PESTALOZZI

DOKUMEN PESTALOOZI DARI ZURICH HINGGA NEUOHOF

Bila diurutkan secara kronologis maka sebenarnya ada enam masa kehidupan yang bisa dipisahkan terkaiit dengan kehidupan dan karya Pestaloozi, yaitu:

Pestalozzi's time line

  1. Childhood and youth in Zurich, 1746 -1768
  2. Neuohof , his farm, his house for the poor, 1769-1799
  3. Stans and the letter from Stans, 1798-1799
  4. Burgdorf and Munchenbuchsee, 1799-1804/05
  5. The Castle of Yverdon, 1804-1825
  6. Retter der Armin im Neuohof. Prediger des Volg in Lienhard und Gertrud, 1825-1827

Selama kurun waktu tersebut, yaitu sejak 1746 di Zurich hingga dia meniggal di Neuohof 1827, kisah, pengalaman, dan tulisan Pestaloozi tersebar.

Dari enam faset tersebut muncul dokumen Pestaloozi yang sebagian besar berbahasa Jerman dan kemudian oleh Prof. Dr Arthur Brühlmeier, Prof. Dr. Gerhard Kuhlemann1 dikompilasi menjadi empat kelompok dan merupakan kumpulan dokumen dan kisah Pestaloozi yang paling lengkap dan merupakan hasil kompilasi dari berbagai sumber yang telah saya lakukan selama berminggu-minggu di internet yaitu:

I. Introductions
II. Biography
III. Fundamental ideas
IV. Thirty four letter on early education

Di Internet berbagai dokumen Pestaloozi berserakan namun jarang yang berupa terjemahan atau tulisan langsung. Hasil kompilasi dalam empat bagian tersebut bisa menjadi sumber untuk mempelajari dan memahami gagasan-gagasan serta pemikiran Pestaloozi.

Bagian Pertama yaitu Introductions, menjelaskan ringkasan pesan pokok dan merupakan alfa dan omega yang memuat dua karya Pestaloozi yaitu “Figures about my ABC-Book or about the Beginnings of my Thinking (1797)”, disebut : ‘Fables’” dan Pestalozzi’s Swansong (1826), disebut: ‘Swansong “ yaitu berupa gagasannya mengenai arti penting pendidikan elementary school dan bagi orang miskin serta pesan pokok sebelum dia meninggal mengenai hakekat human nature serta kekuatan tiga H yaitu Head, Hand, and Heart.

Bagian ke dua. Betapa pemikiran dan gagasan Pestaloozi Ke-enam faset kehidupan Pestaloozi sejak di Zurich hingga meninggalnya di Neuohof perlu di kompilasi agar sistematik ternyata perlu dipisahkan dari isu-isu penting lain agar mendapat perhatian. Sesuai dengan faset kisah kehidupan estaloozi, bagian ini terdiri dari enam topik dan satu pengantar.

Bagian ke tiga merupakan pesan Arthur Brühlmeier2 khusus untuk mereka yang tertarik mempelajari gagasan dan pemikiran Pestaloozi, seperti spesialis educational science, history, philosophy, economy, sociology sehingga perlu dikelompokkan menjadi lima topik yaitu: 1. Anthropology, 2 State, 3 Poverty, 4 Religion, 5 Education. Dari pengelompokan topik ini, bukan hanya memberi gambaran mengenai bagaimana sistemik pemikiran Pestaloozi namun juga memberi gambaran mengenai eksistensi dan arti penting pendidikan. Maka, bagian pertama dimulai dengan membahas antropologi manusia dan di bagian akhir membahas tentang pendidikan.

Bagian ke empat secara khusus memuat tiga puluh empat surat Pestaloozi ke J.P. Greaves Oct 1, 1818 – May 12, 1819 dan dikelompokkan secara terpisah. Dua puluh enam dari ketigapuluh empat surat tersebut merupakan surat Pestaloozi mengenai awal pendidikan3 yang dikirim pertama kali tgl 1 Oktober 1818. Di bagian akhir surat yang ke tiga puluh empat Pesdtaloozi menekankan mengenai faith, love, and happiness serta peran ibu dalam pendidikan.

