TENTANG KEBUDAYAAN

Kebudajaan, jang berarti buah budi-manusia, adalah hasil perdjuangan manusia terhadap dua pengaruh jang kuat jakni alam dan djaman (kodrat dan masarakat), dalam
perdjuangan mana terbukti kedjajaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai-bagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannja, guna mentjapai keselamatan dan kebahagiaan jang pada lahirnja bersifat tertib dan damai,

  1. Sebagai buah perdjuangan manusia jang berada didalam
    satu alam dan satu djaman, maka kebudajaan itu selalu
    bersifat kebangsaan (nasional) dan mewudjudkan sifat
    atau watak, jakni kepribadian bangsa. Dan inilah sifat
    kemerdekaan kebangsaan dalam arti kulturil. 
  2. Tiap-tiap kebudajaan menundjukkan indah dan tingginja
    adab-kemanusiaan pada hidupnja masing-masing bangsa
    jang memilikinja; dalam hal ini keluhuran dan kehalusan
    hidup manusia selalu dipakainja sebagai ukuran.
  3. Tiap-tiap kebudajaan sebagai buah kemenangan manusia
    terhadap segala kekuatan alam dan djaman, selalu
    memudahkan dan melantjarkan hidup serta memberi alat-
    alat baru untuk meneruskan meneruskan kemajuan hidup ; sedang memudahkan serta memadjukan berarti pula memfaedahkan dan mempertinggi hidup

Hidup tumbuhnja kebudajaan, sebagai buah-budi manusia kebudajaan tidak terluput dari segala kedjadian dan tabiat jang ada pada hidup manusia :

  1. Lahir, bertumbuh, madju, berkembang, berbuah, sakit, mendjadi tua, mundur dan mati.
  2. Kawin dan berketurunan
    a. Setjara ,,asosiasi”, jakni berkumpul tetapi tidak bersatu,
    kerapkali menurunkan ,,bastaard”, jakni bersifat
    tjampuran dan kadang-kadang menundjukkan kemun
    duran atau dekadensi
    b. Setjara ,,asimilasi”, jakni bersatu padu atau ,ma
    nunggil” dan biasanja menurunkan ,,angkatan baru
    jang murni”
  3. Mengalami sèlěksi: apa jang kuat terus hidup, jang lemah
    mati. Setelah hukum-evolusi lain-lainnja tak dapat
    dihindari didalam hidup kebudajaan.

Maka kebudajaan (cultura, cultivare, colere) ialah memelihara serta memadjukan hidup manusia kearah keadaban. Dalam pada itu termasuk pula pengertian memudja-mudja” (cultus, vereering) dan inilah jang kerapkali menjebabkan hidup-bekunja verstarring) kebuda jaan. Karena itu haruslah selalu di-ingati:

  1. Pemeliharaan kebudajaan harus bermaksud memadjukan
    dan menjesuaikan kebudajaan dengan tiap-tiap pergantian
    alam dan djaman.
    2. Karena pengasingan . (isolasi) kebudajaan menjebabkan
    kemunduran dan matinja, maka harus selalu ada hubungan
    antara kebudajaan dengan kodrat dan masarakat
    3. Pembaruan kebudajaan mengharuskan pula adanja
    hubungan dengan kebuda jaan lain jang dapat mengem
    bangkan (memadjukan, menjempurnakan) atau
    memperkaja (jakni menambah ) kebudajaan sendiri.
    4 Kemadjuan kebudajaan harus berupa landjutan langsung
    dari kebudajaan sendiri (kontinuitet), menudju kearah
    kesatuan kebudajaan dunia (konvergensi) dan tetap
    terus mempunjai sifat kepribadian didalam lingkungan
    kemanusiaan sedunia (konsentrisitet).

Kebudajaan Indonesia jang sekarang masih berupa kumpulnja segala kebudajaan daerah, harus mulai sekarang kita galang mendjadi kesatuan kebudajaan untuk seluruh rakjat.

  1. Berhubung dengan tetap adanja kesatuan alam dan djaman.
    kesatuan sedjarah (dulu dan sekarang), kesatuan
    masarakat dan lain-lainnja, maka Kesatuan Kebudajaarn
    Indonesia hanja soal waktu.
    2. Sebagai bahan untuk membangun kebudajaan kebangsaan
    Indonesia perlulah segala sari sari serta pun-
    tjak puntjak kebudajaan jang terdapat diseluruh
    daerah Indonesia dipergunakan untuk mendjadi modal isinja.
    3. Dari luar lingkungan kebangsaan perlu pula diambil
    bahan-bahan jang dapat memperkembangkan dan /atau
    memperkaja kebudajaan kita sendiri
    daerah-daerah maupun dari kebudajaan asing
    dan konsentrisitet tersebut dimuka.
    4 Dalam memasukkan bahan-bahan, baik dari kebudajaan
    senantiasa di-ingati sjarat-sjarat kontinuitet, konvergensi,konsentrisitet di muka
    5. Djangan dilupakan, bahwa kemerdekaan bangsa tidak
    tjukup hanja berupa kemerdekaan politik, tetapi harus
    berarti pula kesanggupan dan kemampuan mewudjudkan
    kemerdekaan kehudajaan bangsa, jakni kekhususan dan kepribadian dalam segala sifat hidup dan penghidupannya diatas dasar adab-kemanusisan jang has, dan dalam.

Sekianlah Saudara Ketu, kata sambetan kami atas uraian Presiden Iniversitas Sdr Prof Dr. Sardjito. Pidato kami tadi semata-mata berudjud “dank-rede” , tetapi kami maksudkan sebagai pendjelasan dan sementara tambahan jang  perlu-perlu, supaja para anggota Senat , dewan Kurator, para Guru Besdar, dan Dwijawara lainnya, pula para Sardjana  dan Siswa-siswa Universitas dapat mengetahuinja. Djika ada perkataan-perkataan jang janggal, kami minta maaf sebanjak-banjaknya.

Saja tutup kata penjambutan kami ini dengsn sekali lagi mengutjapkan banjak terima kasih atas kemurahan hati Senat Universitas Gadjah Mada jang telah memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada kami.  Kepada Saudara prod Dr. Sardjito pula saja mengutjapkan rasa penghargaan jang sedalam-dalamnyauntuk pidatonya jang telah beliau ucapkan setjara tulus ikhlas tadi.

 

Didigitalkan dari Majelis Luhur Taman Siswa, Kenang-kenangan Promosi Doctor Honoris Causa Ki Hadajar Dewantara, Cetakan ke dua, 1964

Leave a Reply