PEMIMPIN DAN PENDIDIK YANG SUKAR DITJARI TARANYA

Dalam pidato dukatjita Pemerintah jang diucapkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Prijono dengan sedu sedan dan tjutjuran air mata pada upatjara pemakaman Ki Hadjar Dewantara dipendapa Taman Siswa di Jogjakarta tanggal 29 April 1959, diuraikan betapa jasa Ki Hadjar Dewantara bagi bangsa dan rakjat:

“Pemerintah menjatakan,-, demikian Menteri Prijono, dengan wafat Ki Hadjar Dewantara itu sebagai kehilangan seorang pendekar, jang sipat-sipatnja telah memberi kekuatan batin pada perdjuangan kemerdekaan politik, kemerdekaan sosial ekonomi, maupun perdjuangan kebudajaan dan kerochanian

Pemerintah menjatakan kedjadian itu sebagai kehilangan seorang mahaputera, jang perasaannja dan perbuatannja sclalu merupakan keselarasan dan tak pernah bertentangan satu sama lain.

Seluruh perbuatannja, jang tak pernah mendjustai adjarannja itulah jang menjebabkan Ki Hadjar Dewantara mendjadi Pemimpin dan Pendidik jang sukar ditjari taranja”, demikian Pemerintah.

Pemerintah selandjutnja menjatakan dalam utjapan dukanja itu, bahwa ia: ,,kehilangan seorang mahawira, jang dengan gigih serta konsekwen atas dasar non koperasi terus-menerus menentang pendjadjahan Belanda beserta segala matjam politiknja, termasuk politik pendidikannja. Pemerintah menjatakan terima kasih sebesar-besarnja atas segala apa jang telah diberikan Ki Hadjar Dewantara kepada Nusa, Rakjat dan Pemerintah”,

Demikian kami kutip utjapan Pemerintah pada upatjara pemakaman Ki Hadjar Dewantara, untuk mengenangkan apa artinja kehilangan Pemerintah dan rakjat Indonesia dengan dengan wafat Ki Hadajar Dewantara.

 

Sumber : Tauhid, Mochammad, PERJUANGAN dan ADJARAN HIDUP Ki Hadjar Dewantara, Majelis Luhur Tqaman Siswa Jogjakarta, 1963

Leave a Reply