Sistematika dokumen Pestaloozi :

I Introductions

  1. 1. Swansong
  2. Fables

II Biography

  1.   Sort Biography
  2.   Childhood and Youth in Zurich
  3.   Neuhof years
  4.   The ideal of a farmer and the farmer Pestalozzi
  5.   Pestalozzi’s son Jean Jaques
  6.   Pestalozzi – educator of the poor
  7.   The author Pestalozzi
  8.   Pestalozzi and the revolution
  9.   The tithe
  10.   Stans
  11.   Burgdorf and Münchenbuchsee
  12.   Yverdon
  13.   The last years of Pestalozzi’s life

III Fundamental ideas

  1.   Anthropology
  2.   State
  3.   Poverty
  4.   Religion
  5.   Education

IV  34 Letters on early education => J.P. Greaves Oct 1, 1818 – May 12, 1819

BAHASAN

Paper ini akan fokus pada pembahasan bagian ke tiga yaitu gagasan-gagasan fundamental Pestaloozi, terutama mengenai Antrropologi Tentang Manusia. Dari bahasan ini kemudian akan dibahas implementasinya pada Bab IV sebagai penutup.

ANTROPOLOGI TENTANG MANUSIA MENURUT PESTALOZZI4.
Pada tahun 1782, berarti tahun-tahun hidup di Neuhof, Pestalozzi menulis surat : “Hanya buku mengenai manusia aku baca selama bertahun-tahun, mengenai manusia, mengenai pengalamannya, dan melalui manusia aku menemukan seluruh filosofiku”. Pestalozzi mengeksplorasi sifat seseorang dan mengembangkan teorinya mengenai masyarakat, politik, teologi, psikologi dan pendidikan dari gagasan mengenai sifat manusia yang dia miliki di hatinya.

Berikut adalah gagasan fundamental Pestalozzi mengenai sifat manusia:

