Pendidikan Indonesia dan filsafat Idealisme

  1. DARI PENDIDIKAN ANCIENT YUNANI KE PLATO

Dua filsafat umum dunia adalah Idealisme dan Realism yang memerupakan filsofi tradisional dan saling berseberangan dari filsuf Yunani Plato dan Arstotle1. Dua yang lain lebih kontemporer adalah Pragmatisme dan Esentialisme. Plato adalah filsuf Yunani Klasik, ahli matematik, dan pencetus pendidikan tinggi di dunia barat yaitu Academy di Atena dimana Aristoteles adalah mahasiswanya.

Plato yang awalnya adalah murid Socrates, menjadikan Western Philosophy dan Science sebagai fondasinya2. Plato (428 – 328 BC), bapak Idealisme ini mengemukakan pandangannya sekitar tahun 360 sebelum Masehi dalam bukunya yang terkenal The Republic dan terbagi menjadi Introduction dengan sepuluh Bab dalam terjemahan Benjamin Jowett3. Secara garis besar berisi dua hal yang saling bertentangan, yaitu Bab I-IV berisi tentang religion and morality, sedang Bab V-X berisi tentang ideal kingdom of philosophy.

The Republic memberi gambaran bukan hanya mengenai proses kemunculan gagasan-gagasan Plato dalam dialog-dialog kritisnya terutama dengan Socrates, Glaucon, Adeimantus, sedang dialog dengan Chephalus, Polemarchus, Thrasymachus, dll., serta apa yang menjadi pergulatan pikirannya dan bagaimana gagasan-gagasannya berkembang dalam prinsip-prinsip definisi, hukum berlawanan, salah kaprah dalam lingkaran perdebatan, perbedaan antara esensi dengan peristiwa, antara cara dan alat, , antara sebab dan kondisi hingga pembagian pikiran kedalam rasional, impulsif, dan elemen-elemen temperamental, atau nafsu dan kesenangan kedalam perlu atau tidak perlu mungkin pertama kali dikupas oleh Plato. Disamping itu, Plato sendiri, dan juga Socrates, Aristotle dan yang lain, telah memberi gambaran mengenai bagaimana model pendidikan di Yunani-Athens sejak kecil dan akhirnya membuahkan filsuf-filsuf dan pemikir-pemikir besar Yunani pada masanya seperti diulas dalam The Introduction di buku The Republic4.

Ancient Greece5

Ada dua negara di Greece, yaitu Sparta dan Athens. Kedua negara ini sangat berbeda dalam pendidikan dan sekolah anak-anak mereka. Di Sparta, seluruh sekolah adalah sekolah negeri, tidak ada sekolah swasta. Sekolah dasar sangat kasar dimana anak Sparta usia 6 tahun dikirim ke boarding school dimana Science dan Matematika bukan merupakan subjek yang penting karena anak-anak bisa belajar sehabis sekolah. Mereka diajarkan untuk mematuhi segala perintah dan tidak boleh menunjukkan kelemahan atau kesakitan selama proses yang keras disekolah. Guru mempersiapkan mereka menjadi prajurit yang baik. Sementara itu, putri-putri Sparta tidak ke sekolah namun mengiktui ibunya untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga.

Di Athens, sebaliknya sangat berbeda persekolahan di Sparta. Siswa mulai sekolah pada usia 7 tahun. Dari lima abad sebelum masehi, seluruh sekolah adalah swasta dengan siswa sekitar 10 sampai 15 siswa dan hanya orang kaya yang bisa sekolah dimana Guru adalah pemilik sekolah yang menarik pembayaran dari siswa sangat mahal. Satu abad kemudian, sekolah negeri mulai dibuka untuk mereka yang tidak mampu. Kepada mereka diajarkan untuk membaca, menulis, pendidikan jasmani, dan musik oleh guru-guru yang berbeda. Penddikan menyangkut jiwa, raga, dan imajinasi6. Tidak banyak waktu bagi mereka untuk belajar Matematika dimana matematika dipelajari dengan mempraktekannya di atas kayu yang dilapisi parafin dengam cara menggoresnya dengan stylus. Setelah siswa belajar membaca dan menulis mereka harus belajar karya-karya sastra Yunani serta sejarah-sejarah terkenal Yunani. Juga setiap siswa harus bisa memainkan instrumen populer Yunani yaitu Lyre dan Flute. Latihan pisik meliputi gulat dan pendidikan jasmani. Tujuan sekolah di Athens adalah Character Building7untuk menghadirkan orang yang bijaksana dan bermartabat. Bukan hanyagood soldier seperti Sparta. Mungkin karena mereka anti perang dan kekerasan, atau juga mungkin mereka sudah bosan dengan perang dan kekerasan dan ingin mengubah masa depan bangsanya melalui pendidikan. Anak-anak putri Athens tidak pergi ke sekolah, mereka melakukan pekerjaan rumah membantu ibu mereka yang mengajari mereka sesuai dengan kebutuhan mereka saat nanti memerrankan perannya di keluarga.

Pesan pendidikan yang bisa dipelajari adalah bahwa model pendidikan bangsa Yuniani-Athena berbeda dari Yunani-Sparta sehingga bisa menghasilkan output pendidikan filsuf-silfuf dan pemikir-pemikir besar Yunani, keindahan artefak-artefak yunani kuno yang luar biasa seperti The Phantenon. Tentu saja, Plato dengan gagasan Idealism yang tentu tidak lepas dari lingkungannya pada saat itu.

Menurut Plato8, pendidikan jiwa, raga, estetika akan membuat siswa laki-laki akan semakin belajar lebih jantan , lebih perasa dan peka terhadap situasi, lebih berharmoni, dan lebih menyatunya satunya kata dan tindakan. Dalam kehidupan laki-laki, setiap bagian membutuhkan harmoni dan keteraturan. Karakter bukan buku pelajaran tetapi objek utama pendidikan bangsa Yunani-Atena

  1. APAKAH IDEALISME ITU ?

Kosa kata Idealism muncul karena teori-teori Plato membangun doktrin mengenai “ideas” atau gagasan-gagasan yang ideal dalam terminologi kepustakaan9 Idealism memandang realita sesungguhnya adalah mental dan spiritual10 sehingga realita bagaimanapun juga tergantung dan tidak bisa lepas dari pikiran manusia berdasar pengalamannya. Bahkan lebih ekstrim lagi, realita itu hanya ada dalam pikiran manusia. Tekanan lebih ke pusat peran ideal atau spiritual dalam interpretasi pengalaman dan realita itu ada secara esensial sebagai prinsip atau kesadaran11.

Pusat doktrin Plato12, dunia yang tampak dan kita rasakan dalam beberapa hal cacad dan berisi kesalahan, kecuali bentuk dan gagasan yang bersifat abadi, tidak brubah. Diantara obyek abstrak yang penting ini adalah kebaikan, keindahan, kebesaran, kesukaan, kesamaan. Dalam pemikiran filosofi, Idealism bertentangan dengan materialism13 dan juga berseberangan dengan Realism.

Namun, menurut Sharlow14, Idealisme pada dasarnya tidak menyangkal realitas “the observable world” Apa yang manusia lihat, sentuh, rasakan, dan dengar bukan tidak ada sama sekali dalam “the observable world”. Maka Sharlow membedakan,

  • Subjective Idealism.

        • Paling langsung menjelaskan Idealism dan paling terkenal dimana pandangan tehadap sebuah realita adalah sebuah konstruk dari isi pikiran yang mengamatinya.

    • Absolute Idealism.

          • Memandang eksistensi sebuah realita tergantung kepada realitas mental dibanding pada isi mental individu yang mengamatinya. Perbedaan dengan Subjective Idealism terletak pada gambaran pada pikiran mengenai realita yang dihadapi.

        • Pluralistic Idealism

              • Ada beberapa pemiikiran individu yang secara bersama-sama mendukug sebuah eksistensi. Pluralistic idealism berbeda dari Absolute Idealism karena memandang realita adalah pikiran individu bukan abosul.

            • Dalam The Republic15, Plato percaya bahwa ada dua dunia. Pertama adalah dunia spiritual atau dunia mental yang bersifat abadi, permanen, berurutan, teratur, dan universal. Ke dua dunia penampakan yaitu dunia pengalaman melalui penglihatan, sentuhan, bau, rasa, dan suara yang sifatnya berubah, tidak sempurna, dan tidak teratur. Pembagian ini berdasar hakekat dualitas manusia, yaitu Jiwa dan Raga. Reaksi terhadap apa yang dirasakan segera oleh manusia lebih banyak berpusat pada pisik dan dunia sensori. Plato menguraikan masyarakat impian dimana pendidikan semua keindahan dan kesempurnaan terhadap jiwa dan raga yang mereka mampu sebagai sesuatu yang ideal.

              Idealisme dan Pendidikan

              Untuk memahami kebenaran seseorang harus memperoleh pengetahuan dan mengidentifikasinya dengan pikiran abosolut, Plato16 juga percaya bahwa jiwa sudah terbentuk sebelum kelahiran dan sempurna menjadi satu dengan alam semesta. Kelahiran memeriksa kelahiran ini maka pendidikan menghendaki gagasan-gagasan tersembunyi menuju kesadaran.

              Pendidikan menurut Idealisme17 adalah untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan dan moral masing-masing untuk melayani masyarakat lebih baik. Kurikulum mengutamakan literatur, sejarah, dan agama . Metoda pengajaran fokus pada penanganan masalah-masalah melalui penjelasan, diskusi, dan dialognya Socrates yaitu metoda pengajaran yang menggunakan pertanyaan untuk membantu siswa menemukan dan mengkalarifikasi pengetahuannya. Introspeksi, intuition, insight, dan semua bagian logika digunakan untuk memunculkan kesadaran dan membangun konsep yang tersembunyi dalam pikiran. Karakter dikembangkan melalui peniruan contoh dan dan ketokohan atau kepahlawanan

              Idealisme Sekolah dan Pengetahuan18

              Pengetahuan berkaitan dengan prinsip-prinsip spiritualitas yang berdasar pada realitas dan merupakan bentuk gagasan-gagasan. Bila pengetahuan itu bersifat transeden dan bersifat gagasan umum maka pendidikan adalah proses intelektualuntuk membawa gagasan-gagasan kepada kesadaran pembelajar.

              Sekolah adalah agen sosial dimana siswa mencari untuk menemukan dan mencapai kebenaran dan merupakan institusi guru dan siswa bersepakat untuk gagasan-gagsan dasar yang akan menyediakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan Socrates dan Plato : Apakah kebenaran ? Apakah keindahan? Apakah hidup yang baik? Jawaban-jawaban terhadap pertanyan-pertanyaan ini meskipun tersembunyi namun ada dalam pikiran kita. Dan kita perlu untuk merefleksikannya danm kemduain memunculkannya . Tidak boleh ada yang menghalangi kita untuk menguak kebenaran19.

              Quality dan Equality. Pendidikan mejaga kualias dengan cara memelihara tingkat intelektual standard untuk semua siswa. Meskipun siswa mencari kebenaran dalam ruangnya sendiri namun kebenaran itu sendiri sifatnya umum. Guru mendorong terwujudnya standard akademik tinggi. Sayangnya, ini akan berakibat pada hanya sekelompok kecil siswa yang bisa dilayani.

              1. IDEALISME DAN BUDAYA BANGSA

              Dari sudut pandang kehidupan berbangsa dan bernegara, ada perbedaan antara membangun bangsa dan membangun negara. Bangsa Indonesia berbeda dengan negara Indonesia. Bangsa adalah kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan budaya, etnik, dan bahasa20, sedang negara secara umum adalah satu kesatuan wilayah, rakyat, dan pemerintah serta diakui oleh negara lain. Syarat primer suatu negara adalah memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki pemerintahan yang berdaulat. Sedangkan syarat sekunder adalah mendapat pengakuan dari negara lain. Mungkin tidak mudah mendefinisikan Bangsa Indonesia karena terdiri sekitar 449 suku bangsa yang tersebar diseluruh provinsi. Mereka datang ke Nusantara secara bertahap dan ada dua bertentangan mengenai itu yaitu R.H Geldern, J.H.C Kern, J.R Foster, J.R Logen dengan Negrito, Proto, dan Deutro serta di sisi lain J. Crawford, K. Himly, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Gorys Keraf yang menyangkal dan mendukung teori Nusantara.

