PIDATO MENTERI P.P dan K SARINO MANGOENPRANOTO

Hadlirin, lebih dulu saja menghaturkan salam dan bahagia pada Nji Hadjar dan i Hadjar Dewantara.

Sebagai salah seorang anggota dari pada keluarga besar Taman Siswa, jang pada waktu ini mendjabat pimpinan Kementerian PP dan K., tiadalah dapat memisahkan didalam utjapan kami ini, antara tugas keresmian dan wadjib dari pada seorang anggota keluarga.

Saudara, kalau kami kemukakan sebagai anggota daripada pemerintahan, sudah tentu mengemukakan setjara zakelyk, sewadjarnja Ki Hadjar Dewantara mendapatkan gelar, dan tepat, apabila gelar itu dinjatakan dala kebudajaan, Serta ilmiah-ilmiah, alasan-alasan jang dikemukakan oleh Presiden Universitas Gadjah Mada, dapat dimaklumi; hingga segala sesuatu jang dikemukakan oleh sardjana, kaum ilmiah, gelar Kebudajaan bagi Ki Hadjar Dewantara sudah sewadjarnja dan tepat.

Pendidikan, djustru pada waktu Indonesia sedjak dulu sampai sekarang, selalu menanjakan, mentjari-tjari, dimanakah letak pendidikan nasional dan bagaimanakah sifat dan tjara tjaranja. Maka terang pendidikan jang masuk dalam kebudajaan telah dinjatakan oleh kaum ilmiah, bahwa teori-teori, dalil-dalil daripada Ki Hadjar Dewantara jang dihidupkan melalui saluran Taman Siswa, diakui oleh kaum ilmiah.

Maka tidak salah, apabila saja mendjawab pertanjaanpertanjaan apakah pendidikan nasional itu? Dan bagaimanakah usaha-usahanja, dan dapatkah sifat dan bentuk dari tjara mendidik nasional itu? Maka mudah saja kemukakan, selidikilah dasar-dasar, dalil-dalil, sistim-sistim teori-teori Taman Siswa; hingga dengan dasar itulah kita pasti akan mentjapai pendidikan nasional.

Saudara, sebagai tambahan, tidak dapat saja menahan, tidak mengemukakan perasaan saja, selaku orang jang tidak sadja diasuh didalam ruang Taman Siswa, tetapi djuga selaku
orang jang termasuk aktip menjebarkan, membuahkan, mengembangkan dari pada tjita-tjita, sebagai guru, maka saja ingin mengemukakan apa-apa jang sekiranja penting dapat saja miliki sampai sekarang. Dan apa jang saja miliki itu benar-benar dapat merupakan suatu dorongan bagi hidup saja  dalam masarakat.

Saudara-saudara; diantara dalil-dalil, diantara teori-teori dan diantara sistim-sistim jang tadi pagi dibahas di Pagelaran, dan djuga ditambah oleh wakil dari pada keluarga besar, sdr. Soendoro, maka saja ingin mengemukakan satu bekal hidup saja jang saja dapat dari Taman Siswa dan bekal hidup itu bukan main besar kekuatannja, jalah satu hal jang sepélé sadja, jaitu dimana saja mendengar pidato Ki Hadjar di Kongres maupun dikuliah-kuliah, selalu menjatakan sederhana. Sederhana sebagai akibat daripada sistim ,,zelfbedruipen”. Zelfbedruipingsysteem jang menuntun djiwa manusia kearah pertjaja pada kekuatan sendiri.

Para hadlirin, bukan main dorongan djiwa ,sederhana” berpengaruh terhadap djiwa, hingga benar-benar merupakan bekal kuat. Sederhana tidak hanja menundjukkan sesuatu
hidup jang berani melarat, tetapi sederhana adalah menundjukkan sesuatu tuntunan hidup, tiada akan berpikir, tiada akan bertindak, tiada akan berbuat jang mengchajal-chajal.

Tiada kesadaran akan kesederhanaan inilah saudara-saudara sekalian, kita akan dihadapkan oleh sesuatu bentuk dari masarakat sekarang. Maka dengan ini saja mengundang keluarga saja jang besar dari Taman Siswa.

