Taman Indriya

TAMAN INDRIYA DALAM SISTEM PENDIDIKAN TAMAN SISWA

Menurut  Ki Hadjar Dewantara, Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah pernyataan Politik dan sekaligus Pernyataan Budaya. Penyataan politik adalah pintu gerbang bagi kemerdekaan di bidang budaya dalam arti luas yaitu ekonomi, politik, sosial, pendidikan. Setelah Indonesia merdeka, kesadaran mulai tumbuh bahwa bangsa yang merdeka itu bukan bangsa yang harus tergantung hidupnya kepada bangsa lain atau  merupakan tiruan dari bangsa lain namun harus dapat menunjukkan Sifat, Bentuk, Isi, dan Laku Hidup dan Penghidupan sendiri, sebagai kodrat alam dan kodrat jaman. Pendidikan dan pengajaran adalah hulu dimana masa depan bangsa indonesia akan bermuara.

Ki Hadjar membagi fasa pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi tiga, yaitu : 

  • Masa kanak-kanak 1-7 tahun
  • Masa pertumbuhan Jiwa dan Pikiran 7-14 tahun
  • Masa terbentuknya Budi Pekerti atau Kesadaran Sosial, 14-21 tahun

 

Selanjutnya, Ki Hadjar mengejawantahkan  pembagian fasa tersebut kedalam sistem pendidikan Taman Siswa, yaitu :

  1. Taman Indriya    <  7 tahun
  2. Taman Anak  pasca Taman Indriya kelas 1, 2, dan 3
  3. Taman Muda 4. 5, dan 6
  4. Taman Madya
  5. Taman Dewasa

 

TAMAN INDRIYA

Taman Indriya Pembukaan

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan anak usia dini hingga pendidikan dasar   banyak dipengaruhi tokoh-tokoh pendidikan terkenal seperti Maria Montessori, Friedrich Wilhelm August Frõebel, Jean-Jacques Rousseau, Rudolf Steiner, Rabrindranath Tagore, Herbert Spencer, Johann Heinrich Pestalozzi. Dipadu dengan pemahaman Ki Hadjar tentang budaya Jawa yang beliau pahami serta tacit knowledge beliau mengenai budaya Indonesia yang beragam maka lahirlah sintesa yang menjelma menjadi Pedagogi Taman Siswa serta Sistem Among.  Seperti dalam proses  Niteni, Nirokke, Nambahi.

Sintesa Ki Hadjar terhadap berbagai pemikiran para ahli pendidikan dan filsafat dunia tersebut menghasilkan model Pendidikan Taman Indriya yang khas Taman Siswa dan merupakan unataian awal dalam upaya pembangunan budaya nasional melalui pendidikan sejak dini, yaitu usia < 7 tahun.

Pestaloozi walled garden

Istilah Taman bukan hanya berasal dari Kindergarten  Frõebel, namun juga jauh sebelumnya Pestaloozi pada tahun 1700 sudah melakukan revolusi pendidikan yang menentang pendidikan represif jauh sebelum Paulo Freire, yaitu dengan memperkenalkan Pestaloozi Garden. . Taman adalah tempat yang indah penuh dengan bunga-bunga yang akan membuat orang senang. Demikian pula anak ketika belajar, suasana seperti itulah yang ingin diciptakan. Dalam hal ini, seperti   Frõebel, istilah sekolah tidak digunakan dan anak adalah bagian dari keindahan tersebut dan menyatu dengan keindahan tersebut.

Istilah Taman Indriya digunakan dan bukan Taman Anak karena pertama pada usia < 7 tahun, anak-anak sedang pada tahap pengembangan sensori mereka dan ingin mengenal dan belajar dunia baru yang beraneka dan warna-warni melalui indera mereka; ke dua, di sistem pendidikan Taman Siswa, Taman Anak digunakan untuk pasca Taman Indriya, yaitu kelas I, II, dan III ;  dan ke tiga, penggunaan istilah sendiri yang tidak meniru.

 

ANAK USIA DIBAWAH 7 TAHUN

Anak di usia < 7 tahun dibagi menjadi dua yaitu kurang dari 3.5 tahun dan di atas 3.5 tahun. Batasan usia 7 tahun karena dibawah usia itu diferensiasi Trisakti  manusia yaitu Pikiran, Rasa, dan Kemauan belum muncul. dalama masa itu dikenal sebagai masa instincten yang mencerminkan dorongan segala keinginan, nafsu, dan kekautan lain  pada anak-anak. Instincten hanya perlu untuk memenuhi  kehidupoan secara primer dan primitif, maka harus dituntut dan dialirkan ke arah adab kemanusiaan dan dari natur menuju ke arah kultur.

Di di atas 3.5 tahun anak masuk dalam fasa gevoelige periode  atau periode peka  oleh Maria Montessori, yaitu saat terbukanya jiwa anak-anak untuk menerima pengaruh-pengaruh dari lingkungannya melalui panca inderanya. Anak-anak sangat tertarik pada gambar, warna, suara, gerak dan tarian yang disebut sebagai esthetische indrukken atau kesan estetetik. Diampingm itu, anak juga mulai tertarik untuk berkomunikasi, mendengar cerita, mendengar musik, dan  bermain bersama, dan disebut sebagai ethische indrukken atau tayangan etika.