              Apapun pertentangan itu, namun satu hal pasti bahwa ada keragaman suku bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan secara geografis tersebar di seluruh teritorinya. Perkembangan peradaban suku-suku bangsa tersebut di wilayah-wilayah yang ditempati, seiring dengan perkembangan waktu, telah membuat mereka semakin unik dalam hal adat-istiadat, kebiasaan, makanan, keyakinan, dan kepercayaan sehingga semakin mewarnai identitas bangsa Indonesia.

              Di sisi yang lain, NKRI yang diproklamsikan pada 17 Agustus 1945 didisain dengan filosofi dan ideologi yang secara politik terjelma kedalam UUD 1945 yang menjadi sumber dari segala sumber hukum bagi semua UU, dan Peraturan yang dibuat pemerintah. Artinya, pemerintah hasil pemilu tidak boleh keluar dari koridor filosofi dan ideologi NKRI.

              Filosofi dan ideologi bangsa yang menjelma kedalam konstitusi itu hidup dan berkembang serta menjadi ciri bangsa. Penelitian Hofstede21 mengenai lima dimensi budaya di berbagai negara, termasuk Indonesia22, menunjukkan bahwa :

              Indonesiahas Power Distance (PDI) as its highest ranking Hofstede Dimension at 78. The average Power Distance for the greater Asian countries is 71. Artinya, ketidakseimbangan kekuasaan dan kesejahteraan dalam masyarakat cukup tinggi. Dalam kehidupan bermasyarakat, itu bukan berarti menjadi masalah namun cukup diterima di masyarakat sebagai bagian dari mereka dan cultural heritage. Snouck Hurgronye23 pernah melakukan pendekatan ini di Aceh.

              The second highest Hofstede ranking for Indonesia is Uncertainty Avoidance (UAI) at 48, compared to the greater Asian average of 58 and a world average of 64. Semakin tinggi nilai UAI maka semakin rendah toleransi masyarakat. Jadi, masyarakat Indonesia dibanding rata-rata bangsa Asia dan dunia lebih toleran.

              Indonesia has one of the lowest world rankings for Individualism (IDV) with a 14, compared to the greater Asian rank of 23, and world rank of 43. Angka tersebut menjelaskan Gambaran mengenai bangsa Indonesia yang lebih Kolektivistik bila dibanding Individualistik. Ini menjelaskan mengapa paham integralistik Soepomo yang dipilih. Jadi, Hofstede menandai budaya bangsa Indonesia sangat toleran dan sangat kolektivisttik serta menghendaki semangat kebersamaan.

              General Characteristics dan Significant Values pada High Context Macrosystem dalam model sistem ekologi perkembangan anak dan orang dewasa Uri Bronfenbrenner24 menjelaskan bagaimana ke dua parameter tersebut menjadi unsur dominan dalam budaya collective, toleransi, dan mudah menerima budaya asing.

              Juga pendapat Clifford Geertz25 dan Robert A. Hahn26, yang membahas Socio Democracy Soekarno yang dikatakan bukan sebagai demokrasi ala barat namun mutual adjustment, join bearing of burden, voluntarism dan the Spirit of “Gotong Royong” sebagai cultural value, semakin menjelaskan hubungan antara budaya toleran dan kolektivitistik Hofstede dengan penilaian Clifford Geertz dan Robert A. Hahn mengenai nilai Gotong Royomg dalam Pancasila sebagai filosofi bangsa. Tampak pengaruh Plato disana.

