anak taman siswa

SISTEM AMONG TAMAN SISWA MENJADI KALISATOR GIFTED & TALENTED STUDENT

Gifted and Talented student menjadi salah satu isu yang ramai dibicarakan sampai saat ini dalam dunia pendidikan terutama pada pendidikan dini. Pros and cons masih mewarnai perdebatan mengenai perbedaan antara Gifted and talented student. Apalagi, kalau diserap menjadi padanan bahasa Indonesia yang berarti berbakat atau bakat. Mungkin gifted akan menjadi bakat dan talented akan menjadi talenta. Namun inipun, seperti arus besar perdebatan dunia juga masih mengundang perdebatan di Indonesia. Definisi gifted and talented dalam tulisan ini mengacu kepada salah satu aliran yaitu bahwa Gifted terkait dengan kecerdasan bawaan atau kecerdasan pukiran bawaan, sedang Talented terkait dengan minat atau keahlian bawaan.

Revolusi Pendidikan Ki Hadjar, sekembalinya dari Belanda, bernuansa politik anti kolonialisme dan diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu :

  1. Tujuan Pendidikan
  2. Pedagogi
  3. Isi

Revolusi ini membuahkan sistem yang unik Taman Siswa dan sekaligus menjadi dasar Pendidikan Taman Siswa1, yaitu Sistem Among, yaitu sistem yang memperhatikan :

  1. Kodrat Alam

  2. Kemerdekaan

Dalam sistem ini, Guru harus menjadi Pamong bagi siswa yang menjalankan peran yang berbeda sesuai fasa pertumbuhan dan perkembangan siswa, yaitu : 

  1. Masa kanak-kanak 1-7 tahun
  2. Masa pertumbuhan Jiwa dan Pikiran 7-14 tahun
  3. Masa terbentuknya Budi Pekerti atau Kesadaran Sosial, 14-21 tahun

Terkait : SARI PATI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

Pada masa kanak-kanak, Guru menjalankan peran “Momong”; pada masa Pertumbuhan Jiwa dan Pikiran, Guru menjalan peran “Among”; sedang pada fasa Terbentuknya Budi Pekerti dan Kesadaran Sosial, Guru berperan “Ngemong”. Terkait:  Momong, Among, Ngemong.

Maka, Guru yang menjalankan peran-peran tersebut sesuai dengan fasa pertumbuhan dan perkembangan anak menjalankan peran sebagai “Pamong2. Dalam hal ini, Ki Hadjar berpendapat bahwa pada masa kanak-kanak, Guru perempuan adalah yang paling tepat karena menjadi estafet awal anak mulai masuk peradaban baru sekolah dan di luar rumah dengan berganti pendamping. Disamping itu, sangat jelas bahwa peran Guru di tingkat Taman Muda dan Taman Madya berbeda dari Taman Dewasa dimana masa pembentukan Budi Pekerti dan Kesadaran Sosial Anak terbentuk. Jadi, Sistem Among harap dibedakan dari peran Among pada pendidikan anak usia 7-14 tahun.

 

SISTEM AMONG

Taman Siswa menganut Amongsysteem yang menjadi keunikan Pendidikan Taman Siswa3, yaitu sistem yang mengemukakan dua dasar:

  1. Kemerdekaan4, sebagai sjarat oentoek menghidoepkan dan menggerakkan kekoeatan lahir dan batin dari anak hingga bisa hidoep merdeka. 

  2. Kodrat Alam5, sebagai sjarat oentoek mencapai kemajoean dengan setjepat-tjepatnya dan sebaik-baiknya.

 

Di dalam Pasal 7a Kemerdekaan, terkandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Kebebasan bukan kebebasan yang leluasa, namun kebebasan yang terbatas, dan harus mengikuti tertib damainya hidup bersama.

Ketertiban di dalam kelas dengan cara pemaksaan atau kekerasan, misal dengan kata keras dan kasar, pendekatan pisik,  bukan bukanlah ketertiban yang sejati. Ketertiban dengan cara demikian hanya akan menimbulkan kegelisahan dan sekaligus menjauhkan dari rasa tenteram. Ketertiban demikian tidak akan langgeng. Disamping itu, anak-anak dengan pendekatan demikian tidak akan terdidik menjadi anak-anak yang berjiwa tertib-damai, sebaliknya akan menjadi orang-orang yang bertabiat takut dan dihinggapi perasaan rendah atau inferioriteitaconflexen6. Lihat pula perbandingan pendidikan di Yunani Athena dan Yunani Sparta ratusan tahun sebelum Masehi.Terkait  Para Pemikir Kebajikan Pendidikan.

Dalam pasal 7b Kodrat Alam,  masih diteruskan keterangan “dasar kemerdekaan”, yaitu ketegasan bahwa kemerdekaan dalam Pasal 7a hendaknya dikenakan pula terhadap cara anak-anak berpikir,  yaitu jangan selalu dipelopori, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain , akan tetapi anak-anak dibiasakan untuk mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri. Biasakanlah anak-anak untuk merasakan dan memelihara kesadaran  dengan memberi kebebasan yang secukupnya. Merdekakanlah batinnya, fikirannya, dan tenaganya. Itulah syarat-syarat untuk membimbing anak-anak agar sungguh-sungguh merdeka lahir dan batin7. Dalam lingkungan pendidikan seperti ini, dimana anak-anak diberi ruang yang sangat luas untuk mengekspresikan dirinya maka tanpa disadarai anak akan mengembangkan seluruh potensinya tanpa rasa takut atau tertekan. Maka, baik Gifted maupun Talented akan terkembangkan secara alami sesuai kodrat alam anak.

Jadi, Sistem Among yang berdasar pada Kemerdekaan dan Kodrat Alam dalam Pendidikan Taman Siswa adalah khas Taman Siswa yang membedakan Pendidikan Nasional Taman Siswa khas dan berbeda dari Pendidikan Nasional yang lain. Maka, Ki Hadjar menekankan dalam berbagai tulisan dan sambutan hingga Kongres II Majelis Luhur Taman Siswa 1956 dan Pengukuhan Dr HC dalam Dies UGM VII 1956, bahwa keunikan itu harus dijaga selama Pendidikan Taman Siswa masih tetap bernama Taman Siswa, dikenal dengan SBIW  atau Sifat, Bentuk, Isi, dan Wirama. Lebih lanjut, Ki Mangoen Sarkara menegaskan Pendidikan Taman Siswa yang sebenarnya adalah mementingkan Moralitas dari pada Nasionalitas,  dimana Nasionalitas dianggap sebagai bentuk penjelmaan Kemanusiaan yang tinggi8.

Oleh karena itu, Pendidikan model Taman Siswa yang menyerap berbagai filosofi Pendidikan dunia seperti Rudolf Steiner dan model pendidikan mulai dari Montessori, Froébel, Dalton Santi Niketan9, dll., menjadi khas sebagai Perguruan Nasional yang memerdekakan siswa berdasar kodrat alamnya tanpa harus meninggalkan kodrat jaman, dikenal dengan TriKon*, yaitu :

  • Kontinuiteit, yaitu dalam pertukaran dengan duniar luar harus tidak terputus dengan alam kebudayaannya sendiri
  • Konvergensi, yaitu bila kita sudah bersatu dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada dalam alam universal maka kita bersama mewujudkan persatuan dunia.
  • Konsentris, yaitu bertitik pusat satu dengan alam-alam lebudayaan sedunia tetapi masih tetap memiliki garis lingkaran sendiri-sendiri.


dengan peranan guru sebagai 
pamong sesuai dengan fasa pertumbuhan dan perkembangan anak, serta menempatkan anak menjadi subyek dalam proses pembelajaran, akan menjadi katalisator untuk memunculkan keunikan anak, ibarat biji dan buah maka kelak buah itu akan berbuah banyak sesuai dengan benihnya, baik gifted maupun talented serta bermoral, yaitu anak-anak yang sesuai dengan garis bangsanya.

 *) lihat pula Trisakti, Tri Rahayu,  dan Tujuan P:endidikan Ki Hadjar,
Juga Tujuan Kemerdekaan Indonesia : “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”

 

___________________

1  Ki Mangoensarkara, Rentjana Oendang-Oendang Persatoean Taman SiswaNo. MPK I XIII-1938, Majelis Peroesahaan Kitab Taman Siswa”, Mataram, Jogjakarta, 1938, hal., 2.; Ki Hadjar dewantara, Azas Taman Siswa, Waskita DJ. I  no. 2, Oktober 1928.

2  Ki Hadjar Dewantara, Azas-azas dan dasar-dasar Taman Siswa, Majelis Luhur Taman Siswa Jogjakarta 1961, hal 8-9

3  Oendang-oendang Taman Siswa, B. Sendi Pendidikan, Ps 7

4   ————- Ps 7a

5   ————- Ps 7b

6   Ki Hadjar Dewantara, Azas-azas dan Dasar-dasar Taman Siswa, Majelis Luhur Taman Siswa, Jogjakarta 1964, hal 8.

7   ————–, hal 9

8   W. le Febre, TAMAN SISWA, diterjemahkan oleh Naiposos, Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, Djakarta-Surabaya, hal. 69.

9   Ki Hadjar Dewantara, Taman Indriya, Majelis Luhur Taman Siswa, 1955, hal 5-10

Leave a Reply