Dr.Hc

PEMBERIAN GELAR DOCTOR HONORIS CAUSA OLEH UNIVERSITAS GADJAH MADA KEPADA KI HADJAR DEWANTARA

PIDATO PADA PEMBERIAN GELAR DOCTOR HONORIS
CAUSA OLEH UNIVERSITAS GADJAH MADA KEPADA
KI HADIAR DEWANTARA
Pada hari Dies Natalis jang ke – VII tgl. 19 Desember 1956 di Sitihinggil Jogjakarta.
Diutjapkan oleh Prof. Dr..M. Sardjito,
Presiden Universitas Gudjah Mada.

Saudara Ki Hadjar Dewantara.
Pada Dies Natalis Universitas Gadjah Mada jang ke-VII ini, atas nama Senat Universitas, berdasarkan atas kekuasaan jang tertinggi, jang diberikan kepadanja, sebagai mana
tertjantum dalam Statut Universitas tersebut dalam Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1950 pasal 20 ajat 2, dan putusan rapatnja, setelah dipertimbangkannja bahwa Saudara
dengan telah mengamalkan djasa jang sangat besar terhadap nusa dan bangsa Indonesia dalam lapangan kebudajaan, amat berdjasa dalam arti pasal 20 ajat 2 tersebut, kami mengangkat Saudara mendjadi Doctor honoris causa dalam ilmu Kebudajaan, sehingga Saudara memperoleh segala hak-wadjib serta kehormatan jang menurut hukum dan adat terlekat pada deradjat itu

Sebagai bukti tanda, Saudara akan menerima dari Presiden Universitas surat tanda, promosi honoris causa, jang ditanda tangani oleh Presiden Universtas dan Sekretaris Senat Universitas, dan dibubuhi lambang Universitas serta meterai besar Universitas.

Saudara Dr. Ki Hadjar Dewantara.
Menurut adat kebiasaan jang djuga kami semua djunjung tinggi, maka diperkenankanlah kami mengadakan uraian sebagai pertanggungan djawab atas tindakan Senat Universitas itu

Mengingat hakekatnja Balai nasional IImu pengetahuan an Kebudajaan merupakan pendidikan dan pengadjaran BB, ménurut pasal 1 dari Statutnja, maka lima belas bulan
ang lalu pada tanggal 19 September 1955 Universitas Gadjah Mada atas usul Senat Universitas memperoleh kekuasaan djuga untuk memberikan doctoral dalam ilmu kebudajaan, jang sungguh suatu novum didalam sedjarah pendidikan dan pengadjaran tinggi ditanah air kita, sehingga lebih lengkap lagi sjarat-sjarat jang ada padanja untuk menunaikan pula tugsnya ikut serta dalam membangun, memelihara dan mengernbangkan hidup kemasarakatan dan kebudajaan, sebaimana tertjantum dalam pasal 3 huruf c dari Statutnja , dengan berdasarkan atas tjita-tjita Bangsa Indonesia jang
termaksud dalam Pantjasila, kebuda jaan Indonesia seluruhnja dan kenyataan.

Dalam hubungannja jang satu dengan jang lain, maka Ketuhanan jang Maha Esa, perikemanusiaan, kebangsaan, kerakjatan dan keadilan sosial diambilnja sebagai asas filsafat dan pendirian hidup, sedangkan kebudajaan Indonesia sebagai pendjelmaan daripada asas filsafat dan pendirian hidup itu didalam bentuk keseimbangan perkembangan pribadi manusia Indonesia, ialah daripada bakat, kesanggupan dan kekuatannja lahir dan batin, serta pula hasil daripada pendjelmaan dan perkembangan itu jang berudjud nilai-nilai hidup, kerohanian dan kedjasmanian, jang digunakan sebagai
pedoman hidup dan selandjutnja selalu di-inginkan meningkat leluhurannja. Adapun kedua-duanja diletakkan atas kenjataan, dalam bentuk dapatnja ditjapai oleh manusia maupun dalam objektivitanja, sebagai dasar mutlak daripada ilmu pengetahuan dan djuga sebagai dasar kemanusiaan umum. Dengan pengertian jang demikian terdapatlah bagi Universitas Gadjah Mada kemungkinan dan kesempatan membentuk ilmu kebudajaan, jang menghasilkan pengetahuan analitis, kritis dan sintetis sebagai bekal kreatif dalam ikut sertanja membangun, memelihara dan mengembangkan hidup kebudajaan

Dalam pada itu perlu di-ingat, bahwa kebudajaan, baik mengenai pelbagai lingkungan hidup maupun dalam lingkungan tempat dan waktu, merupakan keutuhan dan dipandang dari sudut susunannja terdiri atas bagian-bagian jang mewudjudkan heterogenita mengandung perbedaan.