              Namun demikian, realita saat ini, apalagi setelah reformasi, muncul gejala-gejala individualistik yang semakin meningkat, hedonisme yang semakin meningkat, jurang kaya dan miskin semakin meningkat, kekerassan semakin meningkat, koruipsi semakin mewabah, penyelahgunaan wewenang pejabat negara semakin mewabah, usaha rakyat kecil yang semakin susah, dimana itu semua memunculkan kegelisahan masyarakat yang tercermin pada berita di media, tayangan dan dialog interaktif TV, seminar-seminar dan diskusi, serta bahan pembicaraan umu. Artinya, berbagai fakta tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat mengkalibrasi realita dengan harapan dan standard kehidupan yang sudah pernah dijalani sebelumnya.

              1. IDEALISME, IDEOLOGI, DAN UU

              Sebelum UU Pendidikan keluar, yaitu setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia, rumusan tujuan pendidikan menurut Panitia Penyelidik Pengajaran di bawah pimpinan Ki Hajar Dewantara dengan penulis Soegarda Poerbakawatja adalah:

              Mendidik warga negara yang sejati, sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk warga negara dan masyarakat.”

              Pengertian “warga yang sejati” itu kemudian dijabarkan sifat-sifatnya dalam pedoman bagi guru-guru yang dikeluarkan oleh Kementerian PP dan K pada tahun 1946, yaitu:

              1. Berbakti kepada Tuhan YME.

              2. Cinta kepada alam.

              3. Cinta kepada negara.

              4. Cinta dan hormat kepada ibu-bapak.

              5. Cinta kepada bangsa dan kebudayaan.

              6. Keterpanggilan untuk memajukan negara sesuai kemampuannya.

              7. Memiliki kesadaran sebagai bagian integral dari keluarga dan masyarakat.

              8. Patuh pada peraturan dan ketertiban.

              9. Mengembangkan kepercayaan diri dan sikap saling hormati atas dasar keadilan.

              10. Rajin bekerja, kompeten dan jujur baik dalam pikiran maupun tindakan.

              Formulasi cita-cita ini menunjukkan bahwa pendidikan ketika itu lebih menekankan pada aspek penanaman semangat patriotisme.

              Setelah kemerdekaan, dokumen mengenai bagaimana Political Philosophy itu dijabarkan untuk mengelola pendidikan Indonesia tertuang dalam UU , mulai UU No. 4 Tahun 1950 Republik Indonesia Tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia, dan disahkan oleh DPRS.R.I., berlaku untuk seluruh tanah air, tanggal 17-1-1954. Tujuan itu
              berbunyi:

              Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga

              Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan

              tanah air” (Bab II, Pasal 3)

              Pendidikan dan pengajaran berdasarkan azas-azas yang termaktub dalam Pancasila Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan bangsa Indonesia. (Bab II, Pasal 4)”

              Hingga UU No 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional Bab II,

              Pasal 2,

              Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945”.

              Pasal 3,

              “Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional”.

              Pasal 4,

              “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

              Dan terakhir menurut UU No 20 Tahun 2003, Bab II

              Pasal 2,

              Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

              Pasal 3 .

              Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

              Pasal 4 ,

              Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan,

              Dari ketiga UU mengenai pendidikan sejak NKRI diproklamasikan, yang secara jelas memuat tujuan pendidikan hanya UU No 4 Tahun 1950 pasal 3, yaitu “membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”; dan UU No 2 tahun 1989 pasal 4, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

              Karena obyek material dan formal Filsafat Ilmu Pendidikan adalah individu dan unit satuan sosial, sedang substansinya adalah menjadi lebih baik, maka mudah sekali dipahami bahwa tujuan pendidikan NKRI adalah untuk mengembangkan bangsa Indonesia “lebih susila dan lebih cakap dan warga Negara yang lebih demokratis serta lebih bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”; menurut UU No 4 tahun 1950 pasal 3; atau “lebih mencerdaskan kehidupan bangsa dan lebih mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang lebih beriman dan lebih bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan lebih berbudi pekerti luhur, lebih memiliki pengetahuan dan keterampilan, lebih sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang lebih mantap dan lebih mandiri serta rasa lebih bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”, menurut UU No 2 Tahun 1989 pasal 4.