  1. Sifat manusia tidak sama, ada tensi dan kontradiksi didalamnya. Sifat ini memiliki dua sisi yaitu Sensual nature dan Higher Nature.
  2. Sensual nature terdiri dari insting dasar yang secara umum dimiliki manusia dan hewan. Pestalozzi sering menyebut sensual nature sebagai animal nature. Insting ini muncul karena stimuli kebutuhan-kebutuhan tubuh untuk melangsungkan kehidupan individu dan ras manusia. Animal nature ini juga akan membuiat manusia melakukan sesutau yang akan membuatnya bahagia.
  3. Higher Nature adalah yang membuat manusia berada diatas binatang. Higher Nature terdiri dari kemampuan untuk merasakan kebenaran, menunjukkan cinta, peraya Tuhan, mendengarkan kata hati, berbuat adil, merasakan keindahan, kreatif, melihat dan meralisasikan nilai yang lebih baik, bertanggung jawab, melawan egoisme, membangun kehidupan sosial, bertindak wajar, mewujudkan kesempurnaan diri. Pancaran iman dapat dilihat dalam higher nature dan ini menyebabkan manusia menjadi citra Tuhan. Untuk alasan ini, Pestalozzi sering menamakan higher nature ini sebagai inner nature, spiritual nature, moral nature, atau divine nature.
  4. Animal nature dan higher nature saling berhubungan, seperti buah dan bibit. Dua sisi sifat manusia yang saling berbeda tetapi keduanya terkoneksi karena higher nature meluruskan dan mengendalikan sifat alami kebinatangan. Bila higher nature semakin permanen maka tidak bisa dihancurkan. Sebaliknya, sesual nature yang lebih rendah dapat dihancurkan. Disini, Pestalozzi sangat jelas menunjukkan dua sisi alami manusia. Maka, ini menjadi tugas pendidikan, sebisa mungkin untuk menaikkan higher nature dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi agar mampu mengendalikan atau mengeliminasi secara alami animal nature.
  5. Proses diatas meluruskan tiga tahap pengembangan yaitu dari natural state ke social state ke moral state.
  6. Di natural state sifat kebinatangan mendominasi. Higher nature bersifat tidak aktif, seperti bibit. Keingintahuan sebagai contoh adalah bagian dari animal nature, tetapi dalam higher nature hal itu bisa berkembang menjadi ketertarikan yang sesungguhnya mengenai kebenaran. Indolence atau ‘cuwek” atau tidak aktif karena sikap tidak senang sebenarnya bersumber pada kecenderungan untuk menghindari ketidaknyamanan, namun pada saat yang sama itu adalah natural basis untuk menilai segala sesuatu secara benar dan adil.
  7. Secara teoritis ada dua natural state, yaitu unspoiled natural state dan spoiled natural state. Yang membedakan diatara keduanya adalah:
    • Unspoiled natural state hanya bisa dibayangkan atau diabstraksikan. Keadaan ini terjadi pada keadaan dimana ada keseimbangan antara kebutuhan-kebutuhan individu dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu. Bayangkan saja bahwa keadaan ini hanya ada di taman Eden sebelum Adam and Eve memakan buah aple.
    • Hanya spoiled natural state dapat sungguh-sungguh menjadi pengalaman. Ketika manusia beraksi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya maka dia berada di unspoiled natural state. Dia tidak bisa menjalankan egoismenya, the unspoiled state, karena dia harus mengakses kebutuhan yang juga dibutuhkan oleh orang lain. Kadang manusia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara berlebihan dengan menjadi tamak, rakus, dan makan lebih dari yang dia butuhkan.
  8. Dalam natural state of humans, pintu masuk ke social state of being, yaitu menjadi bagian dari suatu masyarakat, menjadi perlu untuk menghindari ketidaksenangan dan kemudian untuk berpikir, merencanakan serta bertindak secara bersama. Masuk dalam social state tidak bisa dihindarkan dan tidak juga bisa dibalik. Melalui sosialisasi manusia di satu sisi bisa menjamin hak-haknya, namun di sisi lain harus ememnuhi kewajiban sosial serta menerima pembatasan-pembatasan yang harus mereka patuhi.
  9. Melalui sosialisasi umat manusia telah menciptakan dan melanjutkan sebuah dunia yang tidak ada dalam kerajaan binatang, sebuah dunia tentang hak dan kewajiban serta hukum-hukum dan isntitusi-institusi seperti negara, ekonomi, keuangan, berbagai asosiasi, sistem komunikasi. Secara singkat dalaM peradaban masyarakat.
  10. Masuk kedalam masyarakat tidak mencegah natural egoism individual. Masyarakat hanya membatasinya dan dengan demikian melindungi orang dari akibat negatifnya. Umat manusia dalam social state hidup dalam kecendrungan alami mereka yang kontradiktif. Diluar egoism dan selfishness orang mendambakan keuntungan dari semua itu agar kadang-kadang bisa menolak pembatasan beban masyarakat yang ada untuk membuat masyarajkat tersebut memiliki kelebihan.
  11. Negara sebagai penjaga aturan hukum yang dibutuhkan masyarakat dapat menguatkan hukum dan perundangan hanya bila mererka memiliki kekuatan pisik untuk membuat individu patuh kepada hukum. Negara dalam dalam penjaminan keamanan individual hars melakukan duah hal yang saling bertentangan. Di satu sisi dia harus meminta kepada setiap orang untuk tidak menggunakan dalam penyelesaian masalah, di sisi yang lain dia hars menggunakan kekuatan pisik untuk menghadapi mereka yang melawan hukum.
  12. Menjadi bagian dari masyarakat tidak membawa inner harmony untuk individual. Ketika kebuituhan untuk menjadi bagian dari masyarakat adalah selfish need, maka seseoarang akan tetap selfish ditengah masyarakat. Juga, tensi individual antara antara kebutuhan dan kekuasaan selanjutnya akan meningkat karena menjadi bagian dari masyarakat membawa kebutuhan-kebutuhan baru yang sebelumnya tidak dimiliki dan kekuasaan yang dimiliki olah seseorang akan diambil alih oleh masyarakat sebagai ganti kesenangan-kesenangan yang diperolehnya.