Sehingga keutuhan itu tidaklah hanja mendjadi pendjumlah daripada bagian-bagiannja, tetapi sesungguhnja diantara bagian-bagiannja itu terdapat kesatuan atau paling sedikit kesamaan dalam dasar, perangai dan tjoraknja. Lain dari itu memang ada suatu kenjataan didalam sedjarah kemanusiaan, bahwa dalam semua kebudajaan terdapat ketunggalan, jang terikat, kepada suatu bangsa dan djuga kepada keadaan masjarakat serta kenegaraannja. Demikianlah asas jang menjatakan adanja kebudajaan nasional Indonesia
tadi, dapat dipertanggungdjawabkan sebagai suatu keutuhan, tersusun atas bagian-bagian jang disamping sifat-sifat perbedaannja sebagai pendjelmaan daripada perbedaan-
perbedaan sepertinja waktu, tempat tinggal, keadaan kehidupán, kepertjajaan, sifat-sifat chusus suku-suku bangsa serta pula pelbagai lingkungan usaha hidup, kesemuanja
mempun jai dasar kesatuan atau kesamaan dasar, perangai dan tjorak, jang mutlak bagi seluruh bangsa, jang sekarang telah djuga memenuhi asas-asas sjarat kemasarakatannja
dan kenegaraan jang selajaknja. Soalnja ialah mentjari dan mendapatkan unsur-unsur tersebut, dan mend jadikannja bekal bagi usaha pembangunan, pemeliharaan dan perkembangan hidup kebudajaan Indonesia.

Didalam diri Saudara Dr. Ki Hadjar Dewantara, Senat Universitas menganggap menemukan perintis hidup kebudayaan dalam arti jang luas isinja dan luas lingkungannja, terutama hidup kebudajaan Indonesia dan djuga hidup kebudajaan umumnja, dengan dasar-dasar jang sekarang djuga ternjata ada ketjotjokannja dengan jang berlaku bagi
Universitas Gadjah Mada. Jang demikian itu mendjadikan Senat Universitats merasa sukur, karena Saudara sedjak berdirinja Universitas Gadjah Mada mendjabat anggota
Dewan Kurator. Dapat kami kemukakan pula, bahwa putusan Senat Universitas dalam hal pemberian doctor honoris causa dalam ilmu Kebudajaan kepada Saudara ini dengan
persetudjuan Dewan Kurator djuga.

Mula-mula sebagai tokoh perdjuangan nasional dengan djalan politik, dan setelah mengalami penderitaan akibat reaksi pendjadjahan, jang sebaliknja daripada maksudnja
menumbuhkan dasar kerohanian jang murni dan leluasa untuk melaksanakan hasrat memerdekakan nusa dan bangsa, maka Saudara memperoleh kebidaksanaan djiwa, jang memberi kesadaran akan tertjakup tudjuan kemerdekaan politik bagi nusa dan bangsa dalam terbangunnja kebudajaan pribadi bangsa Indonesia.

Atas kebidjaksanaan djiwa itu, djuga sesuai dengan peladjaran sedjarah kemanusiaan jang menundjukkan hubungan mutlak antara kebudajaan dan pendidikan, maka
Saudara dengan ketjerdasan pikir dan metodis menempuh djalan perdjuangan baru, lalah pendidikan dalam pengadjaran sebagai bentuk pokok.

Perintjian uraian selandjutnja untuk djelasnja akan kami bentangkan dalam rangkaian jang banjak sedikit djuga menggambarkan riwajat hidup Saudara.

Mula-mula kami ingat pada hari-hari jang sudah setengah abad jang lampau, waktu Saudara sebagai Senior dengan nama R.M. Soewardi Soerjaningrat, dan kami sebagai Junior siswa dari Stovia.