              Maka, Tujuan Pendidikan adalah radar bagi Perencanaan Pendidikan Jangka Panjang yang akan menyelesaikan masalah-masalah pendidikan yang telah dihadapi pada periode sebelumnya dan kemudian memformulasikan rencana proyeksi solusi yaitu bangsa Indonesia yang lebih baik dan akan menjadi dasar bagi manajemen untuk bertindak.

              Karena ada tiga peristiwa politik yang membawa perubahan mendasar pada model perencanaan dan tujuan pendidikan, maka pembahasan membagi time frame menjadi tiga yaitu masa rezim Soekarno, masa Rezim Soeharto, dan Pasca Reformasi. Pada masing-masing segment time frame tersebut ada tiga macam UU Pendidikan yang bisa memberi gambaran mengenai bagaiamana Perencanaan Pendidikan berhulu, yaitu UU No 4 Tahun 1950 masa Soekarno, UU No 2 Tahun 1989, dan UU No 20 tahun 2003 Pasca Reformasi. Ketiga UU bisa memberi gambaran betapa Pendidikan sebagai sebuah sub sistem tidak lepas dari sub sitem yang lain.

              Setiap UU Pendidikan yang baru selalu ada aturan yang membatalkan UU Pendidikan yang lama. Maka, UU No 4 tahun 1954 dinyatakan tidak berlaku oleh UU No 2 Tahun 1989, demikian pula dengan UU No 20 Tahun 2003 yang membatalkan UU No 2 Tahun 1989. Padahal UU Sisdiknas No 20 2003 tidak memuat tujuan dan hanya memuat fungsi pendidikan nasional. Maka, Daoed Jusuf mengkritik keras atas tidak tercantumnya tujuan Pendidikan di UU Sisdiknas karena telah melupakan Trinitas Revolusioner Indonesia, yaitu Bangsa – Pancasila – Negara Bangsa27.

              Sebagai penutup, kuliah umum Obama, yang pernah tinggal di Indonesia dan mengenyam pendidikan di Indonesia di UI layak dan pantas untuk di quote sebagai sebuah refleksi pendidikan bangsa karena berisi hal yang paling esensial bagi pembahasan filsafat Idealisme bangsa sebagai dasar Ideologi negara:

              But even as this land of my youth has changed in so many ways, those things that I learned to love about Indonesia — that spirit of tolerance that is written into your Constitution; symbolized in mosques and churches and temples standing alongside each other; that spirit that’s embodied in your people — that still lives on. Bhinneka Tunggal Ika — unity in diversity. This is the foundation of Indonesia’s example to the world, and this is why Indonesia will play such an important part in the 21st century”.

              These are the issues that really matter in our daily lives. Development, after all, is not simply about growth rates and numbers on a balance sheet. It’s about whether a child can learn the skills they need to make it in a changing world. It’s about whether a good idea is allowed to grow into a business, and not suffocated by corruption. It’s about whether those forces that have transformed the Jakarta I once knew — technology and trade and the flow of people and goods — can translate into a better life for all Indonesians, for all human beings, a life marked by dignity and opportunity. Now, this kind of development is inseparable from the role of democracy”.

              ________________________

              1LeoNora M. Cohen & Judy Gelbrich, Oregon State University – School of Education, 1999 , http://oregonstate.edu/instruct/ed416/PP2.html, on line 01/23/11

              2Wikipedia, Plato, http://en.wikipedia.org/wiki/Plato , on line 01/23/11

              3Plato, The Republic, Written 360 B.C.E and Translated by Benjamin Jowett, MIT, The Internet Classics Archive by Daniel C. Stevenson, Web Atomics. World Wide Web presentation is copyright © 1994-2009, Daniel C. Stevenson, Web Atomics. All rights reserved under international and pan-American copyright conventions, including the right of reproduction in whole or in part in any form. Direct permission requests to classics@classics.mit.edu. Translation of “The Deeds of the Divine Augustus” by Augustus is copyright © Thomas Bushnell, BSG.

              4Plato, ibid.

