Perguruan taman siswa1

TAMAN SISWA

Lawan Sastra Ngesti Mulya

Dengan Kecerdasan Jiwa Menuju ke Arah Kesejahteraan

Taman Siswa adalah sebuah nama untuk sebuah Perguruan Nasional yang berdiri pada 3 Juli 1922, dua puluh tiga tahun sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Kosa kata “Taman” adalah unik menjelaskan tempat yang indah dan menyenangkan dimana siswa belajar. Maka, jenjang sistem pendidikan Taman Siswa adalah :

  1. Taman Indriya
  2. Taman Anak
  3. Taman Muda
  4. Taman Madya
  5. Taman Dewasa
  6. Taman Guru

 

DIMANA API MULAI DISULUT

Bila ditelusuri Lini Masa atau Time Line Taman Siswa maka benang merah itu  ditemukan dimana bara api kebangsaan mulai berkembang di STOVIA atau School tot Opleiding van Indische Artsen, yang juga dikenal sebagai  Dokter-Jawa School dan Soetatmo Surjokoesoemo serta Soewardi Suryaningrat yang kelak menjadi tokoh-tokoh  Taman Siswa belajar di sekolah dokter Jawa tersebut . 

Gedong_Stovia

Mungkin juga STOVIA adalah rahmat tersembunyi bagi bangsa ini untuk memerdekakakn diri karena para dokter Jawa di sekolah gratisan, yang didisain oleh Belanda untuk menangani masalah kesehatan di Hindia Belanda yang banyak dan tidak bisa ditangani oleh dokter-dokter Belanda itu, bukan saja memperoleh pengetahuan namun juga terbangun kesadaran kebangsaan mereka.

Stovia-fac

 

Dr Wahidin Soediro Hoesodo, dr Tjipto Mangun Koesoemo, dr Soetomo, dr Gunawan, dr Radjiman Wediodiningrat, Douwes Decker adalah tokoh-tokoh di STOVIA. Juga, Soetamo Suryo Koesoemo dan Suwardi Suryaningrat yang belajar di STOVIA, maka mereka juga terlibat dalam membahas masalah kebangsaan.

 

Setelah selesai pendidikan di STOVIA dr Wahidin Soediro Hoesodo bekerja di Jogja dan kemudian menoreh sejarah dengan mendirikan “Studiefonds”1 dengan anggota Pangeran Notodirogjo, R. Dwidjosewojo, Budiardjo, R. Sosrosoegondo, dll. Kemudian dr. Wahidin Soedirohoesodo mendatangi karesidenan-karesidenan di Jawa untuk menarik perhatian para Bupati dan orang-orang terkemuka  guna memperoleh bantuan untuk pendidikan bagi anak-anak pribumi di Jawa. Dalam penuturan Ki Hadjar, dr Wahidin sampai duduk bersila menyembah asisten keresidenan dalam upaya tersebut.

 

4207364475_81bd0e9019

Apa yang dilakukan oleh dr Wahidin kemudian memberi inspirasi bagi dr Soetomo dkk untuk mendirikan Boedi Oetomo yang berarti Budi yang Luhur, pada 20 Mei 1908. Ki Hadjar menyebut fasa antara Boedi Oetomo dengan Proklamasi Kemerdekaan adalah fasa Revolusi Optima. Secara teknis matematik, istilah itu berarti given available constraints the objective function had been maximized. Istilah Revolusi Optima tersebut juga memberi gambaran rentang waktu 37 tahun yang harus dilalui dengan darah pergerakan yang dihukum mati dan tangis serta kecerdasan kolektif bangsa dalam mewujudkan tujuan dengan mempersatukan potensi keanekaragaman bangsa yang sedang berkembang dan mencari jati diri. 

Fakta menunjukkan bahwasebelum Boedi Oetomo berdiri, sudah muncul Serikat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905 dan kemudian kemudian muncul aneka pergerakan dengan identitasnya masing-masing, seperti Serikat Islam 1912.

Selanjutnya, tiga tokoh STOVIA, yaitu dr Tjipto Mangoen Koesoemo, dr Doewes Decker, dan Suwardi Suryaningrat mendirikan Indsche Partij sebagai partai politik pertama di pemerintahan Hindia Belanda dengan statuen akan melakukan segala usaha yang menuju kemerdekaan Nusa dan Bangsa. Ketiga tokoh yang terlibat dalam  Indische Partij memang tokoh-tokoh revolusioner dan garis keras kaum pergerakan dalam sikap dan tulisan terhadap Belanda. Akibat tulisan terkenal Suwardi di De Expres, “Als Ik Een Nederlander Was”  maka ketiga tokoh revolusioner tersebut, akibat gerakan ini, Douwes Dekker ke Kupang, Dr Tjipto ke Banda Neira, dan RM Soerjadi Soeryaningrat ke Bangka. Kemudian, atas usaha bersama kaum pergerakan, kalau sekarang saweran,  Tiga Serangkai itu kemudian pergi ke Belanda dengan harapan untuk melanjutkan perjuangan.

 

Time Line

Tokoh tiga serangkai tersebut pulang ke Indonesia dalam waktu tidak bersamaan. Di pengasingan Belanda ini adalah tonggak perubahan pemikiran Rm Suryadi Suryaningrat karena disana dia bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, dan ini seperti yang diharapkan ketika berangkat. Tahun 1913 – 1915 RMSS menempuh pendidikan Paedagogie di Nederland hingga mendapatkan sertifikat sebagai pengajar Eropa. Sementara isterinya RAy Soetartinah Sasraningrat (RSS) mengajar Kinder Garten di Frobel School yaitu sekolah anak-anak dengan sistem Frobel.  Juga, beliau  mempelajari pemikiran tokoh-tokoh pendidikan seperti Friederich Wilhelm August Fröbel dan Maria Montessori.

Tahun 1919, RM Soewardi Suryaningrat pulang ke Indonesia dan kemudian membantu kakaknya di Surabaya dalam bidang Pendidikan.

 

Tahun 1920, adalah tahun yang membuat bingung kaum pergerakan, maka dalam kebingungan itu Ki Ageng Suryomentaram putra HB VII dan Ki Soetatmo Soeryokoesoemo, keduanya nasionalis revolusioner memprakarsai Gerakan Selasa Kliwonan atau Sa-Ka  atau Malam Selasa Kilwon. Senin Wage Malam disebut malam Selasa Kliwon memang merupakan hari istimewa menurut kepercayaan orang Jawa untuk tirakatan atau tidak tidur guna “maneges” atau “nggegayuh” atau foresight. Gerombolan SA-KA atau Selasa Kliwonan itu , menurut Ki Hadjar, bertemu setiap malam Selasa Kliwon untuk maneges mengenai kebangsaan. Pembahasan berkisar pada Hamemayu Hayuning Sarira, Hamemayu Hayuning Bangsa, dan Hamemayu Hayuning Manungso2.

 

kas_soekarno

Soekarno muda bertemu dengan Ki Ageng Suryo Mataram di rumahnya di Blitar ketika Ki Ageng Suryomentaram dalam rangka Kondho-Takon ke daerah-daerah berkunjung ke ayah Soekarno. Ki Ageng Suryo Mentaram  putra HB VII mengajukan keinginannya untuk melepas gelar kepangeranannya kepada HB VII ayahnya guna menolak pemberian gaji dari Belanda dan lebih baik hidup di luar istana tanpa gelar Pangeran sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.  Maka, kedekatan gerombolan Selasa Kliwonan itu tampak di foto di atas dimana Ki Ageng Suryo Mataram pada awalnya dilarang masuk ke istana karena pakaian kumalnya,

Foto di atas

 

KHD sejak STOVIA

 

Output dari pertemuan SA-KA atau Selasa Kliwonan adalah Perguruan Nasional Taman Siswa atau Onderwisj Instituut Taman Siswa, dan itu menandai berakhirnya SA-KA karena tujuan telah tercapai3.

 

Dalam perjalanan Perguruan nasional Taman Siswa, Belanda merasa terancam kemudian mengeluarkan Wilde Schoolen Ordonantie, yang ditentang gigih oleh teman-teman kaum pergerakan termasuk Boedi Oetomo dan membuat peraturan yang melarang Taman Siswa tersebut dicabut. Namun ketika Jepang datang, kembali Taman Siswa dilarang oleh pemerintah Jepang dan kembali Ki Hadjar harus berjuang untuk menentangnya dan berhasil. Tahun 1942, Ki Hadjar bersama Soekarno, Hatta, dan K.H Mansyur mendirikan PUTERA atau Pusat Tenaga Rakyat.

 

KHD-Proklamasi

Setelah Kemerdekaan, sesuai dengan hasil SA-KA berarti tujuan Taman Siswa sudah selesai, namun RUB 1946 menghendaki lain dan kemudian dibentuk sebuah tim yang diketahui oleh Ki Mangoen Sarkara dan membuahkan Dasar-Dasar Taman Siswa yang memuat Protokol 1922 yaitu Panca Darma.

Selanjutnya, antara tahun 1945 – 1950 pemerintah NKRI berada di Jogja. Ada tiga Menteri Pendidikan yang berasal dari Taman Siswa yaitu Ki Hadjar, Ki Mangoen Sarkara, dan Ki Sarino.

 

 

_________________

1   Ki Hadjar Dewantara, Dari Kebangkitan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan, Penerbit Endang jakarta, 1952, hal. 64

2   Ki Hadjar Dewantara, Demokrasi dan Leiderschap, Majelis Luhur Taman Siswa, 1964, hal 6.

3   ————-, 6

Leave a Reply