Dr.Hc

Perintis Kemerdekaan Nasional, Perintis Pendidikan Nasional dan Perintis Kebudajaan Nasional,

Dalam pidato pemberian gelar doktor honoris Prof. Dr. Sardjito, Relktor Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta menjatakan penghargaan ilmiah kesardjanaannja terhadap Ki Hadjar Dewantara diantaranja sebagai berikut  :

“Dalam lapangan pengadjaran ditjiptakan olehnja KiHadjar Dewantara, M.T) sistim paedagogik dan metodik baru. Sistim pendidikan nasional Indonesia “dipertimbangkan olehnja dalam teori dan praktek didasarkan atas kodrat dan alam Indonesia. Sistim itu sekarang masih dapat dipakai. Masjarakat mengetahui
hal ini. Tinggal terserah kepada ahli-abli dari pada generasi sekarang dan jang akan datang untuk melandjutkan sistim itu sesuai dengan bentuk masjarakat jang akan datang.

Sistim pendidikan Taman Siswa besar pengaruhnja dalam perdjuangan nasional. Ini dapat dibuktikan dari :

  1. berkembangnja Taman Siswa, meskipun mendapat rintangan hebat dari Pemerintah kolonial diwaktu itu;
  2. bahan pendidikan Taman Siswa mempengaruhi masjarakat serta organisasi-organisasi rakjat dalam perdjuangan nasional diwaktu itu;
  3. banjaknja pedjuang-pedjuang nasional jang dihasilkan atau dipengaruhi oleh Taman Siswa dalam perdjuangan kemerdekaan

Dalam perdjuangan itu tokoh pribadi Saudara Ki Hadjar Dewantara merupakan pusat, lebih-lebih waktu menghadapi Ordonansi Sekolah Liar ditahun 1932. Bukti njata bahwa perdjuangan menghadapi ordonansi itu adalah perdjuangan nasional, ialah bahwa seluruh pergerakan nasional, politik, agama, maupun sosial, serentak berdiri disekeliling Saudara Ki Hadjar Dewantara.

Bahwa asas-asas sistim pendidikan Saudara Ki Hadjar Dewantara tidak sadja dapat dipakai dalam lapangan pendidikan, tetapi djuga dapat dipakai sebagai dasar dalam hidup kemasjarakatan, dapat didjelaskan antara lain sebagai berikut:

  1. asas “cultureel nationalisme” dapat dipakai kedalam sebagai dasar kesatuan bagi bangsa indonesia jang tjorak kebudajaannja beraneka warna, dan keluar sebagai titik pertemuan dengan kebudajaan-kebudajaan didunia;
  2. asas ,,among” atau ,,tut wuri andajani” dapat dipakai sebagai dasar hubungan pihak penguasa dengan rakjat; hingga timbul pengertian timbal-balik dalamhidup demokrasi ;
  3.  asas,zelfbeschikkingsrecht”, hak untuk menentukan nasib diri sendiri; ini adalah pengakuan hak pribadi tiap-tiap orang untuk mengembangkan setjara bebas bakatnja dan swada janja; asas ini sekarang penting bagi bangsa kita sebagai keseluruhan maupun bagian-bagian Indonesia sebagai satuan-satuan swatantra;
  4. asas .demokrasi” jang oleh Ki Hadjar Dewantara diartikan ,democratie met leiderschap” ialah bahwa tiap-tiap kebebasan ada batasnja dan perlu disalurkan dan dipimpin pembatasan ini mentjegah keterlandjuran (exces-exces, anarchie, dan sebagainja) dan mengharuskan adanja keseimbangan serta tata
  5. asaszelfbedruiping”, ialah membiajai diri sendiri dari sumber-sumber sendiri; asas ini mengharuskan adanja perhitungan dan kesederhanaan, jang penting djuga bagi pelaksanaan swatantra
  6. asas ,,kekeluargaan”, jang tidak sadja berguna bagi alam pendidikan, tetapi djuga bagi penghidupan ekonomi, sosial dan politik; asas ini akan lebih memperbesar iklim saling mengerti dan kerdjasama diantara pihak-pihak jang berkepentingan.
  7. asas tricon” (concentriciteit, convergentie, continue) adalah pengakuan, bahwa antara orang-orang dan dunia sekitarnja selalu ada pertimbangan, persatuan dan persambungan; asas ini penting bagi hubungan kita sebagai bangsa dengan bangsa-bangsa lain dalam dunia internasional, dan dapat memperbesar kerukunan antara bangsa-bangsa

Demikian pernjataan seorang sardjana, Prof. Dr. Sardjito, dari Universitas Gadjah Mada, sebagai kupasan ilmiah mengenai Ki Hadjar dengan karja dan adjaran hidupnja.

