PANCA TITI DARMANING PRABU

 

Nusantara ini sejak awal keberadaannya, memang tidak pernah lepas dari sejarah perkembangan peradaban budayanya yang beraneka, multikultural, bukan monokulturral. Sejak Animisme dan Dinamisme dan kemudian muncul Budha dan Hindu yang mewarnai sejarah peradaban kehidupan bemasyarakat diNusantara dengan legenda kerajaan-keajaan besar seperti Singasari, Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Majapahit dengan berbagai artefak beku maupun dinamis, sebelum agama-agama Samawi masuk.

BorobudurHampir di seluruh Nusantara bisa dijumpai artefak beku masa lalu, seperti peninggalan candi-candi dan bekas kerajaan. Borobudur mungkin salah satu artefak monumental tentang kejayaan tata masyarakat Budha dan ilmu pengetahuan abad ke delapan.

.
GARUDA-WISNU-KENCANA-di-baliKomplex Garuda Wishnu Kencana
yang berdiri megah besar sekali
memandang kebawah ke Lapangan
Terbang Ngurah Rai.

Di Bali ada Garuda Wishnu Kencana yang luar biasa dan dibangun selama pemerintahan Orba, dan itu tidak lepas dari sejarah Bali, yang mayoritas beragama Hindu, dan Raja Brawijaya V, yang membangun lorong keluar kraton bila mendapat serangan musuh dan itu kemudian menjadi inspirasi HB I ketika membangun kraton Mataram dengan lorong serupa, maka di Jogja juga ada kompleks seperti GWK, namun lebih sederhana,  yaitu di Pantai Ngobaran, Wonosari Gunung Kidul. GWK di pantai Ngobaran menghadap kelaut selatan. Tempat ini menjadi tempat ritual masyarakat yang beragama Hindu.

SewuKomplex besar Candi Prambanan yang terdiri dari: Komplex Candi Roro Jonggrang, Hindu (dibawah) dan Komplex Candi Sewu,Budha

 

Keberadaan komplex tersebut menjelaskan bahwa dulu pernah ada sebuah tatanan masyarakat dengan tata kepemimpinan, tata sosial, tata ekonomi dan perdagangan, tata politik. Warisan sistem nilai  kepemimpinan pasti ada.
Di komplex Kotabaru Yogyakarta, terdapat bangunan Masjid Syuhada, Gereja Kristen HKBP, dan Gereja Katolik yang saling berdampingan. Di Pantai Ngrenehan Gunung Kidul ada komplex seperti garuda Wisnu Kencana di Bali bagi umat Hindu, juga Pura Jagad Nata di Banguntapan. Di Gondomanamn ada Klentheng bagi kaum Tinghoa. Artefak  itu termasuk nilai-nilai budaya yang mereka wariskan dan tetap terpelihara di Jogjakarta

Itu semua menjadi  artefak beku dan dinamis dan menjadi bagian dari  perkembangan sejarah peradaban Indonesia yang tidak bisa dihilangkan
.

Setiap peradaban masyarakat memiliki pemimpin baik formal maupun informal. Proses kepemimpinan itu pasti menoreh catatan atau jejak keberhasilan, kegagalan, kebaikan, dan keburukan. Setiap pemimpin pada jamannya tidak mungkin lepas dari lingkungannya dan segala permasalahan yang melingkupinya.

Melihat Maha Patih Gadjah Mada harus melihat dia sebagai manusia yang tidak lepas dari segala kehidupan manusiawinya. MPGM adalah sebuah sosok patriot yang cinta negeri luar biasa dan berasal dari rakyat jelata serta meniti karirnya sejak dari bawah hngga menjadi Maha Patih di Majapahit. Sebagai pemimpin pada jamannya, keberhasilan MPGM menyatukan Nusantara dengan segala plus minusnya bagaimanapun juga pantas dan layak untuk dipelajari, diambil yang baik dan meninggalkan yang kurang baik.