Diwaktu itu gambaran jang kami dapat membuat dari Saudara berbentuk sebagai Nojorono, pemuda, senantiasa gembira hati, dan tangkas, tidak sepi humor.

Kami ketika itu sudah tertarik kepada hasrat Saudara terhadap beberapa kesenian, seperti tidak sadja terhadap gamelan, tetapi djuga terhadap seni musik Barat, dengan sandiwara dan operanja. Dengan sendirinja, kesusasteraan dapat perhatian sepenuhnja dari Saudara, tentu sadja djuga kesusasteraan Belanda, jang diwaktu itu digemari.

Semua-semuanja memperlihatkan tanda-tanda, bahwa djiwa Saudara menginsjafi rasa keindahan budaja, dari Timur dan dari Barat.

Melainkan itu, pada hari tanggal 20 Mei 1908, perkumBudi Utomo didirikan didalam rapat, digedung Stovia jang bersejarah, ‘oleh siswa-siswa Kedokteran, dengan pengurusnja jang pertama jalah almarhum-almarhum Sdr Soetomo sebagai Ketua, Sdr. Goenawan sebagai wakil ketua, Sdr. Soewarno sebagai penulis I, almarhum Šdr. Moh, Saleh penulis II, Sdr. Slamet sebagai bendahari, almarhum Sdr Moh. Soelaiman, dan Sdr. Soeradji sebagai anggota.   ( Di waktu Bapak dokter Wahidin datang di Djakarta untuk membitjarakan hal studiefonds, perkumpulan Budi Utomo sudah berdiri).

Kedjadian jang sangat menggemparkan ini, dan jang djuga memberi getaran hebat dalam perasaan kebangsaan jang kembali dihati sanubari para pemuda peladjar diseluruh Indonesia, memberi djuga kepada Sdr. Soewardi Soerjaningrat getaran djiwa jang luhur ini, jang akan memberi tjorak seterusnja dalam perkembangan djiwa Saudara.

Sebelum tahun 1908 keinsjafan perasaan kebangsaan masih belum merata dan belum berorganisasi; meskipun disana sini ada djiwa pribadi jang mengandungnja, seperti
Pangeran Diponegoro, imam Bondjol. Teuku Umar, Hasan Nuddin, R.A. Kartini dan lain-lain.

Budi Utomo mematjak didalam anggaran dasarnja tudjuan akan mentjari djalan untuk mempertinggi deradjad hidup rakjat Indonesia. Dengan ini maka kita semua sebagai
rakjat baru mendjadi bangun dan insjaf akan kedudukan kita sebagai rakjat jang didjadjah.

Dengan meratanja perasaan itu, maka muntjullah djiwa jang mentjari djalan lain atas tjorak pribadinja sendiri sendiri dengan maksud selaras dengan tudjuan Budi Utomo,
seperti Serekat Dagang Islam (S.I. ).

Sdr. Soewardi Soerjaningrat jang berdjiwa progresif dan agresif bersama-sama dengan almarhum Sdr. Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo dan Sdr. Douwes Dekker terkenal sebagai
Tiga Serangkai”, mendirikan partai politik di Indonesia dengan sembojan , ,Rawé-rawé rantas, malang-malang putung, beraksi untuk Indonesta merdeka dan berdaulat.

Pertumbuhan djiwa Sdr. Soewardi Soerjaningrat menjadi semakin djelas ketangkasannja didalam menjerang fihak Belanda kolonial. Titik puntjaknja jalah berudjud buku siaran dengan kepala : “Als ik eens Nederlander was’, dalam bahasa Indonesianja “Seandainja aku orang Belanda”.  Tulisan itu berupa reaksi terhadap rentjana Gubernemen Belanda jang akan mengadakan ditanah djadjahannja Indonesia, pada tanggal 15 Nopember 1913 peringatan besaran oleh semua penduduk, dari hal 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda sesudah didjadjah Perantjis dibawah Napoleon.