Setiap waktu Taman Siswa diperlukan untuk perkembangan nusa dan bangsa, bangkitkan kembali keluarga besarTaman Siswa !”

Maka taburkanlah bibit kembali kemasarakat, hingga benar-benar zelfbedruipingsysteem jang mempunjai dasar dari kesadaran ini hidup langsung didalam masarakat Indonesia
hingga mentjapai alam tertib damai, aman dan bahagia.

Saudara ! Saja tambahkan sedikit sadja tidak pandjang Semendjak kami diasuh di Ibu Pawijatan Taman Siswa di Jogjakarta, saja hanja melihat satu bentuk bangsa Indonesia,
dimana Taman Siswa memberi naungan peladjaran tidak sadja kepada putera Djawa, tetapi seluruh putera dari segala suku dari lingkungan Indonesia, banjak bergaul dengan kami bersama diasuh dibawah naungan pandji Taman Siswa.

Pada waktu itu sudah ditanam, ditaburkan tjita-tjita kebangsaan satu, bahkan tidak hanja ‘tjita-tjita meliputi satu bangsa bagi Indonesia.

Saja mentjatat didalam kongres, kalau tidak salah Kongres Taman Siswa tahun 1934, Ki Hadjar berpidato, mungkin dokumennja masih ada, tjita-tjita hidup untuk bangsa Indonesia tetapi tjita-tjita hidup Taman Siswa adalah tjita-tjita untuk manusia. Mungkin sekali Taman Siswa dapat Siswa tidak hanja semata-mata hidup dinegara Tiongkok.

Saudara eaudara, auatu tanda bahwa Taman Siswa disamping menghimpun negala kesukuan merupakan suatu kebangaaan, masih djuga mengharapkan lingkungan jang
lebih besar, jang ditekankan oleh Ki Hadjar dengan trikon teorinja.

Sedikit riwajat saja kemukakan, pada waktu missi kebudajaan India datang, tiga bulan jang lalu, seorang wanita penari jang terbaik, datang mengundjungi kámi dikantor, dia mengatakan: Saja mengenal tuan”. Kemudian saja tanja: .Kenal dimana, saja tidak ingat”.
,Saja adalah sama-sama guru dari Taman Siswa”, beliau berkata ,saja adalah sama-sama murid dari Nji Hadjar dan Ki Hadjar Dewantara, saja djuga merasakan hidup didalam
asrama Taman Siswa”. Penari jang terhormat itu bernama Mrinalini Shara Ehai. Dan setelah saja tanjakan, tahun 1934 beliau beladjar di Taman Siswa sini.

Terang bahwa pada waktu itu Taman Siswa tidak hanja meliputi sesuatu kehidupan nusa Indonesia sadja, tetapi mengalir kedaerah sekelilingnja, untuk djuga berguru di Taman Siswa. Pula dari pada Taman Siswa banjak bertukar mahasiswa di India dan banjak diantara kawan-kawan kami jang meneruskan peladjarannja di Shantiniketan.

Saudara-saudara, ini sekedar riwajat, tjeritera; maka sebagai achir saja kemukakan, kalau tadi saja mengundang saudara-säudara karena masarakat tidak lagi memiliki
kesadaran kesederhanaan, sekarang saja mengundang kedua kalinja pada saudara-saudara, masarakat Indonesia sekarang dihinggapi suatu penjakit separatisme, mengagulkan kesukaannja.

Didalam bahaja separatisme ini kami mengundang djiwa besar dari pada keiuarga besar Taman Siswa, tundjukkanlah, hidupkanlah kambali kepada perasaan, apa jang telah ditanam pada kita, tidak mengenal suku, tetapi kita hanja mengendaki ,,suku Indonesia”, bangsa Indonesia jang bersatu.
Terima kasih.

 

Didigitalkan dari  Majelis Luhur Taman Siswa, “Kenang-kenangan Promosi Doctor Homnoris Causa ki Hadjar Dewantara oleh Universitas Gadjah Mada”, Cetakan Ke dua,

Leave a Reply