Dari berbagai sumber tertulis bahwa Maha Patih Gajah Mada meniti karirnya dari bawah sebagai prajurit hingga menjadi Bekel dan patih di beberapa tempat melalui proses kaderisasi. Selama proses itu berbagai bidang keilmuan, olah kanuragan, dan olah spiritual dilalui. Aryo Tadah adalah terminal terakhir pencarian melalui proses nyantrik. Dalam proses ini tentu saja terjadi values system transformation dan refleksi diri sebelum akhirnya MPGM mendalami dan memperluas sendiri melalui proses lakunya. Semua yang dipelajari dan diperoleh telah menyatu dalam diri dan menjadi MPGM.

Bisa dipahami bila MPGM menyerap ilmu pengetahuan dan nilai-nilai budaya yang berkembang pada saat itu yang kuat dipengaruhi oleh ajaran Budha dan Hindu yang sudah berakulturasi dengan budaya Jawa pada saat itu. Berbagai tulisan memang menyebut berbagai sumber pegangan kepemimpinannya, misal Brhe Tandes dengan Astadasa Kôttamaning Prabhu,  dan masih banyak lagi; di sumber lain disebut Asta Dasa Berata Pramiteng Prabhu. Salah satu kearifan yang menjadi pegangan MPGM dan perlu diangkat adalah ajaran Prabu Arjuna Sasrabahu dalam pewayangan, yaitu Panca Titi Darmaning Prabu atau lima kewajiban sang pemimpin, yang terdiri dari[1] :

Handayani Hanyakra Purana
Seorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan motivasi, dan kesempatan bagai generasi mudanya atau anggotanya untuk melangkah ke depan tanpa ragu-ragu

Nadya Hanyakrabawa
Seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya senantisa berkonsilidasi utuk memberi bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah untuk mufakat yang mengutamakan kepentingan masyarakat.

Ngarsa Hanyakrabawa
Seorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakatnya

Nir Bala Wikara
Seorang pemimpin tidaklah selalu menggunakan kekuatan atau kekuasaan di dalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya, Meskipun demikian, berusaha menggunakan pendekatan pikiran, lobi sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesainnya.

Ngarsa Dana Upaya
Pemimpin sebagai seorang ksatria senantiasa berada terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya sekalipun untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat.
Dalam sumber lain, misal Dr Ir R. Panji R Hadinoto[2]. juga membahas  Pancatiti Darmaning Prabu yang diproyeksikan menjadi pegangan para pemimpin idaman masa depan Indonesia.

Pancatiti Darmaning Prabu[3] diangkat dalam Blog ini sebagai upaya mengangkat kembali mutiara-mutiara terpendam filosofi kepemimpinan Indonesia, melengkapi peninggalan Ki Hadjar Dewantara atau RM Suwardi Suryaningrat, setelah dalam pengajaran di kampus-kampus di Indonesia, mahasiswa dibombardir dengan model-model kepemimpinan barat yang ada dalam literatur barat sebagai acuan dosen.

Bila kita melihat butir-butir Pancatiti Darmaning Prabu, maka dari sudut pandang model manajemen dan kepemimpinan:

Handayani Hanyakra Purana merupakan kewajiban pemimpin untuk melakukan kaderisasi kepemimpinan. Leader creates leaders. Proses ini dilakukan dengan laku magang atau nyantrik, learning by doing,  dimana pemimpin menurunkan ilmu dan kearifannya kepada yang nyantrik. Proses gemblengan lahiriah, batiniah, dan spiritualitas dilakukan dengan  dengan cara  menjalani atau laku. Dalam istilah modern disebut sebagai capacity building yang dilakukan dengan cara belajar sambil menjalani. Jadi, belajar kepemimpinan itu bukan hanya secara kognitif saja.