Buku brosur jang dulu sangat menggontjangkan itu menjatakan tidak setudjun ja, tidak selajaknja bangsa Indonesia turut-turut merajakan kemerdekaan orang lain dari bangsa jang menindas kita. Disitu digambarkan menjolok matanja peringatan jang direntjanakan itu, dan lagi menusuk kedalam perasaan kebangsaan kita, perasaan mana baru bertumbuh kembali.

Didalam tulisannja Sdr. Soewardi Soerjaningrat sebagai Nojorono memberi tamparan jang hebat kepada siangkara murka pendjadjah. Tetapi tjaranja tidak kasar, tidak dengan maki-maki, senantiasa tetap sebagai ksatria, memberi kata-kata jang tepat, djitu, indah susunannja, ada humornja, ada sinisnja, tertjampur edjekan jang pedas, jang dilemparkan
kepada sipendjadjah, tetapi selandjutnja djuga memberi pandangan-pandangan, dapat direnungkan untuk fihak sana, dan djuga untuk fihak kita.

Brosur itu dikeluarkan oleh ,,Panitia Bumiputera” dímana duduk almarhum Sdr. Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo.
Karena sebelum terbitnja brosur itu belum pernah maka reaksi dari ada seseorang Indonesia jang berani mengritik tindakan Pemerintah Belanda dimuka umum,  maka rekasi dari Pemerintah itu sangat kerasnja, dan tangan besinja segera berjalanan dengan memanggil dan memeriksa panitia tersebut diatas.

Reaksi Pemerintah Belanda ini mendjadi saran untuk dibahas habis-habisan oleh almarhum Sdr. Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo.

Djuga almarhum Douwes Dekker menjokong sepenuhnja aksi dari Saudara-saudaranja seperjuangan  dengan menulis “Onze Helden” : Tjipto Mangoenkoesoemo en R.M. Soewardi Soeryaningrat ” (Pahlawan-pahlawan kita : Tjipto Mangoenkoesoemo dan R.M. Soewardi Soerjaningrat )

Kedjadiannja pahlawan-pahlawan kita itu menjadi pelopor, mengena penangkapan dan disimpan di pendjara.

Achirnja pada tanggal 18 Agustus 1913, Pemerintah Belahda mendjatuhkan putusan menginternir R.M. Soewardi Soerjaningrat, sekarang Ki Hadjar Dewantara, ke Bangka,
almarhum Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo ke Banda Neira dan almarhum Sdr. Douwes Dekker alias Dr. Danu Dirdjo Setiabudhi ke Timor Kupang. Djala djaring rantai besi
akan mengikat Tiga Serangkai, tetapi karena tangkasnja dan tepat siasatnja ksatria-ksatria perdjuangan tadi, ketetapan dapat dirubah mendjadi diextenir ke, negeri Belanda. Djadi
prakteknja keputusan, jang ditjantumkan oleh Pemerintah Belanda sebagai hukuman berubah mendjadi bepergian ke negeri Belanda, jang dapat dirasakan sebagai perdjalanan
untuk bersenang-senang.

Panah rantai besi hilang sifatnja mendjadi hudjan bunga. Untuk Ki Hadjar Dewantara  bepergian itu suatu kesempatan dan kemungkinan untuk memperkembangkan djiwanja
dengan dasar jang lebih luas. Keputusan externiran ditjabut pada tanggal 17 Agustus 1917. Dan kita dapat menggambarkan karena putusan itu, kembalinja perasaan merdeka jang dialami oleh Ki hadajar Dewantara jangt menjiapkan diri untuk kembali kemedan perdjuangan.

Baru pada tanggal 6 September 1919 Sdr. Ki Hadjar Dewantara dapat pulang di Indoneeia, dan terus menggabungkan diri dipartai politik .,Indische Partai”, tidak sebagai anggota biasa, tetapi pegang tapuk pimpinan, mula-mula sebagai penulis, lalu mendjadi ketuanja.

Djuga Sdr. Ki Hadjar Dewantara mempunjai kesempatan sepenuhnja untuk mengeluarkan tjta-tjitanja, karena memegang redaksi dari harian ,,De Expres”

Sekembalinja dari negeri Belanda djiwa agresif bersendjata-penanja tetap tinggal, dan karenanja seringkali dilus-lus tangan besi Pemerintah kolonial Belanda, jang diwaktu itu
sangat kedjamnja.