              5Mandy Barrow, The Ancient Greece, http://www.woodlands-junior.kent.sch.uk/Homework/greece/schools.htm; Discover Channel, Ancient Greece, http://www.yourdiscovery.com/greece/education/index.shtml ; Wikipedia, Education in ancient Greece, http://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_ancient_Greece; Oracle Think Quest, Elementry School Through Ages, http://library.thinkquest.org/J002606/HomePage.html , on line 01/23/11

              6Mavrogenes, “Reading in Ancient Greece,” Journal of Reading 23, no.8 (May 1980): 692.

              7Michael Lahanas, Education in Ancient Greece, http://www.mlahanas.de/Greeks/EducationAncientGreece.htm, on line 01/23/11

              8Greece Index, Education In Ancient Greece, http://www.greeceindex.com/greece-education/greek_education_ancient_greece.html , on line 01/23/11

              9 Wikipedia, Idealism, http://en.wikipedia.org/wiki/Idealism, on line 01/23/11

              10 Ornstein, Allen C, Levine, Daniel U, An Introduction to the Foundations of Education, Boston, Houghton M iffin Co.

              12 Kraut, Richard, Plato, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Fall 2009 Edition), Edward N. Zalta (ed.), http://plato.stanford.edu/archives/fall2009/entries/plato/

              13Wikipedia, Philosophy of Mind, http://en.wikipedia.org/wiki/Philosophy_of_mind , on line 01/24/11

              14 Mark F. Sharlow. About Idealism: An Exploration of Some Philosophical Viewpoints that Put Mind Before Matter, 2002,http://www.eskimo.com/~msharlow/idealism.htm , on line 01/24/11

              15Plato, The Republic, Written 360 B.C.E and Translated by Benjamin Jowett, MIT, The Internet Classics Archive by Daniel C. Stevenson, Web Atomics. World Wide Web presentation is copyright © 1994-2009, Daniel C. Stevenson, Web Atomics. All rights reserved under international and pan-American copyright conventions, including the right of reproduction in whole or in part in any form. Direct permission requests to classics@classics.mit.edu. Translation of “The Deeds of the Divine Augustus” by Augustus is copyright © Thomas Bushnell, BSG.

              16Plato, The Republic, Written 360 B.C.E and Translated by Benjamin Jowett, MIT, The Internet Classics Archive by Daniel C. Stevenson, Web Atomics. World Wide Web presentation is copyright © 1994-2009, Daniel C. Stevenson, Web Atomics. All rights reserved under international and pan-American copyright conventions, including the right of reproduction in whole or in part in any form. Direct permission requests to classics@classics.mit.edu. Translation of “The Deeds of the Divine Augustus” by Augustus is copyright © Thomas Bushnell, BSG.

              17LeoNora M. Cohen, Oregon State University – School of Education, © 1999 , http://oregonstate.edu/instruct/ed416/PP2.html

              18Ornstein, Allen C, et.al., Op.cit 190.

              19Warna Pragmatism juga terasa disini.

              20The New Oxford American Dictionary, Nation, Second Edn., Erin McKean (editor), 2051 pages, May 2005, Oxford University Press, ISBN 0-19-517077-6.

              21Geert Hofstede, Culture’s Consequences: Comparing Values, Behaviors, Institutions and Organizations Across Nations, 2nd ed., Sage Pub., 2001

              22Geert Hofstede, Geert Hofstede Analysis Indonesia, on line 12/18/10, http://www.cyborlink.com/besite/indonesia.htm

              23 Wikipedia, Christiaan Snouck Hurgronje, on line 12/18/10, http://id.wikipedia.org/wiki/Christiaan_Snouck_Hurgronje

              24Bronfenbrenner Uri, the Ecology of Human Development, Harvard University Press 1979.

              25Geertz, Clifford. Local Knowledge: Fact and Law in Comparative Perspective, pp. 167-234 in Geertz Local Knowledge: Further Essays in Interpretive Anthropology, NY: Basic Books. 1983.

              26Hahn, Robert A. Anthropology in Public Health: Bridging Differences in Culture and Society Oxford, UK: Oxford University Press. 1999.

              27Daoed Jusuf , Aku Masih Tetap Bermimpi, Guru-Guru Keluhuran, Penerbit Buku Kompas, 2010, pp 69,