  13. Dengan demikian, masyarakat seperti itu tidak akan pernah menjamin pemenuhan kebutuhan individu yang sesungguhnya, tetapi hanya bisa menyusun kerangka kerja dimana individu mendapat manfaat dari realisasi diri. Individual tetap akan dalam kontradiksi dengan dirinya dan akan menderita dari kontradiksi-kontradiksi yang terjadi secara alami di masyarakat. Ini akan berjalan terus sampai individu menyadari bahwa pemenuhan kebutuhan sesungguhnya hanya dapat dicapai hanya dengan secara sukarela melepas klaim egoistic dan selfish, Dengan cara menderita seperti ini beban kehidupan sosial dapat membuat orang menyadari arti penting kehidupan sebagai mora individual.
  14. Moral seseorang menyadari bahwa dia harus memenuhi tugas-tugas kehidupannya untuk mewujudkan kesempurnaan dirinya. Ini hanya bisa dicapai dengan cara menolak selfishness dan dengan mengembangkan kekuatan-kekuatan moral atau moral-moral hati-cinta, kepercayaan, menghargai, kebersamaan, keindahan, tanggung-jawab, kreativitas, religiousness, melakukan kebaikan berdasar kehendak bebas, dst. Melalui realisasi moralitas kita mentransform diri kita kedalam bentuk diri kita yang lebih baik sehingga menjadi sungguh-sunggu bebas. Kontradiksi-kontradiksi yang tertinggal di spoilt natural state dan di social state hanya dapat diselesaikan melalui pencapaian moralitas individu.
  15. Meskipun akhir moralitas dalam bentuk perilaku sosial, itu tidak akan pernah berarti sebuah kelompok, ini benar-benar masalah individual. Moralitas tidak berarti menjadi baik dalam tindakan dan perilaku, karena itu mungkin saja alasan selffish dibelakangnya. Moralitas sesungguhnya adalah sukses individu dalam mencapai higher nature tanpa tekanan masyarakat.
  16. Manusia secara pisik dengan insting dan kebutuhan-kebutuhan tidak akan dapat menanggalkan animal nature sampai dia meninggal. Selagi setiap individu adalah bagian dari masyarakat, mengambil bagian dari masyarakat, dimana disana adalah preservasi diri dan individu tidak bisa hidup tanpa kontradiksi. Tidak ada seorangpun dapat secvara musrni bermoral jika dia ingin hidup secara pisik.
    Dengan demikian, kontradiksi adalah bagian dari pada sifat alami manusia. Ini terjadi karena aturan berbeda terhadap tiga keadaan berikut:
    • Sebagai natural state being manusia menjaga dirinya, mementingkan dirinya, mengkompilasi kelebihan dirinya dengan natural instincts. Mereka menamkannya alami
    • Sebagai social state being manusia adalah bagian dari sistem sosial yang bisa dia manfaatkan. Akan tetapi, sistem itu hanya membuat manfaat itu bisa dinikmati individual selama tidak menolak sebagai bagia dari sistem. Orang kemudian akan menjadi pekerja masyarakat juga.
  17. Sebagai moral being, manusia menolak klaim egoistik, ambisius dalam mencapai tujuan dan lebih dari yang lain dengan mengembangkan natural power untuk membantunya bekerja untuk orang lain.
  18. Natural state dan social state di satu sisi dan moral state di sisi lain saling terkait. Dua state dimana animal nature mendominasi (natural state dan social state) adalah kondisi yang diperlukan untuk moralisasi individual. Moral manusia dapat membentuk suatu masyarakat atau suatu keadaan secara bermoral, misal sebagai legislators dan cara mereka menjalankan hukum. Kehidupan sosial akan terasa tidak membebani bila semakin banyak individu merasa bahwa moral adalah bagian dari kehidupan mereka. Kondisi sosial dalam diri mereka tidak stabil karena mereka tergantung di satu sisi kepada seberapa banyak orang mementingkan dirinya sendiri, dan di sisi yang lain kepada seberapa banyak orang memahami prinsip-prinsip sesungguhnya dari kehirupan sosial. Pemahamahan ini hanya dapat datang dari moralisasi individual.
  19. Natural state, social state, dan moral state tersebut harus dipahami sebagai tiga macam eksitensi manusia yang berbeda dimana setiap capaian manusia dapat dianalis sebagai bagian dari ketiganya. Sebagai contoh, penyelesian konflik dalam natural state didasarkan pada hak-hak yang lebih kuat, dalam social state hal itu didasarkan kepada hukum positif yang berlaku, dan dalam moral state hal itu didasarkan kepada pihak sah yang konflik dengan pemhaman dan pertimbangan.
  20. Seluruh kegiatan-kegiatan dan pencapaianpencapaian masyarakat dapat disebut peradaban dimana budaya datang sebagai akibat dari individual menjalankan moralitas. Semua institusi peradaban mempertimbangkan individual menjadi pembawa peran tertentu, konsekuensinya individual itu dilihat sebagai aspek kolektif dan dengan demikian institusi peradaban selalu mengacu kepada eksistensi individual perorangan. Bertentangan dengan hal ini, budaya yang benar melibatkan secara serius eksistensi individual manusia dan itu berarti menanggapi singularitas dan situasi hidup individu senyatanya. Untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu negara dan masyarakat seperti keuangan, polisi, kekuatan bersenjata, maka sangat esensial bagi manusia untuk memahami peranan mereka dalam masyarakat. Bagaimanpun juga, menurut Pestalozzi, keprihatinan agama, pendidikan dan darmawan hendaknya dialamatkan dengan mempertimbangkan eksistensi individual.
  21. Segala sesuatu yang beradab dapat ditangani dengan cara mengakui tujuan aktual dari komunitas sosial, berrarti dari sikap moral pembuat keputusan, atau dengan car mengikuti kepentingan-kepentinga yang sunguh mementingkan individu-individu atau kelompok. Bila yang terakhir terjadi maka menurut Pestalozzi. Masyarakat akan mengalami kehancuran.
  22. Oleh karena itu, Pestalozzi percaya bahwa ada empat kemungkinan cara manusia eksis:
    1. Sebuah eksistensi yang murni alami dimana lembaga-lembaga sosial yang bebas dan sayangnnya hanya bisa dibayangkan.
    2. Sebuah eksistensi dimana orang mengikuti keinginan mementingkan diri mereka dan menunjukkan tidak ada pertimbangan untuk bermasyarakat
    3. Masyarakat dengan keinginan untuk mementingkan diri sendiri secara terbatas dan mengakui bentuk sosial untuk melihat perhatian terhadap individu secara sah.
    4. Eksistensi moral dimana manusia mengangkat dirinya diatas egoisme dan menuju kesempurnaan diri serta membuat orang lain bahagia.