Karena sendjata pena tidak dapat mengimbangi sendjata rantai besi dan pendjara, maka pergantian siasat harus didjalankan.

Dengan ini tjorak perdjuangan Sdr. Ki Hadjar Dewantara mendjadi lain dan menjeburkan diri didalam perguruan menurut bakatnja.

Dasarnja perubahan tindakan itu jalah djuga kejakinan dari sdr. Ki Hadjar Dewantara, bahwa: ,,Keadaan jang berdjiwa kolonial itu tidak akan lenjap, djika hanja dilawan dengan pergerakan politik sadja. Oleh karena itu djanganlah kita hanya melulu mementingkan perlawanan terhadap pada uar sadja, akan tetapi harus djuga mementingkan menjebar benih hidup merdeka dikalangan rakjat kita sendiri dengan
jalan pengadjaran, jang disertai pendidikan nasional”

Sedjarah Sdr Ki Hadjar Dewantara dilanjutkan dengan masuk mendjadi guru di sekolah
“Adidarma” , kepunyaan kakaknya: R.M Soejopranoto, pada tahun 1921. Sesudahnja berpraktek satu tahun lamanya, maka Ki Hadajar Dewantara bertjantjut taliwondo dimulai dengan mengangkat pekerjaan jang menjadi besar , pekerjaan pembangunan jang menakjubkan  jalah pada tanggal 3 Juli didirikan 1922 didirikan Perguruan Kebangsaan “Taman Siswa”. Pendirianm ini disertai suatu niat jang ditaati jalah : Dalam satu windu atau 8 tahun kita harus bertapa diam serta bekerja sekuat-kuatnya; tidak boleh berpropaganda dengan rapat-rapat umum , tujukup dengan berpmupakatan santara satu dengan lainnja jang setuju saja.

Sungguh pendirian ini harus diambil sebagai contoh oleh kita semua, juga didalam djaman jang serba tidak memuaskan inik. Di djaman pembangunan ini djanganlah senantiasa berkongres , dengan tuntutan-tuntutan dan beresolusi; disudahilah tempo berbitjara-

Djadi meskipun tjorak pertjuangan berlainan, sungguh haekaktnja tidak berubah, jalah mendidik rakjat untuk mendapat djiwa nasional dan merdeka, dengan sendirinja dikemudian hari, kader-kader itu akan memperkuat bariaan dari Sdr, ki Hadjar Dewantara untuk menentang kolonalisme. Dari itu Taman Siswa selain merupakan badan pembangunan djuga mempunjai sifat badan perdjuangan.

Didalam menindjau asas-asas Taman Siswa itu dapat diambil sebagai dasar demikian :

Berikan kemerdekaan dan kebebasan kepada anak-anak kita; bukan kemerdekaan jang leluasa, namun jang terbatas oleh tuntutan kodrat alam jang chak atau njata dan menudju kearah kebudajaan, jalah keluhuran dan kebahagiaan dan penghidupan dari masarakat, maka perlulah dipakainja dasar kebangsaan, akan tetapi djangan sekali-kali dasar ini melanggar atau bertentangan dengan dasar jang lebih luas, jaitu dasar kemanusiaan.

Dengan dasar ini Sdr. Ki Hadjar Dewantara mentjiptakan sistim dalam arti technis paedagogis dan dalam arti organisatoris ekonomis.

Didalam mendirikan Perguruan Kebangsaan, asas-asas Taman Siswa antara lain jalah, hak mengurus keadaan sendiri, selaras dengan perhubungannja pergaulan-hidup jang  sempurna. Tidak setudju dengan pendidikan jang membangün watak anak dengan sengadja, dengan djalan perintah paksaan batin dan paksaan akan ketertiban dan kesopanan

Didjundjung tinggi pendidikan jang berarti mendjaga dengan suka-tjita, jaitu sjarat terpenting untuk membuka kekuatan anak, baik kekuatan watak dan fikirannja, mau
pun badannja. Pendidikan ini dinamakan “Among Systeem” jang mengemukakan dus dasar:

  1. Kemerdekaan sebagai ajarat untuk menghidupkan dan
    kekuatan lahir dan batin anak, sehingga
    dapat hidup merdeka (berdiri sendiri)
  2. Kodrat alam, sebagai sjarat untuk mentjapai kemadjuan
    dengan setjepat-tjepatnja dan sebailk-baiknja menurut kodratnya

Disini dibebankan dipundak guru-guru Taman Siswa suatu beban jang lebih berat bila dibandingkan dengan guru-guru dari sekolah Gubernemen.

