profil Ki Hajar Dewantara

PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN NASIONAL

Pendidikan umumnja berarti daja-upaja untuk memadjukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), fikiran (intellect) dan djasmani anak-anak. Maksudnja ialah supaja kita dapat memadjukan kesempurnaan hidup, jakni kehidupan dan penghidupan anak-anak, selaras dengan alamnja dan masarakatnja. Karena itulah pasal-pasal dibawah ini harus
kita pentingkan :

  1. Segala sjarat, usaha dan tjara pendidikan harus sesuai
    dengan kodratnja keadaan.
  2. Kodratnja keadaan tadi ada tersimpan dalam adat-istiadat
    masing-masing rakjat, jang karenanja bergolong-golong
    mendjadi ,,bangsa-bangsa” dengan sifat perikehidupan
    sendiri-sendiri, sifat-sifat mana terdjadi dari tjampurnja
    semua daja-upaja untuk mendapat hidup tertib-damai.
  3. Adat-istiadat, sebagai sifat daja-upaja akan tertib-damai
    itu, tiada terluput dari pengaruh ,djaman” dan ,alam”
    karena itu tidak tetap, tetapi senantiasa berubah, bentuk
    isi dan iramanja.
  4. Akan mengetahui garis hidup jang tetap dari sesuatu
    bangsa, perlulah kita mengetahui djaman jang telah lalu,
    mengetahui mendjelmanja djaman itu kedalam djaman
    sekarang, mengetahui djaman jang berlaku ini, lalu dapat
    insjaflah kita akan djaman jang akan datang.
  5. Pengaruh baru adalah terdjadi dari bergaulnja bangsa jangsatu dengan jang lain, pergaulan mana pada sekarang mudah sekali, terbawa dari adanja perhubungan modern Haruslah kita awas, akan dapat memilh mana jang baik untuk menambah kemuliaan hidup kita, mana jang akan merugikan pada kita, dengan selalu mengingati bahwa semua kemadjuan itmu dan pengetahuan dan segala perikehidupan itu adalah kemurahan Tuhan untuk segenap umat manusia diseluruh dunia, meskipun hidupnja menurut garis sendiri jang tetap. Djka masing-maa menolaknja.

Pendidikan Nasional ialah pendidikan jang berdasarkan garis- hidup bangsanja (kulturil nasional) dan ditudjukan , jang untuk keperluan perikehidupan (mastschappelijk), jang dapat mengangkat derajat negeri dan rakjatnya, sehingga bersamaan kedudukan dan pantas  bekerjsasama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia.

Pendidikan budipekerti harus menggunakan sjarat-sjarat sesuai dengan roch kebangsaan, menudju kearah keluhuran dan kesut jian hidup batin, serta ketertiban dan kedaulatan kedamaian hidup lahir; baik sjarat-sjarat jang sudah ada dan baik, maupun sjarat-sjarat baru jang berfaedah untuk maksud dan tudjuan kita.

Teristimewa haruslah kita mementingkan pangkal kehidupan kita jang terus hidup dalam kesenian, peradaban, dan keagamaan kita ; atau terdapat dalam kitab-kitab tjeritera (dongèng-dongèng, mythen, legenden, babad dan lain-lain).  Semua itu adalah .archief nasional”, dalam mana ada tersimpan pelbagai “kekajaan batin” dari bangsa kita. Dengan
mengetahui segalanja itu, nistjajalah langkah kita menudju kearah djaman baru akan berhasil tetap dan kekal, karena djaman baru kita ,,djodohkan” sebagai .mempelai” dengan djaman jang lalu.

Berhubung dengan apa jang tersebut diatas perlulah anak-anak kita dekatkan hidupnja dengan perikehidupan tentang hidup rakjat, agar mereka tidak hanya dapat “pengetahuan” saja tentang hidup rakjatnya , namun juga dapat “mengalami” sendiri dan  kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakjatnja.

Karena itu sejogyanjalah kita mengutamakan tjara “pondok-systeem” berdasarkan hidup kekeluargaan, untuk, mempersatukan pengadjaran-pengetahuan dengan pengadjaran budipekerti, sistim mana dalam sedjarah kebudajaan bangsa kita bukan barang asing. Dahulu bernama “ashram“, kemudian didjaman Islam mendjelma djadi “pondok-pesantrèn“.

Pengadjaran pengetahuan adalah sebagian dari penddidikan, jang terutama dipergunakan untuk mendidik fikiran; dan ini perlu sekali, tidak sadja untuk memadjukan ketjerdasan batin, namun pula untuk melantjarkan hidup pada umumnja. Sejogjanyalah pendidikan fikiran ini dibangun setinggi-tingginya, sedalam-dalamnja dan selebar-lebarnja, agar anak-anak kelak dapat membangun perikehidupannja lahir dan batin dengan sebaik-baiknja.

Pendidikan djasmani jang pada djantan dahulu kala djuga tidak asing, harus dipentingkan untuk kesehatan diri sendiri dan untuk mendapatkan turunan jang kuat

 

Didigitalkan Majelis Luhur Taman Siswa, Kenang-kenangan Promosi Doctor Honoris Causa Ki Hadajar Dewantara, Cetakan ke dua, 1964

Leave a Reply