Nadya Hanyakrabawa merupakan kewajiban pemimpin masyarakat untuk selalu  ajur-ajèr atau cair atau tidak menjaga jarak dan menyatu dengan masyarakat yang dipimpinnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi tanpa harus mendominasi proses. Dalam proses ini terlihat bagaimana seorang pemimpin seperti dalam 2IT KHD menjalankan Ing Madya Mangun Karsa, bahkan bila terjadi perbedaan pendapat maka musyawarah untuk mufakat seperti dalam sila ke empat Pancasila  yang diutamakan.

Ngarsa Hanyakrabawa, seorang pemimpin sebagai Values System Transformers adalah suri tauladan, maka pemimpin harus memberi contoh mengenai Values System yang telah diberikan. Satunya kata dan perbuatan seorang pemimpin sehingga cantrik atau masyarakat yang dipimpinnya bisa belajar dengan cara melihat, merasakan dan melakukan. Ini seperti Ing Ngarso Sung Tulodho dalam 2IT KHD.

Nir Bala Wikara, seorang pemimpin harus cerdas dalam menggunakan sumber-sumber kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya dalam konflik, pan mapan atau tepat waktu, tepat tempat, tepat situasi, tepat cara, dan tepat sarana. Lebih menghindari konflik lahiriah dan lebih mengusahakan untuk menggunakan cara-cara yang lebih sesuai dengan titah manusia yang manusiawi yaitu mengedepankan nalar dan nurani. Meskipun demikian, bukan berarti seorang pemimpin tidak perlu mempunyai kelebihan-kelebihan? bukan ! Kelebihan itu tidak perlu diobral sehingga menjadi adigang-adigung-adiguno, sopo siro sopo aku, tetapi digunakan pada saat yang tepat. Kelebihan-kelebihan itu akan terpancar dengan sendidiranya dari dalam diri pemimpin bila laku itu dilakukan sehingga menjadi pemimpin yang Ambeg Para Amarta dan Bèrbudi Bowo Laksono yang akan membuatnya disegani oleh lawan dan kawan. Ini sejalan dengan Menang dalam 4N KHD.

Ngarsa Dana Upaya, seorang pemimpin adalah seorang wira, ksatria yang memiliki karakter pahlawan,  yaitu pribadi yang rela mengorbakan enerji, waktu,  pikiran, bahkan jiwa dan raga bagi kejayaan nusa dan bangsanya. Jadi, pemimpin adalah patriot. Ini tentu saja sangat kontekstual dengan Amukti Palapa yang tentu saja membutuhkan banyak patriot. Bagaimana dengan bangsa ini saat ini? Keterpurukan bangsa ini dan semangat kebangsaan yang diufuk barat serta demikian banyak masalah besar yang sedang dihadapi oleh bangsa ini jelas membutuhkan banyak patriot disegala bidang untuk menggerakkan masyarakat guna mengembalikan kejayaan negeri. Pendidikan adalah tempat dimana masa depan bangsa digantungkan.

Pancatiti Darmaning Prabu adalah satu diantara banyak sumber pengetahuan kepemimpinan dan spiritual Maha Patih Gadjah Mada sejak beliau meniti karirnya dari bawah sebagai prajurit  hingga di akhir karirnya. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya ternyata tetap kontekstual bagi pemimpin hingga saat ini.

HM.Nasruddin ANSHORIY CH, Neo Patriotisme-Etika Kekuasaan dalam Kebudayaan Jawa, PT LKIS Yogyakarta; dalam Joglo Javanologi, Warta Selaras, , on line March 25, 2009, http://javanologi.blogspot.com/2008/06/etika-kekuasaan-dalam-kebudayaan-jawa.html [↩]
Panji R Hadinoto, Kepemimpinan Gadjah Mada, Panca Titi Darmaning Prabu, dalam Blog Semangat 45, Politika Kebijakan Republik Indonesia, online March 25, 2009, https://jakarta45.wordpress.com/ [↩]
Bhre Tandes, Gadjah Mada, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 [↩]
Kata kunci: human development

Leave a Reply