Tugas para pemimpin Taman Siswa ialah terdjun kedalam kalangan rakjat, menjeburkan diri dalam hidup dan penghidupan rakjat, serta menggerakkan rakjat kearah kemadjuan,
sebagai penuntun-penuntun jangan dengan paksaan menarik-narik dari depan, namun sebagai pendorong-pendorong jang berdiri dibelakang.

Tepat djuga sembojan: ,,tut wuri adajani” bermaksud mendorong para pengikut untuk mentjari djalan sendiri, djangan selalu menanti ,aba”, perintah-perintah dari sipemimpin. Dalam pada itu sipemimpin djangan melepaskan perhatian dan pengawasannja terhadap para jang dipimpin dan tetaplah ia berwadjib memberi pengaruh-pengaruh dari
belakang.

Seterusnja asas Taman Siswa berbunji: “Bebas dari segala ikatan dengan sutji hati mendekati sang Anak;  tidak untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba kepada sang Anak.

Didalam asas-asas dari Taman Siswa 1922 tertjantum djuga dasar kerakjatan, dengan maksud mempertinggi pengadjaran dan menjebarkan pendidikan dan pengajaran untuk seluruh masyarakat murba , lai pula supaya dilapisan jang besar lambat laun dapat mendesak djiwa kolonial jang djuga tumbuh di massarakat kita Indonesia.

Dalam lapangan pengadjaran ditjiptakan olehnja sistim paedagogik dan metodik baru. Sistim pendidikan nasional  dipertimbangkan olehnja dalam teeri dan praktik, didasarkan atas kodrat dan alam Indonesia. Sistim itu sekarang masih dapat dipakai. Masarakat mengetahui hal ini. Tinggal terserah kepada ahli-ahli daripada generasi
sekarang dan jang akan datang untuk melandjutkan sistim itu sesuai dengan bentuk masarakat jang akan datang.

Sistim pendidikan Taman Siswa besar pengaruhnja dalamperdjuangan nasional. Ini dapat dibuktikan dari :

  1. berkembangnja Taman’ Siswa meskipun mendapat rin
    tangan hebat dari Pemerintah kolonial diwaktu itu
  2. badan pendidikan Taman Siswa mempengaruhi masarakat
    serta organisasi-organisasi rakjat dalam perdjuangan
    nasional diwaktu itu;
  3. banjaknja pedjuang-pedjuang nasional jang dihasilkan atau
    dipengaruhi oleh Taman Siswa dalam perdjuangan
    kemerdekaan.

Didalam perdjuangan itu tokoh dan pribadi Sdr. Ki Hadjar Dewantara merupakan pusat, lebih-lebih waktu menghadapi Ordonansi Sekolah liar ditahun 1932. Bukti njata
bahwa perdjuangan menghadapi ordonansi itu adalah perjuangan nasional, ialah bahwa seluruh pergerakan nasional,  agama, politik, maupun sosial, serentak berdiri disekeliling
Sdr. Ki Hadjar Dewantara.

Bahwa asas-asas sistim pendidikan Sdr. Ki Hadjar Dewantara tidak sadja dapat dipakai dalam lapangan pendidikan, tetapi djuga dapat dipakai sebagai dasar  dalam hidup kemasarakatan.  dapat did jelaskan antara lain sebagai berikut :