Dua puluh dua butir gagasan fundamental Pestaloozi ini bukan hanya menjelaskan hal penting multidimensi manusia sebagai bagian dari sistem sosial yang lebih besar sepeti negara dan menyangkut hak dan kewajiban namun juga sebagai makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial. Ada tiga isu fundamental dalam kedua puluh dua butir tersebut yaitu :

  • Hakekat manusia
  • Hakekat kehidupan sosial
  • Peran pendidikan

 

HAKEKAT MANUSIA

Dalam diri manusia ada tensi dan kontradiksi. Sifat ini memiliki dua sisi yaitu Higher Nature yang membedakan manusia dari binatang dan Petaloozi sering juga menyebut sebagai inner nature, spiritual nature, moral nature, atau divine nature. Sisi yang lain adalah Sensual Nature dan Pestaloozi sering menyebutnya sebagai Animal Nature dan merupakan insting dasar yang dimiliki baik oleh manusia maupun binatang.
Dua sisi sifat manusia ini yaitu Higher Nature dan Animal Nature saling berhubungan ibarat buah dan bibit. Higher Nature ada untuk mengendalikan sifat kebinatangan manusia yang ada pada Animal Nature. Pestaloozi menandaskan peran pendidikan untuk meninggikan Higher Nature dan mengelimnasi secara alami Animal Nature agar Hgiher Nature menjadi permanen dan tidak mudah dirusak.

HAKEKAT KEHIDUPAN SOSIAL

Proses pendidikan untuk mengeliminasi Animal Nature agar Higher Nature permanen mendominasi, menurut Pestaloozi, akan meluruskan proses perkembangan tiga tahap perkembangan sosial yaitu dari Natural State menuju ke Social State dan dari Social State menuju ke Moral State.
Di Natural State sifat kebinatangan mendominasi dan Higher Nature tidak aktif. Masuk dan menjadi bagian dari Social State of being tidak bisa dihindarkan oleh human beings. Ketika berinteraksi secara sosial manusia harus siap menerima ketidaknyamanan yang akan dirasakan, seperti tidak bisa melampiaskan egoismenya, karena kondisi dimana sifat kebinatangan tidak mendominasi.
Di Social State, tatanan sosial masyarakat lingkungan membatasi individu untuk melampiaskan egoismenya karena individu harus menyesuaikan diri dengan tatanan sosial dan adat istiadat masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini negara, yang dibentuk oleh masyarakat yang menyerahkan sebagian haknya untuk diatur, berperan untuk mengatur kehidupan agar hak dan kewajiban individu dan masyarakat menjadi jelas,
Di Moral State, keterkaitan antara Natural State dan Social State ketika animal nature mendominasi adalah kondisi yang sangta diperlukan untuk kelahiran moralitas individu.. Kondisi sosial dalam diri mereka tidak stabil karena mereka tergantung di satu sisi kepada seberapa banyak orang mementingkan dirinya sendiri, dan di sisi yang lain kepada seberapa banyak orang memahami prinsip-prinsip sesungguhnya dari kehirupan sosial. Pemahamahan ini hanya dapat datang dari moralisasi individual. Kasus Prita, perlawanan terhadap korupsi, keoikmpok air mata guru adalah contoh-contoh bagaimana moralitas individu lahir.
Menurut Pestaloozi, Natural State, Social State, dan Moral state tersebut harus dipahami sebagai tiga macam eksitensi manusia yang berbeda dimana setiap capaian manusia dapat dianalis sebagai bagian dari ketiganya. Maka, Pestaloozi memberi empat alternatif dimana masyarakat bisa eksis. Namun, dari ke-empat alternatif tersebut hanya dua yang mungkin bisa berjal;an, yaitu:

Masyarakat dengan keinginan untuk mementingkan diri sendiri secara terbatas dan mengakui bentuk sosial untuk melihat perhatian terhadap individu secara sah.
Eksistensi moral dimana manusia mengangkat dirinya diatas egoisme dan menuju kesempurnaan diri serta membuat orang lain bahagia.
Diantara kedua alternatif tersebut, alternatif terakhir kelihatan sangat ideal, kalau tidak dikatakan utopis. Oleh karena itu, alternatif “masyarakat dengan keinginan untuk mementingkan diri sendiri secara terbatas dan mengakui bentuk sosial untuk melihat perhatian terhadap individu secara sah” adalah sebuah bentuk yang cukup wajar.

Secara matematik, kondisi tersebut bisa diformulasikan sbb:

Eksistensi masyarakat = f (social state, moral state)

Max Natural State

subject to constraints : Moral State

Jadi, masyarakat akan memaksimumkan Natural Sate-terhadap kendala-kendala Moral State dimana Moral State = f(Social State). Artinya, Moral State dipengaruhi oleh Social State. Bila moralitas individu tidak lahir dari interaksi antara Natural State dan Social State maka Moral State juga tidak akan dicapai.

Korupsi berjamaah di Badan Anggaran DPR, Kementrian dengan proyek-proyek pemerintah termasuk departemen agama yang paling parah korupsinya, badan-badan peradilan seperti hakim, Jaksa, Pengacara, dan badan legislasi seperti DPR menjelaskan bagaimana di social state ada masalah untuk tumbuhnya moralitas individu.

PERAN PENDIDIKAN

Pendidikan memegang peran sangat menentukan dalam meninggikan Higher Nature dan mengeliminasi Animal Nature. Melalui proses pendidikan pesan moral disampaikan dan dihidupkan dalam kehidupan sosial di sekolah dan lingkungannya. Menurut Pestaloozi penggarapoan itu terhadap tiga H yaitu Head, Hand, dan Heart. Artinya, penggarapan itu dilakukan dengan cara melakukan. Kalau menurut Ki Hadjar melalui Olah Rasa, Olah Hati, Olah Pikir, dan Olah Jasmani. Maka, demikian besar arti kehadiran pendidik dalam proses-proses tersebut.

Bila moral menjadi outcome pendidikan dan outcome itu menjadi input Social State maka jalan menuju Moral State semakin terbentang lebar. Itulah peran pendidikan yang diharapkan oleh Pestaloozi.

PESTALOOZI DAN SISTEM NILAI BANGSA INDONESIA

Political Philosophy NKRI dan juga sekaligus Way of Life atau Values of The Nation menyiratkan bahwa manusia adalah makhluik individu dan sekaligus makhluk sosial. Kepentingan bangsa dan negara didahulukan dari kepentingan sempit individu, golongan atau kelompok, dikenal dengan paham integralistik Soepomo.

Moral State yang hendak dikehendaki oleh bangsa ini sangat jelas dalam Political Philosophy tsb. Unsur Patriot, Perwira, dan Pejuang menjadi ciri. Korupsi, ketidakjujuran, kemunafikan, lembek, berlawanan dengan tiga ciri tersebut Maka, Pendidikan, sebagai hanya satu-satunya cara untuk menuju Moral State tersebut melalui Natural State dan Social State, mengemban peran yang sangat strategis bagi pembentukan wajah bangsa dan masa depan negeri ini.

Melalui pendidikan, baik di tingkat keluarga, sekolah, maupun masyarakat, Higher Nature ditinggikan hingga menjadi permanen dengan mengeliminasi Animal Nature.

Oleh karena itu, mengacu kepada Ecological System Urie Brofnenbrenner atau Tri Pusat Pendidikan ki Hadjar maka Guru, Kurikulum, dan kebijakan publik di Social State menjadi key succes factors untuk menuju moral state yang di-impikan.

 

__________________________

1 Dari Brühlmeier Arthur and Kuhlemann Gerhard, The ideal of a farmer and the farmer of Pestalozzi, Neuhofyears 1769-1798, from http://heinrich-pestalozzi.info