Menurut Moontessorie, pegalaman jiwa anak di masa peka itu akan mempengaruhi pembawaan anak yang diikuti oleh masa pertumbuhan anak secara pisik terutama dalam pertumbuhan sel-sel syaraf di otak. Setiap informasi baru akan menumbuhkan sel-sel syaraf baru di otak. Dengan demikian, betapa penting masa itu bagai pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.

 

MARIA MONTESSORI DAN  FRIEDRICH FRÖEBEL

Baik  Montessori maupun Frobel memiliki kesamaan dalam memandang perkembangan jiwa anak pada usia setelah 3 tahun.  Namun mereka berbeda dalam perlakuan dalam pendidikan.

Fröbel yang menggunakan istilah Kindergarten untuk memberi gambaran bahwa 1840anak-anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan mereka membutuhkan tempat yang indah yaitu taman. Keindahan sebuah taman akan membantu anak untuk mulai mengenali aneka warna, aneka tumbuhan, dan aneka tumbuhan yang sangat bermanfaat bagi masa pertumbuhan dan perkembangannya.Ki Hadajar, dalam hal ini, memegang prinsip untuk tidak meniru, yang juga tidak dikehendaki oleh Fröbel maka memunculkan nama Taman Indriya yang khas Taman Siswa dengan konsep yang tidak berbeda. Anak adalah seperti bagian dari taman yang harus dijaga dan dirawat agar tetap indah. Satu abad sebelumnya Pestalozzi juga telah mengenalkan “taman” yang dikenal dengan Pestalozzi Garden dengan konsep yang kurang lebih sama.

Di sisi yang lain, Montessori memberi rangsangan mainan yang menyenangkan anak. Jadi, bukan taman atau situasi yang menyenangkan namun alat permainan yang membuat anak senang bermain. Jadi, di masa pertumbuhan dan perkembangan di awal usia, suasana bermain adalah suasana yang sesuai dengan pertumbuhan pisik dan jiwa anak yang kenurut Herbert Spencer adalah karena adanya sisa kekuatan dalam jiwa dan tumbuhnya anak ketika. Maka, Ki Hadjar memadukan itu semua dalam pendidikan Taman Siswa.

 

WIRAMA

Menurut Rudolf Steiner, mengenai kodrat anak, bukan hanya aesthetische instincten, namun juga motorische instincten sebagai dorongan yang paling kuat.  Hal ini bisa dilihat ketika anak bergembira, berlari,  menyanyi, menari, dan bergerak. Disamping itu ada pula rhytmisch instinct yang dapat menghubungkan antar instinct.  Ketiga instinct tersebut dapat diamati dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak.anak taman siswa

Bergerak dengan menganut wirama, baik dari instrumen yang didengar maupun yang ia bikin sendiri dengan alat apa adanya. Di Indonesia ragam instrumen musik itu ada dalam setiap kebudyaaan dan itu adalah modal besar bagi pendidikan anak guna membentuk watak dans ekaligus menyehatkan jasmani anak.

Rythme Steinner akan membantu anak untuk menyelaraskan gerak dengan seluruh inderanya, dengan rasa dan pikiran ketika anak bergerak secara ritmik , termasuk dalam baris berbaris, senam bersama, menari bersama. Wirama adalah bagian dari proses pendidikan yang akan menyehatkan jiwa anak. Juga, Steinner mementingkan segala bentuk kesenian seperti seni lukis, seni kriya. Bagaimana warna dipilih dan keseimbangan warna atau keindahan bentuk akan menuntunt  anak dalam tumbuhnya  jiwa yang disebut  Eurhythmy atau Wirama Indah.

 

Oleh karena itu, Ki Hadjar Dewantara membuat lima pertanyaan berkaitan dengan Pendidikan dan Alam Budaya Indonesia :

  1. Apakah adat kebiasaan yang pasti dalam hubungannya anak-anak dengan ibu-bapaknya, teman-teman di rumahnya dan di wilayahnya ? Dan, bagaimanakah sifat wujudnya.
  2. Bagaimanakah cara anak-anak memelihara atau melaksanakan segala keinginannya, baik sendiri maupun dengan teman-temannya?
  3. Permainan apakah yang ada disekitar tenpat tinggal atau wilayahnya ?
  4. Bagaimana hubungan anak dengan alam dan masyarakat yang mengelilinginya ?
  5. Adakah anasir-anasir yang paedagogisch terdapat dalam segala laku pikirannya, perasaan serta gerak-gerik anak dalam hidupnya sehari-hari dan dapat dimasukkan secara modern dalam daftar pelajaran di sekolah bagian Taman Indriya ?

 

 

 

_______________________________

Sumber : Ki Hadjar Dewantara, Taman Indriya, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Yogyakarta, 1955.

 

 

 

Leave a Reply