  1. asas ,cultureel nationalisme” dapat dipakai kedalam seba-
    gai dasar kesatuan bagi bangsa Indonesia jang tjorak
    kebuda jaannja beraneka-warna, dan keluar sebagai titik
    pertemuan dengan kebudajaan-kebudajaan dunia;
  2. asas among” atau ,tut wuri andajani” dapat dipakai
    sebagai dasar hubungan pihak penguasa dengan rakiat
    hingga timbul pengertian timbal-balik calam hidup
    demokrasi;
  3. asas ,zelfbeschikkingsrecht”, hak untuk menentukan nasib
    diri sendiri; ini adalah pengakuan hak pribadi tiap-tiap
    orang untuk mengembangkan setjara bebas bakatnja dan
    swadajanja; asas ini sekarang penting bagi bangsa kita
    sebagai keseluruhan maupun bagian-bagian Indonesia seba-
    gai satuan-satuan swatantra
  4. asas demokrasi, jang oleh Sdr. Kil Hadjar Dewan
    tara diartikan ,democratie met leiderschap”, lalah
    bahwa tiap-tiap kebebasan ada batasnja dan perlu
    dipimpin; pembatasan ini mentjegah keterlandjuran(exces exces, anarchie, dan
    sebagainja) dan mengharuskan adanja keseimbangan
    serta tata dan tertib;
  5. asas ,zelfbedruiping”, ialah membiajai diri sendiri dari
    sumber-sumber sendiri; asas ini mengharuskan adanja
    perhitungan dan kesederhanaan, jang renting djuga bagi
    pelaksanaan swatantra
  6. asas kekeluargaan, jang tidak sadja berguna bagi alam
    pendidikan, tetapi djuga bagi penghidupan ekonomi,
    sosial dan politik; asas ini akan lebih memperbesar iklim
    saling-mengerti dan kerdjasama diantara pihak-pihak jang
    berkepentingan ;
  7. asas ,tricon” (concentriciteit, convergentie, continue)
    adalah pengakuan, bahwa antara orang-orang dan dunia
    sekitarnja selalu ada pertimbangan, persatuan dan per-
    sambungan; asas ini penting bagi hubungan kita sebagai
    bangsa dengan bangsa-bangsa lain dalam dunia
    internasional, dan dapat memperbesar kerukunan antara
    bangsa-bangsa.

Sistim pendidikan jang ditjiptakan Sdr. Ki Hadjar Dewantara itu dikehendaki merupakan alat untuk mentjapai tudjuan jang besar, jaitu kebudajaan nasional.

Dalam pada itu bermaksud meniuburkan kesenian, sehingga kesenian ini benar-benar mendjadi milik rakjat, dan mengembangkan kebudajaan daerah-daerah dengan maksud
untuk membentuk kebudajaan nasional, kebuda jaan Indonesia, Jang merupakan “puntjak-puntjak dan sari-sari kebudajaan jang bernilai diseluruh kepulauan, baik jang lama maupun jang tjiptaan baru, jang berdjiwa nasional”

Kebudajaan bangsa sendiri perlu, karena sesuatu bangaa hanja dapat kuat dan bahagia dalam pergaulan dunia, djika bangsa itu mempunjai tjorak jang sesuai dengan kodrat dan watak pembawaannja, jang terlahir berupa kebudajaan Kebudajaan nasional mendjamin tetap adanja kesatuan bangsa dan negara Indonesia. Kebudajaan bangsa dapat dipergunakan sebagai perisai dalam menghadapi cultuur-imperialisme nagara-negara asing.

Dalam pada itu pemeliharaan kebudajaan tidak berarti asal memelihara kebudajaan sadja, tetapi pertama-tama membawa kebudajaan kebangsaan itu kearah kemadjuan jang sesual dengan ketjerdasan zaman, kemadjuan dunia dan kepentingan hidup rakjat lahir dan batin dalam tiap-tiap saman dan keadaan

Dalam lapangan kesusasteraan Sdr. Ki Hadjar Dewantara djuga menundjukkan ketjakapannja dalam tjara melekatkan buah pikirannja itu dalam tulisan, menundjukkan
perasaannja akan kesenian bahasa. Alangkah pandainja serta ah kata-katanja dalam tjara beliau menjusun buah fikirannja. Dalam ini saja mengulangi tundjukan saja pada bukunja “Als ik eens Nederlander was”. Susunan kalimat dalam bukunya itu mengandung arti semua. Peristiwa-peristiwa jang dikemukakan itu benar-benar terdjadi, bukan chajalan dan djuga tidak mengandung fantasi.

Sekarang dapat kami njatakan, bahwa Sdr. Ki HadjarDewantara berdjiwa sebagai perintis dalam 3 lapangan :  perintis kemerdekaan nasional, perintis pendidikan nasional, perintis kebudajaan nasional.

