jaff-03

WIRAMA, PENDIDIKAN DALAM BUDAYA INDONESIA

benthik-3

Demikian banyak pemikiran para tokoh dunia dalam pendidikan anak yang menginspirasi pemikiran Ki Hadjar. bukan hanya Fröbel, Montessori, Tagore, Spencer, Steiner, dll yang memunculkan sintesa pemikiran pendidikan dalam alam Indonesia yang mengejawantah di Taman Siswa.    Menurut Rudolf Steiner, mengenai kodrat anak, bukan hanya aesthetische instincten, namun juga motorische instincten sebagai dorongan yang paling kuat.  Hal ini bisa dilihat ketika anak bergembira, berlari,  menyanyi, menari, dan bergerak. Disamping itu ada pula rhytmisch instinct yang dapat menghubungkan antar instinct.  Ketiga instinct tersebut dapat diamati dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak.index1

Bergerak dengan menganut wirama, baik dari instrumen yang didengar maupun yang ia bikin sendiri dengan alat apa adanya. Di Indonesia ragam instrumen musik itu ada dalam setiap kebudayaaan dan itu adalah modal besar bagi pendidikan anak guna membentuk watak dan sekaligus menyehatkan jasmani anak.

Rythme Steinner akan membantu anak untuk menyelaraskan gerak dengan seluruhindex inderanya, dengan rasa dan pikiran ketika anak bergerak secara ritmik , termasuk dalam baris berbaris, senam bersama, menari bersama. Wirama adalah bagian dari proses pendidikan yang akan menyehatkan jiwa anak. Juga, Steinner mementingkan segala bentuk kesenian seperti seni lukis, seni kriya. Bagaimana warna dipilih dan keseimbangan warna atau keindahan bentuk akan menuntunt  anak dalam tumbuhnya  3419563pjiwa yang disebut  Eurhythmy atau Wirama Indah.

Demikian banyak perminan anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote yang sebenarnya merupakan modal sosial pendidikan yang baik bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.

Dalam Three Dimension of Learning, sosialita itu sangat bermanfaat bagi anak-anak untuk  Three Dimensions of Learning mulai mengembangkan rasa, hati, pikiran, dan sistem motorik tubuh.  Bagai anak, bermain adalah bergembira, menyenangkan, dan selalu mencari teman dalam bermain. Lihatlah apa yang diakses dalam interaksi bermain ? Emosi dan Kognisi. Anak membutuhkan itu dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

Lihatlah ketika anak-anak bermainan mainan yang ada di Nusantara ini, seperti Dakon, Gundu, atau bahkan Drama. itu semua sangat penting bagi anak-anak yang dimaksudkan oleh Ki Hadjar sebagai Wirama dan sangat kaya di Nusantara ini. Maka, Wirama adalah bagian dari pendidikan anak Indonesia, sebagai festival-dolanan-anak-anak-di-solo1bagian dari Olah Hati, Olah Rasa, Olah Pikir, dan Olah Jasmani dalam model pendidikan yang dikembangkan di Taman Siswa. ini yang membuat Tagor dkk mengirim Prof dan siswa untuk belajar di Taman Siswa ketika negeri ini masih dalam pemerintahan Hindia Belanda. dua dekade lebih sebelum negeri ini merdeka di 17 Agustus 1945. 

Tampar

main kelereng-kaulinan barudak

 

Tampar atau tali atau karet yang dianyam bisa menjadi alat permainan anak seperti ini disepuruh penjuru anak di Nusantara. Bergerak dinamis, berpikir, menyesuaikan diri untuk mengatur setinggi apa dia bisa melompat agar tidak menyentuh tali. Luar biasa

Teater Anak2 Pelangi 02

 

Permainan Gundu atau kelereng ini benar-benar mengasah ketajaman pikiran dan kepekaan rasa agar kelereng mengenai kelereng yang dituju namun tidak melanggar aturan atau menyebabkan kelerengnya masuk dalam batas dan dianggap mati.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply