat didorong dan diutamakan buykan melulu sebagai sebuah latihan intelektual.

          Dengan demikian jelas bahwa Pendidikan dan Sekolah adalah kontekstuial dengan lingkungan sosialnya. Disamping itu, Pendidikan selalu terkait dengan Values.

          1. Tantangan Social Reconstrustionsm untuk NKRI?

          Saat ini, NKRI dihadapkan oleh masalah sosial yang luar biasa seperti kehilangan sense of Identity, kehilangan sense of Humanity, kehilangan sense of Values. Itu semua berkaitan dengan Pendidikan. Apabila meminjam Tri Sakti Soekarno yaitu Berdikari dalam Ekonomi, Berdaulat di bidang Politik, dan Berkepribadian di bidang Budaya, maka kita sebagais ebuah bangsa telah kehilangan Kepribadian.

          Maka, pertanyaan pendidikan untuk membangun Bangsa atau Negara menjadi jelas jawabnya dengan  teori pendidikan Social Reconstructianism. Ketika Pendidikan selalu berkaitan dengan dua kata suci yaitu Mengajar dan Belajar dan Pendidikan adalah sarana untuk menjadi estafet peradaban antar generasi sebuah bangsa, maka jawabnya sangat jelas yaitu Pendidikan untuk membangun Bangsa. Negara dibangun diatas fondasi bangsa yang kuat.

          Apa yang sekarang menjadi kebijakan kemendiknas seperti Kantin Kejujuran, Multikultarisme, Karakter Bangsa, dll yang membebani sekolah sebenarnya harus menjadi bagian integral dari Values Ecological System-nya Urie sejak dari Microsystem hingga Macrosystem. Sangat jelas bahwa NKRI adalah High Context Macrosystem. Maka, Penanaman Values itu bagian dari Capacity Building yang menyangkut bukan hanya Intellectual capacity tetapi juga Emotional dan Social Capacity. Sangat jelas pula bahwa lingkungan pendidikan yang inklusif harus menjadi ciri dari pendidikan NKRI guna membangun Values of The Nation.

          ________________________

          1Ornstein et.al., An Introduction to the Foundation of Education, Houghtono., Boston 1985, pp 193-207

          2James, William (1898), “Philosophical Conceptions and Practical Results”, University Chronicle, Vol 1 No. 4, September 1898, on line 12/06/10, http://www.archive.org/stream/philosophicalcon00jameuoft#page/n4/mode/1up

          3Ornstein et.al. Log.cit

          4Knerller George, Introduction to te philosophy of education, 2nd ed., Wiley 1971, pp 13-15, 25-31

          5Dewey John, My Pedagogic Creed, School Journal vol. 54 (January 1897), pp. 77-80

          6Ibid

          7Simak pula Karen F Zuga, Social Reconstruction Curriculum and Technology Education, Journal of Technology Education Vol. 3 No. 2, Spring 1992 ; dan Peter Marshall , Jo-Anne Kelder, and Andrew Perry, Social Constructionism with a Twist of Pragmatism: A Suitable Cocktail for Information Systems Research , 16 Australasian Conference on Information Systems , 29 Nov – 2 Dec 2005, Sydney ,

          8Urie Bronfenbrenner.‎ (1979). The Ecology of Human Development: Experiments by Nature and Design. Cambridge, MA: Harvard University Press. ISBN 0-674-22457-4 dalam Berns M. Roberta, Child, Family, Community, School, Community, 6th ed., Thompson 2004