Selandjutnja sardjana Sardjito menjatakan :

Sekarang dapat kami njatakan, bahwa Saudara Ki Hadjar Dewantara berdjiwa sebagai Perintis dalam 3  lapangan, Perintis Kemerdekaan Nasional, Perintis Pendidikan Nasional dan Perintis Kebudajaan Nasional. Pada achir kata-kata kami, perlulah kiranja kami ulangi perumusan dasar pikiran bagi pemberian gelar doctor honoris causa itu. Karena djiwa dari Saudara Ki Hadjar Dewantara seperti berlian jang indah mempunjai
banjak facet-facetnja, maka mendjadi soal untuk Senat Universitas memilih gelar keilmuan apa jang akan disadjikan.

Jang sekarang dilihat masjarakat, ialah buah pekerdjaan jang sungguh besar (extensif, intensif dan perpengaruh) itu dari perguruan Taman Siswanja, maka ada jang menitik beratkan kepada keahliannja dalam hal pendidikan.

Tetapi bila kita merenungkan apa jang dikerdjakan oleh Saudara Ki Hadjar Dewantara, dengan tjontoh-tjontohnja jang kami singgung diatas, pemberian penghargaan
atas djasanja didalam hal pendidikan (pedagogik) akan  hanja mengenai satu facet sadja, dan dengan sendirinja belum tepat.

Dari itu diambil dasar seperti dimuka , kami terangkan lagi untuk djelasnya , ialah :

Soal-soal mutlak bagi pendidikan, seperti hakekat, isi batas lingkungan dan tudjuannja, Saudara letakkan dalam suatu sistim, jang mengandung kesatuan dan Hakekatnja adalah ,among” dalam perumusan ,,tut wuri andajani”, isinja adalah pemberian kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik untuk mengembang bakat dan kekuatan lahir batin, batas lingkungannja ialah kemerdekaan dan kebebasan jang tidak leluasa terbatas oleh tuntutan kodrat alam jang chak, dan tudjuannja ialah kebudajaan, jang diartikan sebagai
keluhuran dan kehalusan hidup manusia, termasuk pula tentunja kemerdekaan politik. Lebih landjut dipakainja dasar kebangsaan agar supaja kebudajaan dapat menjelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan dari masjarakat. Adapun kebangsaan diartikan jang tidak melanggar atau bertentangan dengan dasar perikemanusiaan.

Dasar-dasar kerochanian dalam konsepsi tersebut menurut pendapat Senat Universitas tiada mungkin lain daripada merupakan unsur-nsur jang terkandung didalam sanubari Saudara sebagai pilsafat hidup dan pendirian hidup, jang diliputi kesadaran religieus
ternjata pula dalam asas tuntutan kodrat alam jang chak. Dan karena itu dasar-dasar kerochanian bagi sistim pendidikan dan pengadjaran itu tentu meliputi konsepsi Saudara mengenai kebudajaan jang Saudara maksudkan melingkungi seluruh kebudajaan manusia
sebagai perseorangan, dan via kehidupan bangsa dan  kemanusiaan. Konsepsi mulia ini demi kepentingan nusa dan bangsa, tidak tinggal tjiptaan, tetapi dengan ketabahan hati membelokkan garis hidup Saudara telah mulai djuga pelaksanaannja dengan hasil begitu rupa, sehingga sungguh besar djasa-djasa nasional Saudara. Dengan dasar demikian, jang tertjipta dan terkandung sebagai unsur-unsur daripada filsafat dan pendirian
hidupnja, maka bagi Saudara Dr. Ki Hadjar Dewantara kebudajaan sebagai tudjuan adalah luas dan melingkungi pula kemerdekaan dan pendidikan nasional.

Dari itu atas asas inilah pelaksanaannja dalam usahanja sebagai perintis kemerdekaan nasional, perintis pendidikan nasional dan perintis kebudajaan nasional, dipandang oleh Senat Universitas Gadjah Mada jang paling tepat sebagai penghargaannja terhadap djasa-
djasa Saudara terhadap nusa dan bangsa jang sangat besar itu, adalah dengan gelar Doctor honoris causa dalam ilmu Kebudajaan”.

Demikian penilaian kesardjanaan dari salah satu lembaga ilmiah, terhadap djasa dan karja Ki Hadjar Dewantara dari salah satu segi lapangan perdjuangannja.

 

Didigitalkan dari Tauhid, Mochammad, PERJUANGAN dan ADJARAN HIDUP Ki Hadjar Dewantara, Majelis Luhur Tqaman Siswa Jogjakarta, 1963

Leave a Reply