BAPAK POLITIK NASIONALISME INDONESIA

Dalam kata sambutannja pada penerimaan gelar doktor honoris causa oleh Ki Hadjar Dewantara, Bung Karno sebagai Keluarga Taman Siswa dan sebagai Kepala Negara, atas nama segenap rakjat Indonesia dan atas nama Negara Republik Indonesia, menjatakan penghormatannja kepada Ki Hadjar Dewantara, diantaranja sebagai berikut:

Saja akan bitjara tidak sadja sebagai orang darl Keluarga Taman Siswa, tetapi saja bitjara atas nama ,SEGENAP RAKJAT INDONESIA JANG DELAPANPULUH DJUTA”. Saja bitjara atas nama ,,NEGARA REPUBLIK INDONESIA”

Didalam kwalitet itulah saja merasa bahagia, dapat ikut mengagungkan asmanja Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjár Dewantara adalah putera Indonesia jang besar Bahkan bagi saja persoonlijk, saja selalu menganggap Ki Hadjar Dewantara sebagai saja punja Saudara tua, sebagai Saudara Kangmas, bahkan sebagai diutjapkan Saudara Semaun, pula sebagai guru saja.

Didalam pemberian gelar doktor honoris causa, sebenarnja Universitas Gadjah Mada kurang tepat dan kurang adil, djikalau Universitas itu mendahulukan saja dari pada Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara sebagai tadi saja katakan, ada seorang putera Indonesia jang besar. Tiap-tiap bangsa, Saudara-saudara, tiap-tiap bangsa jang besar, mempunjai eksponen-eksponen jang besar kalibernja. Maka bangsa Indonesia bolehlah berbahagia, mempunjai seorang eksponen jang besar sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Saja persoonlijk, Saudara-saudara, merasa bahagia, dapat pada waktu saja muda ,,nglésot” pada kakinja Ki Hadjar Dewantara. Saja termasuk pemuda-pemuda jang bahagia, dapat maguru kepada orang-orang Indonesia jang besar. Maguru kepada almarhum Kjahi Hadji Achmad Dachlan. Maguru kepada Dr. E.F.E Douwes Dekker jang kemudian bernama Setiabudi. Maguru kepada Tjipto Mangunkusumo, maguru kepada R.M. Suwardi Suryaningrat jang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara, maguru kepada Saudara Semaun, jang saja unduh dari Moskow, maguru kepada eksponen-eksponen lain; oleh karena itulah saja dapat merasakan Saudara, bahwa bangsa Indonesia Insja Allah Subchanahu wa ta’ala, dapat mendjadi suatu bangsa jang besar, oleh karena sudah ternjata bangsa Indonesia sudah dapat melahirkan putera-puteranja jang besar.

Bagi saja Saudara-saudara, jang sekarang duduk dalam dunia alam politik, bagi saja terutama melihat Ki Hadjar Dewantara bersama-sama Dr. E.F.E. Douwes Dekker Setiabudi, bersama dengan Dr. Tjipto Mangunkusumo, sebagai bapaknja politik nasionalisme Indonesia. Alangkah baiknja, djika pemuda-pemuda djaman sekarang, jang diantara mereka itu ada jang mengedjek Ki Hadjar Dewantara, menginsjafi, bahwa Ki Hadjar Dewantara salah seorang Bapak politilk nasionalisme

Malahan Saudara-saudara, nama Ki Hadjar Dewantara dalam waktu jang achir-achir ini, hidup berkobar-kobar lagi didalam dada saja. Oleh karena saja diwaktu jang achir-achir ini sedang prihatin, merasakan perpetjahan-perpetjahan, pertikaian-pertikaian dikalangan bangsa Indonesia sendiri. Saja ingat, bahwa kira-kira 33 th. jang lalu, Ki Hadjar Dewantara, Dr. E.F. Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangunkusumo, sebagai pemimpin-pemimpin dari Indische Party, telah memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, apa jang harus diperbuat oleh pemimpin-pemimpin partai politik djikalau ada kekatjauan didalam kalangan bangsa.

Pada waktu Ki Hadjar Dewantara, Dr. T jipto Mangunkusumo, Dr. E.F.E. Douwes Dekker dan beberapa nasionalis-nasionalis lain, jang mendjadi pemimpin mimpin dari Indische Party, oleh karena dilihat bangsa Indonesia terlalu terpecah belah oleh partai-partai politik, maka atas inisiatif Dr. E.F.E. Douwes Dekker Tjipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, dikuburkan Indische Party, Saudara-saudara. Untuk memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, bahwa persatuan bangsa adalah harus diutamakan diatas segala hal. Maka oleh karena itu Saudara-saudara, saja minta kepada segenap rakjat Indonesia, supaja merenungkan hal ini sedalam-dalamnja.

Manakala kita semuanja beriang gembira, melihat bahwa Ki Hajar Dewantara dimuliakan oleh Universitas Gadjahmada, sebagai doctor honoria causa dalam ilmu kebudajaan. Manakala kita beriang gembira, bahwa salah seorang putera Indonesia jang besar, dapat kehormatan besar diatas persadanja ilmu pengetahuan dan ilmu kebudajaan, marilah kita semuanja memikirkan akan nasibnja bangsa Indonesia kemudian hari, kemudian hari itu, tergantung daripada keadaan dihari sekarang.

Bersatulah rakjat Indonesia sebagai selalu diandjur-andjurkan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Demikian kata-kata penghargaan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia dan salah seorang anggota Keluarga Taman Siswa terhadap kebenaran Ki Hadjar Dewantara, maka sebagai putera Indonesia jang besar, sebagai bapak politik nasionalisme Indonesia, sebagai guru dari pemimpin-pemimpin besar tanah air, guru dari perdjuangan bangsa Indonesia.

Sumber :
Didigitalkan datri Tauhid, Mochammad, PERJUANGAN dan ADJARAN HIDUP Ki Hadjar Dewantara, Majelis Luhur Taman Siswa Jogjakarta, 1963

Didigitalkan dari  Majelis Luhur Taman Siswa, “Kenang-kenangan Promosi Doctor Homnoris Causa ki Hadjar Dewantara oleh Universitas Gadjah Mada”, Cetakan Ke dua, 1964, hal  5-16

Leave a Reply