Pada achir kata-kata kami, perlulah kiranja kami ulangi perumusan dasar pikiran bagi pemberian gelar doktor honoris causa itu. Karena djiwa dari Sdr. Ki Hadjar Dewantara
seperti berlian jang indah mempunjai banjak facet-facetnja, maka mendjadi soal untuk Senat Universitas memilih gelar keilmuan apa jang akan disadjikan.

Jang sekarang dilihat masarakat jalah buah pekerdjaan jang sungguh besar ( extensif, intensif dan berpengaruh) itu dari perguruan Taman Siswanja, maka ada jang menitik
ratkan kepada keahliannja dalam hal pendidikan.

Tetapi bila kita merenungkan apa jang dikerdjakan oleh Ki Hadjar Dewantara, dengan tjontoh-tjontohnja jang kami singgung diatas, pemberian penghargaan atas djasanja dalam hal pendidikan (paedagogik) akan hanja mengenai satu facet sadja, dan dengan sendirinja belum tepat.

Dari itu diambil dasar seperti dimuka, kami terangkan
lagi untuk djelasnja, jalah:

Soal-soal mutlak bagi pendidikan, seperti hakekat, isi, batas lingkungan dan tudjuanja. Saudara letakkan dalam suatu sistim, jang mengandung kesatuan dan harmoni. Hakekatnja adalah ,,among dalam perumusan tut wuri andajani”, isinja adalah pemberian kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik untuk mengembangkan bakat
dan kekuatan lahir dan batin, batas lingkungannja ialah kemerdekaan dan kebebasan jang tidak leluasa, terbatas oleh tuntunan kodrat alam jang chak, dan tudjuannja ialah kebuda jaan, jang diartikan sebagai keluhuran dan kehalusan hidup manusia, termasuk pula tentunja kemerdekaan politik.  Lebih landjut dipakainja dasar kebangsaan agar supaja kebudajaan dapat menjelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan dari masarakat. Adapun kebangsaan diartikan jang tidak melanggar atau bertentangan dengan
dasar perikemanusiaan. Dasar-dasar kerohanian dalam konsepsi tersebut menurut pendapat Senat Universitas tiada mungkin lain daripada merupakan unsur-unsur jang terkandung didalam sanubari Saudara sebagai filsafat hidup dan pendirian hidup, jang diliputi kesadaran religieus, ternjata pula dalam asas tuntunan kodrat alam jang chak. Dan karena itu dasar-dasar kerohanian bagi sistim pendidikan dan pengadjaran itu tentu meliputi konsepsi Saudara mengenai kebudajaan, jang Saudara maksudkan melingkungi seluruh kebuda jaan manusia sebagai perseorangan, dan via kehidupan peseorangan ini menjakup seluruh kehidupan, bangsa dan kemanusiaan. Konsepsi mulia ini demi kepentingan nusa dan bangsa, tidak tinggal tjiptaan, tetapi dengan ketabahan hati
membelokkan garis hidup Saudara telah mulai djuga pelaksanaannja dengan hasil sebegitu rupa, sehingga sungguh besar djasa-djasa nasional Saudara.

Dengan dasar demikian, jang tertjipta dan terkandung sebagai unsur-unsur daripada filsafat dan pendirian hidupnja, sebagai tudjuan adalah luas dan melingkungi pula kemerdekaan dan pendidikan nasional.

Dari itu atas asas inilah pelaksanaannja dalam usahanja sebagai perintis kemerdekaan nasional, perintis pendidikan nasional dan perintis kebudajaan nasional, dipandang oleh
Senat Universitas Gadjah Mada jang paling tepat sebagai penghargaannja terhadap djasa-djasa Saudara terhadap nusa bangsa jang sangat besar itu, adalah dengan gelar
Doctor honoris causa dalam ,,lmu Kebudajaan”.

______________
Didigitalkan dari  Majelis Luhur Taman Siswa, “Kenang-kenangan Promosi Doctor Homnoris Causa ki Hadjar Dewantara oleh Universitas Gadjah Mada”, Cetakan Ke dua, 1964, hal  5-16

Leave a Reply